Market Hari Ini 30 Sep 2024 Penulis: Yunila Wati Editor: Tim Editorial

Sektor Properti Menggeliat, SSIA Kian Kuat

Sektor Properti Menggeliat, SSIA Kian Kuat
Sektor Properti Menggeliat, SSIA Kian Kuat

Daftar Isi

  1. 01 Analisis Pertumbuhan dan Profitabilitas
  2. 02 Aksi Tebar Saham
  3. 03 Sekilas Tentang SSIA

KABARBURSA.COM - PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) dikenal sebagai emiten yang bergerak di bidang properti dan infrastruktur. Berdasarkan rasio harga terhadap pendapatan (PE) terkini yang dihasilkan selama 12 bulan terakhir (TTM), perusahaan ini mencatatkan angka PE 18,56—lebih tinggi dibandingkan median IHSG sebesar 7,89. Namun, forward PE Ratio di level 9,00 menunjukkan valuasi yang lebih menarik ke depan, mengindikasikan potensi pertumbuhan laba yang kuat.

Perusahaan juga mencatat Yield Pendapatan sebesar 5,39 persen, yang artinya setiap Rp100 yang diinvestasikan menghasilkan Rp5,39 laba bersih. Selain itu, Price to Book Value (PBV) berada di angka 1,16, menunjukkan bahwa harga sahamnya tidak jauh berbeda dengan nilai bukunya. Ini bisa menjadi sinyal bahwa saham SSIA dihargai secara wajar di pasar saat ini.

Analisis Pertumbuhan dan Profitabilitas

Dari sisi profitabilitas, SSIA mencatat margin laba bersih 9,64 persen di kuartal terakhir. Pendapatan perusahaan meningkat signifikan secara tahunan (YoY) sebesar 42,18 persen. Pertumbuhan laba bersih juga luar biasa, naik 387,65 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menunjukkan bahwa perusahaan ini berhasil memaksimalkan efisiensi operasionalnya.

Rasio solvabilitasnya pun cukup kuat. Current Ratio berada di level 3,49 dan Quick Ratio di 3,31, yang menandakan bahwa SSIA memiliki kemampuan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Dengan Debt to Equity Ratio hanya sebesar 0,46, perusahaan ini memiliki tingkat utang yang sehat, jauh di bawah industri properti yang umumnya memiliki leverage lebih tinggi.

SSIA memiliki cadangan kas yang sangat baik sebesar Rp3,7 triliun, jauh lebih besar dari total utangnya yang hanya Rp2,4 triliun. Hal ini membuat SSIA berada dalam posisi likuid yang baik untuk mendukung ekspansi atau menghadapi tantangan ekonomi ke depan. Arus kas operasionalnya pun positif di angka Rp184 miliar selama 12 bulan terakhir.

Melihat Keunggulan Kompetitif dan Valuasi

Dalam menganalisis saham dengan pendekatan Warren Buffett, fokus utama adalah pada valuasi dan keunggulan kompetitif. SSIA memiliki modal yang kuat dan rekam jejak pertumbuhan pendapatan yang solid. Meskipun margin labanya tidak terlalu tinggi dibandingkan perusahaan global, proyeksi pertumbuhan dan perolehan laba yang terus membaik menunjukkan bahwa saham ini memiliki potensi untuk bertumbuh lebih lanjut, terutama jika strategi ekspansi properti dan infrastrukturnya berhasil.

Dengan rasio Price to Earnings Growth (PEG) di angka 0,71, ini menunjukkan bahwa SSIA diperdagangkan dengan valuasi yang wajar dibandingkan pertumbuhan labanya. Buffet sering kali berfokus pada saham dengan rasio PEG di bawah 1, karena ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan laba perusahaan lebih cepat dibandingkan harganya.

Saham PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) saat ini berada di level Rp1.325 per lembar, dengan proyeksi breakout di Rp1.340. Bagi investor yang ingin memaksimalkan potensi keuntungan, saham ini direkomendasikan untuk dibeli setelah menembus level tersebut. Target harga berada di kisaran Rp1.420 hingga Rp1.500, dengan batas kerugian di bawah Rp1.270.

Secara keseluruhan, PT Surya Semesta Internusa Tbk menawarkan peluang investasi yang menarik bagi investor yang mencari saham berpotensi pertumbuhan tinggi dengan valuasi yang wajar. Meskipun ada beberapa risiko seperti fluktuasi pasar properti, rasio keuangan yang kuat dan prospek pertumbuhan perusahaan menjadi alasan utama untuk mempertimbangkan saham ini dalam portofolio.

Aksi Tebar Saham

Beberapa hari lalu, Direktur PT Surya Semesta Internusa Tbk Wilson Effendy, melakukan aksi tebar saham dengan tujuan untuk mengurangi porsi kepemilikan sahamnya di perseroan. Wilson menjual sebanyak 202.800 lembar saham SSIA di harga Rp1.325-Rp1.380 per saham pada 18 dan 19 September 2024.

Pasca transaksi pembelian, kepemilikan saham Wilson berkurang sebanyak 5,16 juta lembar saham atau setara dengan 0,001 persen dibandingkan sebelumnya yang tercatat sebanyak 5,36 juta lembar saham atau setara dengan 0,011 persen.

Sekilas Tentang SSIA

PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) adalah perusahaan terkemuka di Indonesia yang bergerak dalam berbagai sektor, termasuk pengembangan properti, konstruksi, dan infrastruktur. Berdiri sejak tahun 1971, SSIA telah mengembangkan beragam proyek seperti kawasan industri, hotel, properti komersial, dan perumahan.

Beberapa anak usaha utama yang dimiliki oleh SSIA antara lain PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA), yang bergerak di sektor konstruksi, dan PT Suryacipta Swadaya, yang mengelola kawasan industri.

SSIA mengelola dan mengembangkan berbagai proyek properti, termasuk kawasan industri Suryacipta City of Industry di Karawang. Melalui anak usahanya PT Nusa Raya Cipta Tbk, SSIA bergerak di bidang jasa konstruksi, yang mencakup pembangunan gedung dan infrastruktur.

SSIA juga memiliki dan mengelola beberapa hotel di bawah merek seperti Gran Melia dan Melia Bali.(*)

Disclaimer: Artikel ini bukan untuk mengajak, membeli, atau menjual saham. Segala rekomendasi dan analisa saham berasal dari analisis atau sekuritas yang bersangkutan, dan  Kabarbursa.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian investasi yang timbul. Keputusan investasi ada di tangan investor. Pelajari dengan teliti sebelum membeli/menjual saham.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait