Setelah Lonjakan Tajam, Harga Batu Bara Kembali ke Kisaran USD130

Harga batu bara turun ke USD130 per ton setelah sempat menyentuh USD150. Penurunan terjadi saat harga minyak melemah meski konflik Timur Tengah masih berlangsung.

Harga batu bara dunia turun ke USD130 per ton setelah sempat melonjak ke USD150. Koreksi terjadi saat harga minyak melemah di tengah konflik Timur Tengah.

Harga batu bara dunia turun ke USD130 per ton setelah sempat melonjak ke USD150. Koreksi terjadi saat harga minyak melemah di tengah konflik Timur Tengah. Foto: Minetech Indonesia.
Harga batu bara dunia turun ke USD130 per ton setelah sempat melonjak ke USD150. Koreksi terjadi saat harga minyak melemah di tengah konflik Timur Tengah. Foto: Minetech Indonesia.

KABARBURSA.COM — Harga batu bara dunia mulai terkoreksi pada Kamis, 12 Maret 2026, setelah sempat melonjak tajam pada awal pekan. Penurunan harga terjadi seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.

Data Trading Economics menunjukkan harga batu bara kini bergerak di kisaran USD130 per ton atau sekitar Rp2,2 juta per ton setelah sebelumnya sempat menembus USD150 per ton atau sekitar Rp2,5 juta per ton pada awal pekan ini.

Koreksi harga tersebut terjadi setelah harga minyak dunia ikut turun dari level tinggi. Harga minyak sebelumnya sempat melonjak di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Namun belakangan harga minyak kembali turun hingga berada di bawah USD90 per barel atau sekitar Rp1,5 juta per barel setelah Amerika Serikat dan sejumlah negara ekonomi besar mengambil langkah untuk menekan biaya energi.

Meski demikian, situasi di kawasan Timur Tengah masih jauh dari stabil. Konflik bersenjata di kawasan tersebut terus berlangsung tanpa tanda-tanda akan segera mereda. Selain itu jalur energi strategis dunia di Selat Hormuz masih berada dalam kondisi tertutup secara efektif. Kondisi ini memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global.

Di sisi lain gangguan juga terjadi pada sektor gas alam cair. Salah satu fasilitas ekspor LNG terbesar di Qatar dilaporkan menghentikan pengiriman selama lima hari berturut-turut. Gangguan tersebut menjadi yang terlama sejak 2008 dan meningkatkan risiko kenaikan harga bahan bakar di pasar global.

“Guncangan pasokan pada minyak dan gas biasanya mendorong peningkatan penggunaan bahan bakar alternatif di sektor pembangkit listrik,” demikian keterangan Trading Economics.

Sejumlah negara Asia yang selama ini bergantung pada pasokan LNG dari Qatar berpotensi menghadapi tekanan pasokan energi. Jika gangguan tersebut berlangsung lebih lama, negara-negara di kawasan ini kemungkinan akan meningkatkan penggunaan pembangkit listrik berbasis batu bara.

“Dengan banyaknya ekonomi Asia yang bergantung pada LNG Qatar, kawasan ini dapat terpaksa meningkatkan pembangkitan listrik berbasis batu bara jika gangguan berlanjut,” tulis Trading Economics.

Selain itu batu bara juga semakin dipandang memiliki peran strategis bagi China. Negara tersebut memanfaatkan batu bara tidak hanya sebagai cadangan energi tetapi juga sebagai bahan baku penting bagi industri kimia.

“Batu bara juga semakin memiliki arti strategis bagi China baik sebagai penyangga energi maupun sebagai bahan baku utama bagi industri kimia,” tulis Trading Economics.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait