KABARBURSA.COM - PT Semen Indonesia (Persero) Tbk atau SIG (SMGR) saat ini tengah fokus memperkuat penetrasi pasar ekspor sebagai langkah strategis untuk meningkatkan utilisasi pabrik, dan memperluas peluang pasar produk derivatif bernilai tambah.
Mengutip situs resmi perusahaan, melalui anak usaha, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk bersama Taiheiyo Cement Corporation, SIG telah menyelesaikan proyek pengembangan dermaga dan fasilitas produksi untuk ekspor di Tuban, Jawa Timur yang ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan tahun 2026.
Fasilitas tersebut akan menjadi basis penguatan ekspor SIG sekaligus membuka peluang peningkatan margin usaha di tengah kompetisi pasar domestik yang semakin ketat.
Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni mengatakan rampungnya fasilitas ekspor di Tuban menjadi tonggak penting bagi SIG untuk memperkuat posisi di pasar internasional.
"Ekspor akan menjadi instrumen strategis untuk mengoptimalkan utilisasi sekaligus mendukung pertumbuhan profitabilitas Perseroan,” ujar dia dalam keterangannya dikutip, Minggu, 10 Mei 2026.
Di sisi operasi, SIG juga terus memperkuat efektivitas transformasi melalui pengelolaan pasar mikro, optimalisasi portofolio produk, serta efisiensi biaya.
Strategi tersebut membantu Perseroan menjaga kinerja di tengah kenaikan harga energi dan permintaan pasar domestik yang baru menunjukkan geliat pada awal tahun ini.
Adapun pada kuartal I tahun 2026, SIG membukukan pendapatan sebesar Rp8,29 triliun atau tumbuh 8,3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), dengan laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat signifikan sebesar 88,7 persen menjadi Rp80 miliar. Volume penjualan juga naik 1,7 persen yoy menjadi 8,71 juta ton.
Vita mengatakan, capaian tersebut menunjukkan strategi transformasi yang dijalankan Perseroan berhasil menjaga resiliensi bisnis sekaligus memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang.
Selain mencatat pertumbuhan penjualan domestik sebesar 5,4 persen yoy, SIG juga berhasil menurunkan biaya keuangan bersih sebesar 35,4 persen yoy melalui pengelolaan keuangan yang lebih optimal. (*)