KABARBURSA.COM — Dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan taringnya di pasar keuangan global pada perdagangan Kamis, 18 Juni 2026 WIB. Mata uang Negeri Paman Sam itu melanjutkan penguatan terhadap euro setelah bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve memutuskan menahan suku bunga acuannya.
Meski suku bunga tidak berubah, pasar menangkap sinyal yang jauh lebih penting. Dalam pernyataan resminya, Federal Reserve mengindikasikan para pembuat kebijakan masih melihat peluang kenaikan biaya pinjaman pada tahun ini. Sikap tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap tekanan inflasi yang belum sepenuhnya jinak.
Respons pasar pun langsung terlihat. Dilansir dari Reuters, Kamis, Euro melemah 0,5 persen terhadap dolar AS dan diperdagangkan di level USD1,1553 atau sekitar Rp19.640 per euro.
Di sisi lain, dolar sempat memangkas pelemahannya terhadap yen Jepang. Pada akhir perdagangan, mata uang AS itu bergerak relatif stabil di kisaran 160,435 yen per dolar AS.
Penguatan dolar AS pasca keputusan Federal Reserve juga tercermin dalam pergerakan Indeks Dolar AS atau DXY. Indikator yang mengukur kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia itu tercatat naik ke level 100,07. Kenaikan tersebut menunjukkan pelaku pasar masih memburu aset berbasis dolar setelah bank sentral Amerika Serikat memberi sinyal bahwa peluang kenaikan suku bunga masih terbuka di tengah tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda.
Di pasar surat utang, respons serupa juga terlihat. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun atau US Treasury 10Y naik ke kisaran 4,47 persen dari sekitar 4,43 persen sebelum pengumuman The Fed. Kenaikan yield mengindikasikan investor menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS yang berpotensi tetap ketat dalam beberapa waktu ke depan.
Situasi tersebut turut memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Di pasar valuta asing, kurs rupiah bergerak di kisaran Rp17.967 hingga Rp18.088 per dolar AS. Posisi tersebut mencerminkan kuatnya tekanan eksternal yang berasal dari penguatan dolar global dan meningkatnya daya tarik aset keuangan Amerika Serikat.
Kombinasi penguatan DXY, naiknya imbal hasil obligasi AS, serta melemahnya mata uang negara berkembang menunjukkan bahwa pasar masih menempatkan dolar sebagai aset utama di tengah ketidakpastian arah inflasi dan suku bunga global. Selama ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat bertahan, tekanan terhadap mata uang lain, termasuk rupiah, diperkirakan masih akan berlanjut.(*)