Market Hari Ini 03 Jun 2026 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

SMAR Dikepung Aksi Korporasi Jelang Cum Date, Ada Apa?

Jelang cum date dividen Rp270 per saham, SMAR menyelesaikan merger anak usaha dan menawarkan buyback Rp5.265 per saham. Namun harga saham justru masih tertahan.

SMAR membagikan dividen Rp270 per saham, menyelesaikan merger anak usaha, dan menawarkan buyback Rp5.265. Bagaimana respons pasar?

SMAR menyiapkan dana sekitar Rp775,49 miliar atau setara Rp270 per saham yang akan dibayarkan pada 18 Juni 2026. (Foto: dok SMAR)
SMAR menyiapkan dana sekitar Rp775,49 miliar atau setara Rp270 per saham yang akan dibayarkan pada 18 Juni 2026. (Foto: dok SMAR)

KABARBURSA.COM - Dalam hitungan pekan sebelum cum date dividen 4 Juni 2026, emiten sawit milik Grup Sinar Mas PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) menghadirkan serangkaian aksi korporasi. 

Dimulai dengan pelaksanaan hak jual saham bagi pemegang saham yang menolak merger, hingga penyelesaian penggabungan entitas anak usaha. Pasar bukan hanya sedang menghitung besaran dividen Rp270 per saham yang akan diterima, tetapi sedang mencoba memahami dampak jangka panjang dari langkah restrukturisasi yang dilakukan perseroan.

Dari sisi dividen, SMAR tergolong cukup royal. Perseroan menyiapkan dana sekitar Rp775,49 miliar atau setara Rp270 per saham yang akan dibayarkan pada 18 Juni 2026. Dengan cum date jatuh pada 4 Juni, seharusnya saham memiliki daya tarik tambahan bagi investor yang berburu dividen.

Namun yang menarik, perhatian pasar tampaknya tidak hanya tertuju pada pembagian laba tersebut.

Pada saat yang hampir bersamaan, SMAR juga membuka kesempatan bagi pemegang saham yang tidak menyetujui aksi merger untuk menjual saham mereka kepada perseroan dengan harga Rp5.265 per saham. Harga ini berada di atas penutupan perdagangan terakhir yang berada di level Rp4.750.

Selisih tersebut menciptakan semacam "jangkar valuasi" di benak investor. Ketika pasar mengetahui ada harga referensi Rp5.265 dalam aksi pembelian kembali saham, maka secara psikologis area tersebut menjadi patokan untuk menilai apakah harga pasar saat ini sudah terlalu murah atau masih memiliki ruang kenaikan.

Di sisi lain, merger yang dilakukan sebenarnya tidak mengubah struktur kepemilikan maupun kendali perusahaan. Perseroan hanya menggabungkan PT Perusahaan Perkebunan Panigoran, anak usaha yang dimiliki 100 persen, ke dalam tubuh SMAR. 

Secara ekonomi, transaksi ini tidak menciptakan perpindahan aset ke pihak luar. Namun langkah tersebut menunjukkan upaya penyederhanaan struktur usaha yang biasanya dilakukan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan administrasi.

Meski begitu, respons pasar sejauh ini masih terbilang hati-hati.

Pada perdagangan 3 Juni 2026, sehari menjelang cum date, saham SMAR ditutup di level Rp4.750 atau turun 2,46 persen dari penutupan sebelumnya. Sepanjang perdagangan, saham sempat menyentuh level tertinggi Rp4.930 sebelum akhirnya melemah hingga mendekati area Rp4.650.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya larut dalam euforia dividen maupun aksi korporasi yang dilakukan perseroan.

Gambaran serupa terlihat dari orderbook. Di sisi bid, antrean beli terbesar terkonsentrasi pada area Rp4.650 hingga Rp4.700. Sementara di sisi offer, antrean jual relatif tipis tetapi tersebar merata hingga area Rp4.900. 

Menariknya, posisi harga saat ini masih berada sekitar 10 persen di bawah harga penawaran buyback sebesar Rp5.265 per saham. Artinya, pasar masih memberikan diskon terhadap valuasi yang secara implisit ditawarkan perseroan kepada pemegang saham yang memilih keluar dari skema merger.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait