Market Hari Ini 19 Sep 2024 Penulis: Yunila Wati Editor: Tim Editorial

SMRA Catat Kinerja Kuat di Kuartal II 2024, Anak Usaha Bersiap IPO

SMRA Catat Kinerja Kuat di Kuartal II 2024, Anak Usaha Bersiap IPO
SMRA Catat Kinerja Kuat di Kuartal II 2024, Anak Usaha Bersiap IPO

Daftar Isi

  1. 01 Pendapatan Segmen Residensial Melonjak Tajam
  2. 02 Indikasi IPO Anak Usaha Semakin Kuat
  3. 03 Prospek dan Sentimen Positif dari Pemotongan Suku Bunga

KABARBURSA.COM - Summarecon Agung Tbk (SMRA), salah satu pengembang properti terkemuka di Indonesia, mencatat kinerja keuangan yang sangat kuat pada kuartal kedua 2024. Dengan capaian laba bersih yang signifikan serta potensi IPO anak usaha, SMRA memperlihatkan momentum positif di tengah pemotongan suku bunga oleh The Fed dan Bank Indonesia.

Pada semester pertama tahun 2024 (1H24), laba bersih SMRA mencapai Rp754 miliar, meningkat 71 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (YoY). Kinerja ini sudah memenuhi 81 persen dari estimasi konsensus untuk tahun fiskal 2024 (FY24F), menandakan bahwa perusahaan berada pada jalur yang kuat untuk memenuhi target tahunannya.

Mengutip hasil riset Stockbit Sekuritas, Kamis, 19 September 2024, kinerja SMRA sedikit tertutupi oleh beban one-off sebesar Rp402 miliar akibat pajak bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB). Pajak ini terkait dengan penjualan Summarecon Mal Kelapa Gading ke anak usaha, PT Summarecon Investment Property (SMIP). Meskipun demikian, laba operasional perusahaan tetap sangat kuat, dengan capaian sebesar Rp1,5 triliun pada kuartal kedua 2024 (2Q24), naik 233 persen YoY dan 111 persen dibandingkan kuartal sebelumnya (QoQ).

Secara keseluruhan, laba operasional SMRA untuk 1H24 tercatat sebesar Rp2,2 triliun, yang telah melampaui 103 persen dari estimasi konsensus FY24F. Capaian ini menunjukkan kekuatan operasional SMRA, bahkan dengan adanya beban pajak yang signifikan.

Pendapatan Segmen Residensial Melonjak Tajam

Pendorong utama pertumbuhan laba SMRA adalah lonjakan pendapatan dari segmen residensial. Pada 2Q24, pendapatan residensial mencapai Rp3,5 triliun, melonjak 137 persen YoY dan 66 persen QoQ. Peningkatan tajam ini didukung oleh stabilitas margin laba kotor, yang naik 30 basis poin (bps) YoY dan 140 bps QoQ, memberikan efek leverage operasional yang signifikan bagi SMRA.

Pendapatan dari segmen residensial juga menunjukkan lonjakan sebesar 398 persen YoY dan 115 persen QoQ, berkontribusi sebesar 68 persen dari total pendapatan perusahaan pada kuartal tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap properti residensial SMRA tetap tinggi, bahkan di tengah kondisi ekonomi global yang masih penuh tantangan.

Indikasi IPO Anak Usaha Semakin Kuat

Salah satu langkah strategis penting yang diambil SMRA adalah penjualan Summarecon Mal Kelapa Gading ke SMIP, yang dipandang sebagai bagian dari restrukturisasi perusahaan untuk mempersiapkan IPO SMIP. Selain itu, SMRA juga mencatat adanya biaya prabayar sebesar Rp11 miliar yang ditujukan sebagai "biaya IPO entitas anak," semakin menguatkan indikasi bahwa SMIP akan segera melantai di bursa.

IPO ini diperkirakan akan menjadi katalis positif bagi SMRA, mengingat pemotongan suku bunga oleh The Fed dan Bank Indonesia yang memberikan sentimen positif bagi pasar modal. IPO ini juga diharapkan dapat "unlock value" atau membuka potensi nilai lebih dari aset-aset yang dimiliki oleh SMRA, terutama melalui SMIP.

Untuk diketahui, PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA) telah menandatangani perjanjian penyediaan jasa teknis dengan PT Summarecon Investment Property (SMIP) pada 3 September 2024. Perjanjian ini mencakup Jasa Corporate Services yang meliputi sistem manajemen untuk sumber daya manusia (HR), keuangan dan akuntansi, perpajakan, hukum, serta teknologi informasi.

Selain itu, terdapat perjanjian terkait akuisisi tanah, di mana SMRA akan memberikan penawaran pertama kepada SMIP untuk properti seperti mal, hotel, kantor, atau lainnya jika SMRA membuka wilayah perumahan baru. Seperti dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat 6 September 2024.

Pembayaran oleh SMIP kepada SMRA akan dilakukan sesuai kesepakatan yang ditentukan dari waktu ke waktu. Ketiga perjanjian ini berlaku selama 10 tahun dan dapat diperpanjang atas persetujuan kedua pihak.

Lydia Tjio, Corporate Secretary SMRA, menjelaskan bahwa karena SMIP merupakan entitas terkendali dengan kepemilikan 99,99 persen, transaksi ini termasuk transaksi afiliasi yang dikecualikan dari kewajiban regulasi OJK, namun tetap harus dilaporkan kepada OJK paling lambat 2 hari setelah tanggal transaksi.

Prospek dan Sentimen Positif dari Pemotongan Suku Bunga

Keputusan The Fed untuk memangkas suku bunga acuan sebesar 50 basis poin, serta langkah serupa dari Bank Indonesia, menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi sektor properti. Dengan biaya pinjaman yang lebih rendah, permintaan terhadap properti, khususnya dari segmen residensial, berpotensi meningkat. Hal ini diperkirakan akan semakin mendukung kinerja SMRA di sisa tahun 2024.

Summarecon Agung (SMRA) menunjukkan kinerja keuangan yang kuat pada 2Q24, meskipun terdapat beban one-off dari pajak BPHTB. Peningkatan signifikan dalam pendapatan residensial menjadi pendorong utama pertumbuhan laba perusahaan.

Di sisi lain, indikasi IPO anak usaha SMIP semakin jelas, dengan langkah restrukturisasi yang dilakukan perusahaan untuk mempersiapkan IPO tersebut. Sentimen positif dari pemotongan suku bunga oleh The Fed dan Bank Indonesia diperkirakan akan semakin mendorong kinerja SMRA ke depannya, menjadikan SMRA sebagai salah satu emiten properti yang menarik di pasar saham Indonesia.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait