KABARBURSA.COM – PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL), atau yang lebih dikenal dengan Sritex, resmi dinyatakan pailit setelah bertahun-tahun bergulat dengan beban utang yang kian membengkak. Perusahaan tekstil terbesar di Indonesia ini mengalami krisis keuangan serius akibat tingginya pinjaman yang gagal dilunasi, ditambah dengan tekanan dari kreditur yang akhirnya membawa perusahaan ini ke pengadilan niaga. Dengan putusan pailit yang diketok palu, Sritex kini menghadapi proses likuidasi aset demi melunasi kewajiban finansialnya yang mencapai triliunan rupiah.
Kondisi keuangan Sritex telah menunjukkan tanda-tanda keretakan sejak beberapa tahun terakhir. Penurunan kinerja industri tekstil, tingginya biaya produksi, serta melemahnya daya beli masyarakat membuat arus kas perusahaan semakin tertekan. Berdasarkan laporan keuangan terakhir sebelum putusan pailit, total utang Sritex melampaui kapasitas pembayaran, memaksa manajemen mengajukan restrukturisasi yang pada akhirnya menemui jalan buntu. Kreditur besar, termasuk bank dan pemegang obligasi, kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan Sritex untuk bangkit kembali, sehingga memicu proses hukum yang berujung pada kebangkrutan.
Kondisi ini sangat kontras dengan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), yang justru berhasil menjaga kesehatan finansialnya dengan manajemen utang yang disiplin. Perusahaan yang dikenal sebagai produsen jamu terbesar di Indonesia ini menunjukkan kinerja cemerlang sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2024. SIDO membukukan penjualan bersih sebesar Rp2,63 triliun, naik 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersihnya pun meningkat 33 persen secara tahunan menjadi Rp778 miliar, mencerminkan efisiensi operasional yang semakin baik.