Market Hari Ini 16 Sep 2025 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

SRTG Tergelincir Sepekan, Sinyal Campuran: Kapan Momen Masuk yang Tepat?

Saham SRTG turun 6 persen sepekan dan ditutup di 1.880, teknikal netral dengan sinyal oversold. Analis BNI Sekuritas rekomendasikan speculative buy dengan area ketat.

SRTG koreksi 6 persen sepekan, teknikal netral cenderung lemah. Ada peluang pantulan oversold, tapi investor disarankan disiplin area beli dan cut loss.

Gedung PT Saratoga Investama Sedaya. Foto: Dok SRTG.
Gedung PT Saratoga Investama Sedaya. Foto: Dok SRTG.

KABARBURSA.COM - Harga saham Saratoga Investama Sedaya (SRTG) sepertinya belum mampu “move on” dari tekanan jual sepekan terakhir. Dalam lima hari, performa tergelincir 6 persen dan hari ini ditutup di 1.880 (-1,57 persen), menyentuh titik rendah sesi sekaligus berada tepat di bawah S1 harian (1.884). 

Secara lintas-periode, gambarnya cukup kontras. Satu bulan masih naik 3,01 persen dan tiga bulan +16,41 persen. Tetapi, YTD masih minus 10 persen dan setahun terakhir turun 23,89 persen. Pola ini menjelaskan mengapa setiap penguatan jangka pendek kerap diikuti profit taking.

Jika melihat dari teknikal harian, ada potret fase tarik-uluran yang wajar. Ringkasan indikator berada di “netral → cenderung lemah”, di mana RSI 49,7 netral; Stochastic 31 dan Williams %R -75 memberi sinyal jual.

StochRSI 9 serta Ultimate Oscillator 26 menunjukkan kondisi oversold, membuka peluang pantulan teknikal. Sementara MACD masih positif, menandakan momentum naik menengah belum sepenuhnya patah. 

Kekuatan tren pun tipis—ADX 11,9—sehingga arah harga mudah dipengaruhi arus order harian.

Rerata bergerak juga terbagi dua. MA5/10/20 seragam jual (tekanan jangka pendek), sedangkan MA50/100/200 masih beli (struktur menengah panjang terjaga). 

Dengan ATR 114 (volatilitas tinggi), area teknikal menjadi kunci, dukungan terdekat 1.870–1.884 (DeMark S1 & S1 klasik), dengan penopang berikutnya di 1.857 dan 1.819. Di atas, pivot 1.922 adalah gerbang yang harus direbut kembali; setelah itu resistensi 1.949–1.962 dan 1.987–2.014.

Bagaimana dengan call speculative buy dari BNI Sekuritas di 1.900–1.910 dengan cut loss di bawah 1.890? Pada harga penutupan 1.880, level cut loss itu sudah tersentuh, sehingga skenario beli spekulatif tadi tidak valid tanpa re-entry trigger. 

Secara taktikal, dua jalur masuk terlihat lebih disiplin. Pertama, untuk trader agresif: berburu pantulan di area 1.870–1.884 hanya jika muncul sinyal balik (mis. candle reversal/volume menguat), stop ketat 1.865–1.870, target awal 1.925–1.945. 

Kedua, untuk pendekatan konservatif: tunggu penutupan kembali di atas 1.922 (pivot) agar peluang berlanjut ke 1.949–1.962 lalu 1.987–2.014 lebih sehat risikonya.

Intinya, penurunan sepekan adalah kombinasi profit taking pada zona resistensi jangka pendek dan melemahnya momentum harian, bukan perubahan tren menengah yang tegas. 

Dengan indikator momentum yang mulai oversold, SRTG berpotensi memantul, tetapi konfirmasi level 1.922 akan menjadi pembeda antara sekadar dead-cat bounce dan lanjutan uptrend menengah. 

Bagi pemegang lama, hold dengan rencana risiko jelas di bawah 1.870; bagi calon pembeli, pilih antara buy on weakness terkonfirmasi di 1.870–1.884 atau buy on strength setelah close di atas 1.922.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait