Market Hari Ini 10 Jun 2026 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Sudah Babak Belur, Dua Sentimen ini Bikin Antam Berpeluang ke 4.000

ANTM diterpa foreign outflow Rp3,9 triliun dan keluar dari MSCI Small Cap. Namun valuasi hanya 7x PER dan dividend yield 10-11 persen membuatnya kembali menarik.

ANTM tertekan usai keluar dari MSCI, tetapi valuasi 7x PER dan dividend yield 10-11 persen membuka peluang kenaikan menuju Rp4.000.

Sejumlah analis mulai melihat ANTM sebagai salah satu peluang value investing yang menarik di Bursa Efek Indonesia. (Foto: dok Antam)
Sejumlah analis mulai melihat ANTM sebagai salah satu peluang value investing yang menarik di Bursa Efek Indonesia. (Foto: dok Antam)

Daftar Isi

  1. 01 Saham Sedang Diskon Besar
  2. 02 Potensi Dividen Yield 10-11 Persen
  3. 03 Investor Domestik Mulai Manfaatkan Valuasi Murah

KABARBURSA.COM Dalam beberapa bulan terakhir, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi salah satu saham yang paling sering membuat investor frustrasi. Harga terus tertekan, dana asing keluar tanpa henti, bahkan saham ini harus menerima kenyataan pahit terdepak dari indeks MSCI Small Cap pada rebalancing terbaru.

Di tengah sentimen yang kurang bersahabat itu, banyak investor memilih menjauh. Namun, sejumlah analis mulai melihat ANTM sebagai salah satu peluang value investing yang menarik di Bursa Efek Indonesia.

Pertanyaannya sederhana, apakah ANTM benar-benar sudah terlalu murah atau justru masih menyimpan risiko yang belum selesai?

Jika melihat pergerakan beberapa pekan terakhir, tekanan terhadap ANTM memang belum sepenuhnya hilang. Pada 3 Juni 2026 saham ini sempat anjlok 11,82 persen ke level 2.610, kemudian perlahan bangkit dan ditutup di level 2.800 pada perdagangan 10 Juni. 

Meski masih bergerak fluktuatif, saham ini mulai menunjukkan daya tahan yang lebih baik dibanding beberapa saham komoditas lainnya.

Yang membuat ANTM menarik bukan hanya soal pergerakan harga, melainkan valuasinya yang kini berada pada level yang relatif murah.

Saham Sedang Diskon Besar 

Saat ini ANTM diperdagangkan hanya sekitar tujuh kali price earning ratio (PER). Angka tersebut berada di bawah rata-rata perusahaan tambang logam global yang menjadi pembanding. Dengan valuasi seperti itu, pasar seolah memberikan diskon besar terhadap prospek perusahaan di masa depan.

Bahkan dengan asumsi konservatif apabila valuasi ANTM kembali mendekati rata-rata global yang telah didiskon di level 10 kali PER, maka nilai wajarnya diperkirakan berada di kisaran Rp4.000 per saham. Artinya, masih terdapat ruang kenaikan yang cukup besar dibanding posisi harga saat ini.

Potensi Dividen Yield 10-11 Persen

Daya tarik berikutnya datang dari dividen.

Di tengah ketidakpastian pasar, ANTM masih menawarkan potensi dividend yield sekitar 10 hingga 11 persen. Angka tersebut jauh di atas rata-rata deposito maupun sebagian besar saham di Bursa Efek Indonesia. 

Bagi investor jangka panjang, kombinasi valuasi murah dan dividen tinggi menjadi alasan yang cukup kuat untuk mulai memperhatikan saham ini.

Meski demikian, perjalanan ANTM tidak sepenuhnya mulus.

Keluarnya saham ini dari indeks MSCI Small Cap memicu gelombang penjualan investor asing yang nilainya diperkirakan mencapai sekitar Rp3,9 triliun sepanjang 2026. Data perdagangan juga menunjukkan pola yang sama.

Pada 3 Juni, investor asing mencatat penjualan bersih sekitar Rp106 miliar. Sehari kemudian net sell kembali mencapai Rp99 miliar, disusul Rp169 miliar pada 5 Juni dan Rp132 miliar pada 8 Juni. Bahkan ketika harga melonjak hampir 14 persen pada 9 Juni ke level 2.880, investor asing masih membukukan penjualan bersih sekitar Rp6 miliar.

Investor Domestik Mulai Manfaatkan Valuasi Murah

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga ANTM beberapa hari terakhir lebih banyak ditopang oleh investor domestik yang mulai memanfaatkan valuasi murah dibanding kembalinya dana asing ke pasar.

Namun justru kondisi inilah yang membuat banyak analis melihat peluang menarik.

Posisi investor asing yang relatif ringan membuat ruang tekanan jual semakin terbatas. Jika suatu saat MSCI kembali memasukkan ANTM ke dalam indeksnya atau terjadi perubahan sentimen terhadap pasar Indonesia, maka peluang masuknya kembali dana asing akan menjadi katalis positif yang signifikan.

Selain itu, ANTM juga masih memiliki cerita besar yang belum berubah, yaitu sebagai salah satu emiten logam terbesar di Indonesia yang memiliki eksposur terhadap emas, nikel, dan bauksit. Ketiga komoditas tersebut masih menjadi bagian penting dari rantai pasok industri global, terutama untuk kendaraan listrik, energi baru, dan aset lindung nilai seperti emas.

Di sisi lain, keberadaan Danantara sebagai sovereign wealth fund Indonesia juga membuat ANTM sering disebut sebagai salah satu proxy investasi pemerintah di sektor sumber daya alam strategis. Status tersebut memberikan persepsi bahwa perusahaan tetap memiliki posisi penting dalam agenda hilirisasi nasional.

Tentu saja risiko masih ada. Kebijakan pertambangan yang berubah sewaktu-waktu dapat memengaruhi kinerja perusahaan. Begitu pula apabila harga jual rata-rata komoditas atau average selling price (ASP) mengalami penurunan akibat perlambatan ekonomi global.

Namun jika seluruh sentimen negatif tersebut dibandingkan dengan valuasi yang saat ini hanya sekitar tujuh kali PER dan potensi dividend yield dua digit, banyak investor mulai melihat bahwa sebagian besar risiko tampaknya sudah tercermin dalam harga saham.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait