KABARBURSA.COM – PT Superbank Indonesia Tbk (SUPA) mulai bergerak lebih agresif dalam memperluas ekosistem digitalnya. Setelah mencatat pertumbuhan nasabah dan transaksi yang terus meningkat, bank digital ini kini menggandeng KakaoBank.
KakaoBank sendiri merupakan bank digital terbesar asal Korea Selatan. Adapun tujuannya, untuk memperkuat strategi pertumbuhan berbasis ekosistem.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui peluncuran produk tabungan berbasis gamification bernama Kartu Untung. Produk ini dirancang untuk meningkatkan loyalitas dan frekuensi transaksi nasabah di dalam ekosistem digital Superbank.
Presiden Direktur Superbank Tigor M Siahaan, mengatakan langkah tersebut diambil di tengah pertumbuhan aktivitas pengguna yang terus meningkat. Hingga saat ini, Superbank telah memiliki lebih dari 6 juta nasabah dengan aktivitas transaksi harian menembus lebih dari 1 juta transaksi per hari.
“Dengan rata-rata lebih dari 1 juta transaksi per hari, kami melihat adanya pergeseran perilaku masyarakat, khususnya generasi yang lebih melek digital, yang menginginkan layanan keuangan yang tidak hanya aman dan menguntungkan, tetapi juga engaging,” ujar Tigor, Rabu, 13 Mei 2026.
Kerja sama dengan KakaoBank bukan sekadar peluncuran produk baru. Langkah ini mulai dibaca sebagai upaya SUPA memperkuat diferensiasi di tengah persaingan bank digital yang semakin padat.
KakaoBank sendiri dikenal sebagai salah satu bank digital terbesar di Korea Selatan dengan model bisnis berbasis teknologi dan user engagement. Chief Executive Officer KakaoBank Yun Ho Young, menyebut kolaborasi dengan Superbank menjadi bagian dari pengembangan layanan finansial yang lebih dekat dengan generasi digital.
Dana Asing Jumbo Selalu Masuk
Di tengah ekspansi tersebut, pergerakan saham SUPA sejak IPO juga mulai menarik perhatian pasar. Sejak melantai di Bursa Efek Indonesia pada 17 Desember 2025, saham SUPA bergerak sangat fluktuatif dengan pola transaksi yang didominasi arus dana asing bernilai jumbo.
Pada hari IPO, saham SUPA ditutup melonjak 47,24 persen ke level 935 dari harga pembukaan 790. Nilai transaksi saat itu mencapai Rp3 triliun dengan volume perdagangan 30,49 juta lot dan frekuensi transaksi menembus 842 ribu kali.
Arus dana asing langsung masuk besar pada debut perdagangan tersebut. Investor asing membukukan net foreign buy sebesar Rp28,85 miliar pada hari pertama pencatatan saham.
Euforia pasar berlanjut pada Januari 2026 ketika saham SUPA sempat menyentuh level tertinggi 1.350. Nilai transaksi saat itu bahkan menembus Rp5,17 triliun dengan aktivitas perdagangan mencapai 46,75 juta lot saham.
Pada periode tersebut, investor asing kembali melakukan akumulasi besar dengan net foreign buy Rp47,84 miliar. Akumulasi asing makin agresif pada Februari 2026 ketika SUPA melonjak 13,44 persen ke level 1.055 dan mencatat net foreign buy jumbo Rp123,55 miliar.
Jika diakumulasi sejak IPO hingga perdagangan 4 Mei 2026, total dana asing yang tercatat masuk ke saham SUPA mencapai sekitar Rp284,69 miliar. Nilai tersebut berasal dari akumulasi net foreign buy dalam beberapa fase perdagangan besar sejak saham ini melantai di bursa.
Saham SUPA Terus Terkoreksi
Namun setelah sempat bergerak agresif di awal tahun, saham SUPA mulai mengalami tekanan. Pada Maret 2026, saham ini terkoreksi tajam 19,43 persen ke level 850 meski asing masih membukukan pembelian bersih Rp37,07 miliar.
Pergerakan saham kemudian cenderung melandai pada April hingga Mei 2026. Pada perdagangan 4 Mei 2026, saham SUPA ditutup di level 840 setelah turun 1,75 persen dengan nilai transaksi Rp109 miliar.
Walau begitu, investor asing masih tercatat melakukan akumulasi dengan net foreign buy Rp24,18 miliar pada perdagangan tersebut.(*)