Market Hari Ini 31 Dec 2025 Penulis: Pramirvan Datu Editor: Uslimin Usle

Tahun 2025 Menuju Akhir, Dolar AS Menguat di Tengah Isyarat Hati-hati The Fed

Minimnya volume transaksi membuat sejumlah analis mengimbau kehati-hatian dalam menafsirkan fluktuasi pasar

Dolar Amerika Serikat mencatat penguatan pada Selasa dan bertahan di zona hijau setelah risalah pertemuan Federal Reserve edisi Desember dipublikasikan

Ilustrasi Mata Uang Dolar. Foto: Dok KabarBursa.com
Ilustrasi Mata Uang Dolar. Foto: Dok KabarBursa.com

KABABURSA.COM - Dolar Amerika Serikat mencatat penguatan pada Selasa dan bertahan di zona hijau setelah risalah pertemuan Federal Reserve edisi Desember dipublikasikan. Pelaku pasar menelusuri setiap paragraf dokumen tersebut guna menangkap isyarat kebijakan moneter ke depan, di tengah suasana perdagangan yang cenderung lengang menjelang libur tutup tahun.

Minimnya volume transaksi membuat sejumlah analis mengimbau kehati-hatian dalam menafsirkan fluktuasi pasar beberapa hari terakhir. Namun demikian, secara gambaran besar, dolar masih berada di lintasan pelemahan tahunan terdalam sejak 2017. Sepanjang 2025, mata uang Negeri Paman Sam itu telah tergerus hampir 10 persen, menurut laporan Reuters dari New York, Selasa 30 Desember 2025 atau Rabu 31 Desember 2025 pagi WIB.

Risalah rapat The Fed pada 9–10 Desember mengungkapkan bahwa keputusan pemangkasan suku bunga dicapai melalui perdebatan yang amat berhati-hati. Para pembuat kebijakan menimbang beragam risiko yang masih membayangi perekonomian Amerika Serikat, mulai dari inflasi hingga ketahanan pasar tenaga kerja.

Proyeksi terkini yang dirilis pascapertemuan tersebut menunjukkan bank sentral hanya memperkirakan satu kali pemotongan suku bunga pada tahun depan. Nada pernyataan kebijakan juga mengarah pada sikap menunggu, dengan kecenderungan mempertahankan suku bunga sampai data anyar memperlihatkan inflasi kembali melandai atau tingkat pengangguran meningkat melampaui proyeksi.

Meski begitu, pelaku pasar tetap memasukkan skenario penurunan suku bunga sekitar 50 basis poin sepanjang tahun depan ke dalam perhitungan mereka.

Analis FX Street di New York, Joseph Trevisani, menilai ketidakpastian arah kebijakan The Fed tercermin jelas pada gerak dolar, mata uang global lainnya, serta imbal hasil obligasi pemerintah AS. Menurutnya, pasar belum memperoleh kompas yang tegas, dan pergerakan signifikan kemungkinan baru muncul ketika data ekonomi memberikan sinyal yang lebih lugas.

Indeks Dolar (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, naik 0,19 persen ke level 98,19. Namun secara tahunan, indeks ini masih terperosok sekitar 9,5 persen—penurunan paling curam dalam delapan tahun terakhir.

Tekanan terhadap dolar dipicu oleh ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, menyempitnya selisih suku bunga dengan negara lain, serta kekhawatiran atas defisit fiskal dan dinamika politik di Amerika Serikat.

Euro melemah 0,18 persen ke posisi USD1,1751, meski dalam hitungan tahunan masih membukukan lonjakan lebih dari 13 persen. Pound sterling juga tergelincir 0,3 persen menjadi USD1,3467, namun tetap mencatatkan penguatan hampir 8 persen sepanjang 2025.

Dari sisi data makro, laporan yang dirilis Selasa menunjukkan harga rumah di Amerika Serikat meningkat pada Oktober, meski dengan laju tahunan paling lambat dalam lebih dari 13 tahun, berdasarkan catatan Federal Housing Finance Agency. Data ini dipandang sebagai sinyal awal membaiknya keterjangkauan sektor perumahan yang selama ini tertekan.

Di Asia, yen Jepang melemah 0,2 persen ke level 156,39 per dolar AS. Kendati demikian, yen sempat menguat dalam beberapa hari terakhir, menjauh dari area yang memicu pernyataan pejabat Tokyo dan menyulut spekulasi potensi intervensi Bank of Japan.

Sementara itu, yuan China mencetak penguatan mencolok dengan menembus level psikologis tujuh per dolar AS untuk pertama kalinya dalam dua setengah tahun. Yuan onshore melonjak hingga 6,987 per dolar AS, menjadi posisi terkuat sejak Mei 2023.

Penguatan tersebut terjadi meski bank sentral China memberikan panduan nilai tukar yang lebih lemah, seiring eksportir berlomba melepas dolar menjelang akhir tahun. Sejak awal April, yuan telah menguat sekitar 4 persen terhadap dolar yang melemah, dan berpeluang mengakhiri tren penurunan yang berlangsung selama tiga tahun berturut-turut.

Upaya otoritas moneter China untuk menahan laju apresiasi—melalui panduan nilai tukar yang lebih longgar dan peringatan verbal di media pemerintah—hingga kini belum berhasil membalikkan arah penguatan mata uang tersebut.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
PR
Redaktur Pelaksana

Pramirvan Datu

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait