Market Hari Ini 18 Feb 2026 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Tak Ada Aksi Korporasi namun Harga Nyaris Sentuh ARA, Apa yang Menarik dari ROCK?

Tanpa aksi korporasi, saham ROCK melesat 24,83 persen ke Rp3.770, ditopang neraca nyaris tanpa utang, laba berbalik positif, free float 20 persen, dan momentum teknikal kuat.

ROCK naik 24,83 persen nyaris ARA tanpa aksi korporasi. Neraca bersih, laba pulih, free float 20 persen dan arus kas kuat jadi sorotan.

Harga saham selalu berada di zona hijau, namun tidak ada aksi korporasi yang mendorong kenaikan harga, fundamental ROCK menjawab keraguan. (Foto: Dok Rockfields Properti Indonesia)
Harga saham selalu berada di zona hijau, namun tidak ada aksi korporasi yang mendorong kenaikan harga, fundamental ROCK menjawab keraguan. (Foto: Dok Rockfields Properti Indonesia)

Daftar Isi

  1. 01 Bebas Utang
  2. 02 Free Float hanya 20 Persen

KABARBURSA.COM – Saham PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) bergerak signifikan hingga nyaris menyentuh batas atas auto rejection atas (ARA), meski tidak terdapat aksi korporasi baru yang diumumkan. Lonjakan harga ini terjadi di tengah tekanan jual yang tinggi dan tanpa katalis formal dari sisi aksi manajemen.

Pada perdagangan Rabu, 18 Februari 2026, hingga pukul 15.30 WIB, sahan ROCK melonjak 24,83 persen ke level 3.770.  Secara teknikal, lonjakan harga terjadi dalam tren naik yang sudah terbentuk sejak beberapa bulan terakhir. 

Volume transaksi pada perdagangan sesi kedua hari ini tercatat 9.060 lot dengan nilai Rp3,4 miliar dan rata-rata harga Rp3.748. Lalu, apa yang menarik dari ROCK hingga harganya selalu berada di zona hijau bahkan beberapa kali menyentuh ARA?

Jika ditelusuri dari sisi data keuangan dan struktur saham, terdapat sejumlah faktor yang menjelaskan mengapa saham ini menjadi perhatian pasar.

Bebas Utang

Dari sisi neraca, ROCK menunjukkan struktur permodalan yang sangat ringan terhadap utang. Debt to equity ratio tercatat 0,01 dengan total utang hanya Rp8 miliar. Pada saat yang sama, posisi kas kuartalan mencapai Rp41 miliar, sehingga menghasilkan net debt negatif Rp34 miliar. Artinya, kas yang dimiliki lebih besar daripada total utang berbunga.

Rasio likuiditas juga berada dalam posisi relatif stabil. Current ratio tercatat 1,61, sementara interest coverage TTM sebesar 13,70 kali. Altman Z-Score berada di level 6,28, yang secara model menunjukkan risiko kebangkrutan yang sangat rendah. 

Struktur seperti ini mencerminkan perusahaan dengan tekanan finansial minimal dan beban bunga yang tidak signifikan.

Di sisi profitabilitas, kinerja 2025 menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih yang diannualisasi mencapai Rp23 miliar, meningkat dibanding Rp11 miliar pada 2024. 

Secara kuartalan, setelah mencatat rugi Rp7 miliar pada kuartal IV 2024, perusahaan membukukan laba Rp5 miliar pada kuartal I 2025, Rp7 miliar pada kuartal II 2025, dan Rp6 miliar pada kuartal III 2025. Tiga kuartal berturut-turut mencatatkan laba positif setelah periode rugi sebelumnya.

Margin juga berada pada level yang relatif tinggi untuk skala perusahaan ini. Gross profit margin kuartalan tercatat 49,5 persen, operating margin 30,09 persen, dan net margin 17,97 persen. 

Arus kas operasional TTM mencapai Rp54 miliar dengan free cash flow sebesar Rp52 miliar, menunjukkan konversi laba menjadi kas yang relatif baik serta kebutuhan belanja modal yang terbatas.

Free Float hanya 20 Persen

Struktur kepemilikan juga menjadi faktor penting. Dari total 1,44 miliar saham beredar, free float hanya sekitar 20 persen. Dengan jumlah saham publik yang terbatas, pergerakan harga menjadi lebih sensitif terhadap perubahan permintaan. 

Dalam kondisi volume meningkat dan harga mendekati ARA, kombinasi free float kecil dan tekanan beli dapat mempercepat kenaikan harga.

Secara kuantitatif, kualitas fundamental juga tercermin dari Piotroski F-Score yang berada di level 8. Skor ini mengindikasikan perbaikan profitabilitas, struktur leverage yang terkendali, serta efisiensi operasional yang membaik dibanding periode sebelumnya.

Di sisi lain, valuasi saham ini berada pada level tinggi. PER TTM tercatat 536,74 kali, PBV 6,62 kali, dan price to sales 41,43 kali. Rasio tersebut jauh di atas median IHSG yang berada di kisaran satu digit untuk PER TTM. Earnings yield TTM tercatat 0,19 persen.

Dengan demikian, daya tarik saham ROCK tidak bersumber dari valuasi murah, melainkan dari kombinasi faktor lain yang tercermin dalam data. Struktur neraca yang kuat, posisi kas bersih, perbaikan laba setelah periode rugi, margin yang tinggi, arus kas positif, free float terbatas, serta momentum harga yang kuat menjadi elemen yang secara simultan membentuk perhatian pasar terhadap saham ini.

Kenaikan harga yang terjadi tanpa aksi korporasi formal menunjukkan bahwa dinamika perdagangan lebih banyak dipengaruhi oleh kombinasi struktur fundamental dan karakteristik saham itu sendiri, sebagaimana tercermin dalam data keuangan dan struktur kepemilikan terbaru.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait