KABARBURSA.COM - PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI), salah satu emiten properti milik Grup Sinar Mas, dalam beberapa tahun terakhir semakin terlihat seperti "saham keluarga" ketimbang saham publik yang aktif diperdagangkan.
Payout ratio DUTI menembus 200 persen, neraca keuangan nyaris tanpa utang, sayangnya tidak ada transaksi yang terjadi di pasar.
Dalam RUPS Tahunan yang digelar pada 17 Juni 2026, DUTI memutuskan membagikan dividen tunai Rp480 per saham atau setara total Rp888 miliar. Angka ini sebenarnya cukup mengejutkan jika dibandingkan dengan laba bersih tahun 2025 yang hanya Rp422 miliar. Perusahaan membagikan dividen lebih besar daripada laba yang dihasilkan selama setahun penuh.
Jika dihitung, payout ratio DUTI mencapai sekitar 210 persen. Dengan harga saham yang berada di kisaran Rp4.360 per saham, dividend yield yang ditawarkan mencapai sekitar 11 persen, angka yang tergolong menarik.
Jika dividennya sebesar itu, mengapa sahamnya tidak bergerak?
Free Float Hanya 0,54 Persen
Data menunjukkan jumlah saham beredar DUTI mencapai sekitar 1,85 miliar lembar. Namun free float perusahaan hanya sekitar 0,54 persen. Dengan kata lain, lebih dari 99 persen saham perusahaan dikuasai pemegang saham pengendali dan kelompok afiliasinya.
Free float 0,54 persen merupakan angka yang sangat kecil. Secara kasar, saham yang benar-benar beredar di publik hanya sekitar 10 juta lembar dari total 1,85 miliar lembar saham.
Akibatnya, likuiditas saham menjadi sangat rendah. Bahkan kondisi order book yang kosong bukanlah sesuatu yang aneh bagi DUTI. Pada perdagangan terakhir terlihat hanya ada antrean beli dan jual masing-masing 40 lot di harga Rp4.420 dengan frekuensi transaksi yang sangat minim.
Fenomena ini membuat saham DUTI memiliki karakter yang berbeda dengan mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia. Harga saham tidak bergerak karena hampir tidak ada saham yang berpindah tangan.
Untuk siapa sebenarnya dividen sebesar Rp888 miliar itu dibagikan?
Dividen untuk Pengendali
Secara teori, dividen dibagikan kepada seluruh pemegang saham. Namun karena mayoritas saham DUTI dimiliki pemegang saham pengendali, maka sebagian besar dana dividen otomatis akan kembali ke kantong pemilik utama perusahaan.
Inilah alasan mengapa beberapa emiten dengan free float sangat kecil sering kali terlihat royal membagikan dividen. Dividen bukan hanya menjadi bentuk penghargaan kepada investor publik, tetapi juga menjadi mekanisme distribusi kas kepada pemegang saham pengendali.
Fundamental Solid, Neraca Sehat
Meski demikian, bukan berarti fundamental DUTI buruk. Justru sebaliknya.
Jika melihat kondisi keuangan perusahaan, DUTI termasuk salah satu emiten properti dengan neraca paling sehat di Bursa.
Total ekuitas perusahaan mencapai Rp16,15 triliun per akhir 2025. Sementara saldo laba ditahan yang belum ditentukan penggunaannya mencapai Rp9,39 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa perusahaan memiliki cadangan kas dan akumulasi keuntungan yang sangat besar dari tahun-tahun sebelumnya.
Dari sisi solvabilitas, current ratio mencapai 4,22 kali dan quick ratio sebesar 2,28 kali. Artinya aset lancar perusahaan jauh lebih besar dibandingkan kewajiban jangka pendeknya.
Yang lebih menarik lagi, rasio total liabilitas terhadap ekuitas hanya sekitar 0,23 kali. Financial leverage juga hanya 1,49 kali. Dengan kata lain, DUTI bukan perusahaan yang agresif menggunakan utang untuk membiayai bisnisnya.
Kondisi tersebut membuat kesehatan finansial DUTI berada dalam kategori sangat aman.
Altman Z-Score perusahaan bahkan mencapai 9,34, jauh di atas ambang batas risiko kebangkrutan. Interest coverage ratio sebesar 6,29 kali juga menunjukkan kemampuan perusahaan membayar beban bunga masih sangat kuat.
Namun di balik neraca yang solid tersebut, terdapat satu tantangan yang mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir, yaitu perlambatan pertumbuhan bisnis.
Pendapatan Anjlok, Laba Bersih Turun
Pendapatan DUTI sepanjang 2025 hanya mencapai Rp2,73 triliun, turun cukup tajam dibandingkan Rp4,42 triliun pada 2024 dan Rp3,86 triliun pada 2023.
Penurunan yang sama juga terjadi pada laba bersih. Setelah mencetak laba Rp1,07 triliun pada 2023 dan Rp852 miliar pada 2024, laba bersih 2025 turun menjadi Rp422 miliar.
Artinya, secara operasional perusahaan sedang menghadapi perlambatan penjualan dan pengakuan pendapatan proyek properti. Ini merupakan tantangan yang juga dialami banyak pengembang properti besar dalam beberapa tahun terakhir.
Meski demikian, margin keuntungan DUTI masih tergolong sehat. Dengan laba bersih Rp422 miliar dari pendapatan Rp2,73 triliun, perusahaan masih mampu mempertahankan profitabilitas di tengah siklus properti yang belum sepenuhnya pulih.
Bagi investor yang mencari capital gain, DUTI mungkin bukan pilihan ideal. Likuiditas yang sangat tipis membuat saham ini sulit diperdagangkan dan pergerakan harga cenderung stagnan dalam waktu lama.
Namun bagi investor yang berorientasi pada pendapatan dividen, DUTI memiliki daya tarik tersendiri. Yield dua digit, neraca yang sangat kuat, serta tradisi pembagian dividen yang konsisten menjadi alasan mengapa sebagian investor tetap mempertahankan saham ini meski nyaris tidak ada aktivitas perdagangan.(*)
SEO Description (maks. 160 karakter):
SEO Keywords: