KSI telah menandatangani memorandum of agreement (MOA) dengan perusahaan di Republik Panama untuk pembelian satu unit mother vessel bulk carrier senilai USD14,8 juta.
Nilai pembelian tersebut tidak melebihi 20 persen ekuitas TCPI, sehingga tidak termasuk transaksi material. TCPI mendanai 80 persen dari pembelian tersebut melalui bank milik pemerintah dan sisanya melalui keuangan internal.
Ketika ditanya tentang rencana penambahan armada di tahun ini, Anton menyatakan bahwa perseroan berencana menambah armada kembali pada kuartal kedua tahun ini.
“Perseroan berencana menambah kapal milik sendiri, termasuk Mother Vessel, Pusher Tug & Barge, serta Tug & Barge,” jelasnya.
Sementara itu, sebagian besar konsumen jasa angkutan TCPI berasal dari perusahaan-perusahaan batubara.
“Hingga saat ini, 97 persen kargo yang diangkut oleh TCPI adalah batubara, sedangkan sisanya 3 persen merupakan jenis kargo lainnya,” tutupnya.
Unsual Market Activity
Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan Unusual Market Activity (UMA) kepada empat emiten pada Selasa, 23 Juli 2024. Adapun keempat saham yang dinyatakan UMA oleh BEI diantaranya, Keempat saham itu yakni PT Megapolitan Developments Tbk (EMDE), PT Tourindo Guide Indonesia Tbk (PGJO), PT Mitra Pack Tbk (PTMP), dan PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI).
Sebagaimana diketahui, UMA sendiri merupakan aktivitas pergerakan harga suatu efek yang tidak biasa pada kurun waktu tertentu yang menurut penilaian BEI dapat berpotensi mengganggu terselenggaranya perdagangan efek yang teratur, wajar, dan efisien.
Kepala Divisi Pengawasan BEI, Yulianto Aji Sadono menuturkan, pihaknya akan terus melakukan pengawasan untuk mencermati perkembangan pola transaksi dari keempat emiten tersebut.
“Sehubungan dengan terjadinya UMA atas saham EMDE tersebut, perlu kami sampaikan bahwa Bursa saat ini sedang mencermati perkembangan pola transaksi saham ini,” kata Aji dikutip dari Keterbukaan Informasi BEI, Selasa, 23 Juli 2024.
Lebih jauh, dia juga meminta para investor untuk terus mencermati kinerja perusahaan dan mengkaji rencana aksi korporasi jika rencana tersebut belum disetujui melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) masing-masing emiten.
“Mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat timbul di kemudian hari sebelum melakukan pengambilan keputusan investasi,” tutupnya.
Kinerja Saham EMDE, PGJO, PTMP, dan TCPI di Semester I 2024
Berdasarkan data perdagangan RTI Business yang dikutip, Selasa, 23 Juli 2024, saham EMDE menghijau di semester pertama 2024. EMDE tercatat tumbuh hingga 88,52 persen dengan harga saham rata-rata Rp77 hingga Rp248 per lembar saham.
EMDE juga mencatat volume share sebesar 61,7 juta dengan saham yang diperdagangkan mencapai Rp8,1 miliar di semester awal 2024. Adapun frekuensi perdagangan EMDE sebesar 14,461 di awal semester.
Data Stockbit juga mencatat revenue EMDE sebesar Rp44 miliar dengan gross profit Rp28 miliar. Sementara Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) EMDE berada di level Rp31,40 miliar dengan net income Rp8 miliar.
Begitu juga dengan saham PGJO, menurut catatan RTI Business emiten tersebut juga tumbuh di awal semester 2024 sebesar 7,23 persen dengan harga rata-rata saham sebesar Rp75 hingga Rp94 per lembar.
Dalam satu semester, volume share PGJO tercatat sebesar 310,5 juta dengan saham yang diperdagangkan senilai Rp26,6 miliar. Sementara frekuensi saham yang diperdagangkan sebanyak 26,037. Data Stockbit mencatat revenue PGJO sebesar Rp10 miliar dengan gross profit Rp1 miliar. Sementara net income PGJO Rp7 miliar.
Sementara TCPI, tercatat tumbuh lebih kecil dibandingkan EMDE dan PGJO, yakni sebesar 0,32 persen dengan harga rata-rata Rp6,725 hingga Rp8,650. Di awal semester 2024, volume share TCPI tercatat sebesar 1,3 miliar dengan saham yang diperdagangkan senilai Rp9,9 triliun. Sementara frekuensi saham yang diperdagangkan sebanyak 268,440.
Data Stockbit mencatat revenue TCPI sebesar Rp429 miliar dengan gross profit Rp139 miliar. Sementara EBITDA TCPI berada di level Rp696,29 miliar dengan net income Rp49 miliar.
Nasib berbeda dialami saham PTMP. Dalam panel perdagangan RTI Business, PTMP tercatat mengalami penurunan di awal semester 2024 sebesar 71,50 persen dengan harga rata-rata Rp52 hingga Rp338 per lembar saham. (*)