Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) telah melayangkan gugatan terhadap Elon Musk, CEO Tesla, dengan tuduhan penipuan sekuritas. Regulator keuangan AS mengklaim bahwa pengakuan Musk mengenai pendanaan untuk akuisisi Tesla yang akan datang adalah salah dan menyesatkan.
SEC berusaha untuk melarang Musk dari posisi sebagai petugas atau direktur perusahaan publik. Musk membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa ia selalu berkomitmen pada prinsip kebenaran, transparansi, dan kepentingan investor.
Dalam sebuah pernyataan, Musk menggarisbawahi pentingnya integritas dalam hidupnya dan menyatakan bahwa fakta-fakta akan membuktikan bahwa ia tidak pernah mengorbankan nilai tersebut.
Pada bulan lalu, Musk mengejutkan dunia bisnis dengan cuitan di Twitter yang mengumumkan rencananya untuk membawa Tesla keluar dari bursa saham. Musk menyebut telah mengamankan dana yang diperlukan untuk mengakuisisi perusahaan dengan nilai saham sebesar USD420 (sekitar Rp6,2 juta).
Pernyataan tersebut menimbulkan kesan menyesatkan bahwa Musk hanya fokus pada pengambilalihan Tesla dan mengabaikan suara pemegang saham. Gugatan SEC, yang diajukan pada Kamis di pengadilan federal New York, mengklaim bahwa Musk belum membahas atau mengonfirmasi syarat-syarat utama dengan potensi sumber pendanaan.
Cuitan Musk pada 7 Agustus bahkan mengejutkan banyak pihak di dalam perusahaan Tesla sendiri. Kepala hubungan investor Tesla mengajukan pertanyaan mendalam tentang keabsahan informasi tersebut.
Saham Tesla meroket setelah pengumuman tersebut, namun mengalami penurunan lebih dari 10 persen dalam perdagangan after-hours setelah Musk membatalkan rencananya dan menyebut adanya masukan dari investor.
SEC, yang juga menangani masalah denda finansial, menilai klaim Musk telah menyebabkan kebingungan signifikan di pasar dan merugikan investor. Stephanie Avakian, co-director divisi penegakan SEC, menegaskan bahwa transparansi dan akurasi dalam informasi adalah kewajiban utama CEO, baik dalam komunikasi tradisional maupun media sosial.
Musk, pendiri Tesla yang telah memimpin perusahaan sejak 2008, dikenal sebagai sosok kontroversial di dunia bisnis. Meski banyak penggemar dan pendukungnya mendukung langkahnya dalam industri otomotif, ada juga kritikus yang mencatat penurunan performa keuangan Tesla dan berbagai masalah produksi.
Tahun ini, Tesla menghadapi tekanan finansial yang meningkat seiring dengan peningkatan pengeluaran untuk memperbesar produksi model terbaru mereka. Perilaku Musk juga menarik perhatian, termasuk komentarnya yang kontroversial tentang seorang penyelam gua Inggris, serta penampilan publiknya yang mencuri perhatian seperti merokok ganja di podcast dengan komedian Joe Rogan.
Polemik Gaji Elon Musk
Glass Lewis, perusahaan konsultan terkemuka, telah menyerukan agar para pemegang saham menolak paket kompensasi senilai USD 56 miliar, atau sekitar Rp 900,49 triliun, untuk Elon Musk. Jika disetujui, paket ini akan menjadi yang terbesar untuk seorang CEO di perusahaan Amerika Serikat.
Glass Lewis mengemukakan berbagai alasan penolakan, termasuk besarnya nilai paket yang dinilai berlebihan, efek dilusi terhadap saham, serta konsentrasi kepemilikan. Laporan tersebut juga menyoroti aktivitas Musk yang sangat padat, termasuk akuisisi Twitter yang kini dikenal sebagai X.
Paket gaji yang diusulkan oleh dewan direksi Tesla, yang sering mendapat sorotan karena kedekatannya dengan Musk, tidak mencakup gaji atau bonus tunai. Sebaliknya, imbalan tersebut ditetapkan berdasarkan kenaikan nilai pasar Tesla hingga USD 650 miliar dalam 10 tahun sejak 2018. Saat ini, valuasi Tesla berada di kisaran USD 571,6 miliar, menurut data LSEG.
Pada Januari 2024, Hakim Kathaleen McCormick dari Pengadilan Delaware membatalkan paket pembayaran yang lebih awal. Musk sebelumnya mencoba memindahkan Tesla dari Delaware ke Texas.
Glass Lewis juga mengkritik rencana perpindahan ke Texas, menyebutnya menawarkan "keuntungan yang tidak pasti dan risiko tambahan" bagi para pemegang saham. Tesla kini mendorong para pemegang saham untuk tetap mendukung paket kompensasi tersebut. (*)