Market Hari Ini 03 Sep 2025 Penulis: Pramirvan Datu Editor: Uslimin Usle

The Fed Diambang Pemangkasan Suku Bunga: Bagaimana Nasib Rupiah?

Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar AS, mencerminkan tekanan global yang merata

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak melemah dalam rentang Rp16.400 hingga Rp16.450 per dolar AS hari ini

Ilustrasi Gedung Federal di Amerika. Foto: dok KabarBursa.com
Ilustrasi Gedung Federal di Amerika. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak melemah dalam rentang Rp16.400 hingga Rp16.450 per dolar AS hari ini. Meski demikian, berdasarkan data Bloomberg, rupiah justru mencatat penguatan tipis 0,03 persen atau naik 4,5 poin dan ditutup di level Rp16.414 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS terpantau naik signifikan. Pada pukul 15.10 WIB, indeks tersebut menguat 0,52 persen atau 0,51 poin, mencapai level 98,28. Di sisi lain, mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar AS, mencerminkan tekanan global yang merata.

Yen Jepang tergelincir 1,05 persen. Dolar Singapura turun 0,35 persen, dolar Taiwan melemah 0,27 persen, dan dolar Hong Kong terkoreksi 0,09 persen. Won Korea Selatan nyaris stagnan dengan penguatan tipis 0,01 persen. Peso Filipina melemah 0,51 persen, yuan China tertekan 0,16 persen, ringgit Malaysia susut 0,09 persen, dan baht Thailand terkoreksi 0,18 persen. Sebaliknya, rupee India mencatatkan kenaikan sebesar 0,12 persen.

Pelemahan mata uang-mata uang tersebut tak lepas dari dinamika terkini di Amerika Serikat. Ketidakpastian kembali meningkat usai pengadilan banding menyatakan tarif perdagangan yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump sebagai ilegal. Meskipun begitu, pengadilan masih mengizinkan tarif tersebut berlaku hingga pertengahan Oktober. Trump menanggapi keras dan menyatakan akan menggugat keputusan tersebut ke Mahkamah Agung.

Situasi ini menambah lapisan keraguan terhadap arah kebijakan perdagangan AS dan dampaknya terhadap ekonomi global. Terlebih, tarif-tarif itu sebelumnya telah diterapkan secara luas sejak Agustus lalu. Apabila Mahkamah menjatuhkan putusan yang membatalkan tarif, Washington akan dipaksa untuk menegosiasikan ulang sejumlah kesepakatan dagang dengan mitra utama.

Sementara itu, pasar kini memperkirakan probabilitas hingga 85 persen bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan bulan September. Proyeksi ini muncul meski data inflasi, melalui indeks harga PCE bulan Juli, menunjukkan stagnasi. Inflasi tetap bertengger di atas target tahunan The Fed sebesar 2 persen, menambah dilema kebijakan moneter.

Konstelasi geopolitik pun turut mempengaruhi pasar. Serangan drone Ukraina baru-baru ini merusak fasilitas pengolahan minyak Rusia yang menyumbang sekitar 17 persen kapasitas nasional—setara 1,1 juta barel per hari, menurut hitungan Reuters. Insiden ini mendorong ketegangan global dan meningkatkan risiko pasar energi.

Di Washington, Presiden Trump melanjutkan kritiknya terhadap Ketua The Fed, Jerome Powell. Ia menyesalkan lambatnya pemangkasan suku bunga dan bahkan mengecam proyek renovasi besar kantor pusat bank sentral yang dinilainya sebagai pemborosan anggaran.

Di tengah badai politik tersebut, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa The Fed tetap independen. Namun, ia juga mengakui adanya kesalahan dalam manajemen lembaga tersebut. Bessent juga membela keputusan Trump yang mencopot Lisa Cook dari Dewan Gubernur The Fed, menyusul tuduhan terlibat dalam skandal penipuan hipotek.

Gejolak ini menyeret indeks dolar AS ke level 97,847—terendah dalam lima pekan terakhir. Pasar kini bersiap menghadapi langkah The Fed pada 17 September 2025. Menurut CME FedWatch, probabilitas pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin bahkan telah melonjak ke angka 90 persen.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
PR
Redaktur Pelaksana

Pramirvan Datu

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait