Market Hari Ini 21 Jun 2026 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Tidak Pernah Bagikan Dividen, Apa yang Dilihat dari Bukit Uluwatu (BUVA)?

Meski laba 2025 ditahan seluruhnya dan tanpa dividen, BUVA menarik perhatian lewat lonjakan harga, akumulasi domestik, serta neraca yang sehat.

BUVA kembali tidak membagikan dividen. Namun lonjakan harga saham, akumulasi domestik, dan fundamental sehat membuat pasar tetap melirik.

Kapitalisasi pasar BUVA saat ini sekitar Rp21,4 triliun. Angka tersebut jelas terlihat mahal. (Foto: dok BUVA)
Kapitalisasi pasar BUVA saat ini sekitar Rp21,4 triliun. Angka tersebut jelas terlihat mahal. (Foto: dok BUVA)

Daftar Isi

  1. 01 Volatilitas Tinggi, Menarik untuk Trader Jangka Pendek
  2. 02 Siapa di Balik Kenaikan BUVA?
  3. 03 Fundamental BUVA: Rasio Utang Rendah
  4. 04 Strategi Perdagangan Besok

KABARBURSA.COM – Untuk tahun ke-11 sejak melantai di bursa (IPO), PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) memutuskan tidak membagikan dividen. Dalam RUPST yang digelar pada 11 Juni 2026, seluruh laba bersih tahun buku 2025 sebesar Rp99,75 miliar diputuskan untuk ditahan dan digunakan mendukung operasional perusahaan.

Lantas, apa yang dikejar pasar dari BUVA?

Volatilitas Tinggi, Menarik untuk Trader Jangka Pendek

Mari melihat historical datanya. Pada awal Juni 2026, BUVA berada di level 835. Hanya dalam hitungan hari saham ini anjlok hingga 550. Koreksi mencapai 34 persen. 

Namun yang menarik, setelah mencapai titik terendah tersebut, saham ini langsung berbalik arah dengan kecepatan yang tidak biasa. Dari level 550 pada 8 Juni, harga melonjak menjadi 685 sehari kemudian. Lalu, naik lagi ke 715, 775, 845, hingga akhirnya ditutup di 870 pada 19 Juni.

Dalam waktu kurang dari dua minggu, saham ini membukukan kenaikan lebih dari 58 persen dari titik terendahnya. Kenaikan seperti ini jarang terjadi tanpa adanya minat beli yang sangat agresif.

Jika melihat data transaksi, kenaikan tersebut memang tidak terjadi secara kebetulan. Pada beberapa hari perdagangan, nilai transaksi mencapai ratusan miliar rupiah. Bahkan pada 16 Juni, nilai transaksi menembus Rp410 miliar dengan volume mencapai 4,68 juta lot. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan aktivitas normal BUVA pada periode sebelumnya.

Kenaikan harga ini justru terjadi ketika investor asing secara konsisten melakukan penjualan. Dalam rentang 2 Juni hingga 19 Juni, akumulasi net foreign masih menunjukkan dominasi arus keluar. 

Pada 2 Juni saja, net sell asing mencapai Rp72,15 miliar. Kemudian disusul net sell Rp42,75 miliar pada 10 Juni, Rp20,42 miliar pada 12 Juni, Rp21,27 miliar pada 17 Juni, dan Rp18,82 miliar pada 19 Juni.

Artinya, kenaikan harga BUVA bukan didorong oleh investor asing, melainkan oleh kekuatan investor domestik.

Siapa di Balik Kenaikan BUVA?

Broker summary memperlihatkan gambaran yang lebih jelas. Sejak awal Juni, CGS International Sekuritas Indonesia (YU) menjadi pembeli terbesar dengan akumulasi hampir Rp49,2 miliar pada harga rata-rata 720. 

Di belakangnya terdapat Stockbit Sekuritas Digital (XL) dengan Rp24 miliar dan Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) sebesar Rp13,8 miliar. Di sisi lain, Mandiri Sekuritas (CC) menjadi penjual terbesar dengan nilai Rp66,7 miliar pada harga rata-rata 769. Disusul UBS Sekuritas Indonesia (AK) Rp64,4 miliar.

Data tersebut menunjukkan bahwa saham sedang mengalami proses redistribusi kepemilikan yang cukup aktif.

Gambaran tersebut semakin menarik ketika melihat order book. Pada penutupan perdagangan Jumat, 19 Juni 2026, antrean beli terbesar berada di level 865 dengan lebih dari 32 ribu lot, sementara antrean jual terbesar berada di area 900 hingga 920. 

Rasio lot jual memang masih lebih besar dibanding lot beli, namun harga tetap mampu bertahan di dekat level tertingginya. Artinya, tekanan jual yang muncul masih mampu diserap oleh pasar.

Fundamental BUVA: Rasio Utang Rendah

Lalu bagaimana dengan fundamentalnya?

Secara historis, perusahaan pernah mengalami periode yang sulit. Pada 2024 laba bersih hanya sekitar Rp8 miliar. Namun pada 2025 laba melonjak drastis menjadi Rp99 miliar. Walaupun kuartal I 2026 kembali mencatat rugi sekitar Rp8 miliar, angka trailing twelve months masih menunjukkan laba sekitar Rp20 miliar.

Pendapatan perusahaan juga relatif stabil. Tahun 2025 BUVA membukukan pendapatan Rp376 miliar, sedangkan pada kuartal I 2026 pendapatan mencapai Rp64 miliar. Memang belum menunjukkan pertumbuhan eksplosif, tetapi cukup menggambarkan bahwa bisnis operasional masih berjalan.

Yang lebih menarik justru berasal dari kondisi neracanya. Current ratio mencapai 2,65 kali dan quick ratio 2,62 kali. Artinya aset lancar perusahaan lebih dari cukup untuk menutupi kewajiban jangka pendek. Debt to equity ratio hanya 0,22 kali dengan total debt terhadap aset sebesar 0,17 kali.

Untuk perusahaan di sektor properti dan hospitality, tingkat utang seperti ini tergolong sangat rendah. Banyak emiten sejenis justru memiliki rasio utang jauh lebih tinggi karena sifat bisnis yang membutuhkan investasi aset besar.

Di sisi valuasi, kapitalisasi pasar BUVA saat ini sekitar Rp21,4 triliun. Angka tersebut jelas terlihat mahal jika dibandingkan laba berjalan yang masih relatif kecil. Dengan kata lain, investor yang membeli BUVA saat ini tampaknya bukan sedang mengejar dividen ataupun valuasi murah.

Strategi Perdagangan Besok

Secara teknikal, posisi BUVA saat ini memang masih menarik selama mampu bertahan di atas area support 820-830. Kenaikan 2,35 persen ke level 870 disertai volume yang masih relatif tinggi menunjukkan minat beli belum sepenuhnya hilang, meskipun dalam beberapa hari terakhir asing masih tercatat melakukan net sell. 

Yang patut diperhatikan adalah struktur order book yang menunjukkan antrean jual cukup tebal di area 890-920, sehingga peluang terjadinya profit taking jangka pendek masih terbuka. 

Namun, selama tekanan jual tersebut mampu diserap dan harga tetap bertahan di atas 820, maka skenario akhir wave A seperti yang diperkirakan masih valid dengan peluang melanjutkan penguatan menuju area psikologis 900 hingga 1.000 dalam beberapa sesi ke depan.

Untuk perdagangan besok, strategi yang lebih ideal bukan mengejar harga apabila langsung gap up di pembukaan. MNC Sekuritas melihat strategi yang tepat adalah menunggu koreksi sehat ke area 820-850 sebagai zona akumulasi. 

Area tersebut berpotensi menjadi titik masuk yang lebih aman karena memberikan rasio risiko dan imbal hasil yang lebih menarik dibanding membeli di dekat resistance. Jika BUVA mampu menembus dan bertahan di atas 910 dengan volume yang kembali meningkat, maka peluang menuju target 1.115 bahkan 1.215 akan semakin terbuka. 

Sebaliknya, apabila harga turun menembus 820 dan terutama 685, maka skenario bullish jangka pendek berisiko batal dan investor sebaiknya lebih disiplin menjaga stop loss. 

Dengan kata lain, untuk besok fokus utama bukan pada seberapa tinggi BUVA bisa naik, melainkan apakah saham ini mampu mempertahankan area 820-830 sebagai fondasi untuk melanjutkan tren naik yang sedang terbentuk.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait