Market Hari Ini 25 May 2026 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

Top Losers Sepekan Dipimpin WBSA: DSSA dan TPIA Ikut Terseret

WBSA memimpin daftar top losers mingguan setelah turun lebih dari 50 persen, disusul DSSA dan TPIA.

Daftar saham top losers sepekan dipimpin WBSA, DSSA dan TPIA dengan koreksi tajam hingga 50 persen.

WBSA memimpin daftar saham top losers sepekan dengan penurunan lebih dari 50 persen. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)
WBSA memimpin daftar saham top losers sepekan dengan penurunan lebih dari 50 persen. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)

KABARBURSA.COM – Deretan saham yang masuk daftar top losers sepekan menunjukkan tekanan jual yang masih sangat besar di pasar. 

Berdasarkan data yang dihimpun Kabarbursa.com pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026 hingga Jumat, 22 Mei 2026, saham berkode WBSA menjadi emiten dengan koreksi terdalam setelah anjlok 50,20 persen dalam sepekan terakhir.

Saham WBSA ditutup di level 630 dengan koreksi harian 5,97 persen. Dalam satu bulan terakhir saham ini juga sudah melemah 40,85 persen dengan kapitalisasi pasar tersisa sekitar Rp5,46 triliun.

Posisi berikutnya ditempati DSSA yang terkoreksi 47,34 persen dalam sepekan ke level 545. Tekanan jual pada saham ini terlihat sangat besar karena secara tiga bulan DSSA sudah turun 84,34 persen dan melemah 86,38 persen dalam enam bulan terakhir.

Secara tahunan, DSSA tercatat masih terkoreksi 73,67 persen dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp104,98 triliun. Pada perdagangan terakhir, saham ini juga kembali turun 10,66 persen harian.

Saham TPIA ikut masuk daftar tekanan terbesar pasar setelah turun 45,36 persen dalam sepekan ke level 2.000. Koreksi saham ini juga cukup dalam secara jangka menengah dengan pelemahan tiga bulan mencapai 71,12 persen dan penurunan tahunan sekitar 81,04 persen.

Di kelompok berikutnya, saham CUAN melemah 39,41 persen dalam sepekan dan ditutup di level 515. Tekanan jual pada saham ini masih cukup agresif karena secara enam bulan saham CUAN telah terkoreksi 77,21 persen.

Sementara itu, NSSS turun 38,30 persen dalam sepekan ke level 472. Saham ini sebenarnya masih mencatat kenaikan tahunan sekitar 72,26 persen, namun tekanan jangka pendek membuat kinerjanya kembali terkoreksi cukup dalam.

Saham BANK juga masuk daftar pelemahan terbesar setelah turun 37,45 persen sepekan. Saham ini berada di level 304 dengan koreksi tahunan mencapai 64,24 persen.

Tekanan jual lain terlihat pada MGNA yang turun 34,33 persen dalam sepekan ke harga 88. Meski begitu, saham ini masih membukukan kenaikan tahunan sekitar 158,82 persen.

Saham RLCO melemah 34,22 persen dalam sepekan ke level 2.960. Menariknya, secara year to date saham ini masih mencatat kenaikan sekitar 67,71 persen dengan penguatan harian 14,73 persen pada perdagangan terakhir.

Selain itu, saham BUKK turun 33,78 persen dalam sepekan ke level 735. Dalam tiga bulan terakhir saham ini telah terkoreksi sekitar 55,72 persen.

Sementara YPAS menjadi saham terakhir dalam daftar top losers mingguan setelah melemah 32,39 persen ke level 595. Koreksi tersebut terjadi meski saham YPAS masih mencatat penguatan tahunan sekitar 90,71 persen.

Data tersebut memperlihatkan tekanan jual masih mendominasi sejumlah saham dengan volatilitas tinggi. Mayoritas saham dalam daftar ini juga mencatat pelemahan besar dalam horizon satu bulan hingga satu tahun terakhir.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait