Market Hari Ini 21 Mar 2025 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

TPIA bakal Buyback Saham Rp2 Triliun, Sekadar Penahan Harga?

Aksi korporasi ini punya tujuan menstabilkan harga saham sampai meningkatkan kepercayaan investor

PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mengumumkan rencana buyback (pembelian kembali) saham senilai Rp2 triliun.

Tim Chandra Asri berdiskusi di area pabrik petrokimia sebagai bagian dari upaya inovasi dan pengembangan industri. (Foto: Dok. Chandra Asri)
Tim Chandra Asri berdiskusi di area pabrik petrokimia sebagai bagian dari upaya inovasi dan pengembangan industri. (Foto: Dok. Chandra Asri)

KABARBURSA.COM – PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mengumumkan rencana buyback (pembelian kembali) saham senilai Rp2 triliun. Aksi korporasi ini punya tujuan menstabilkan harga saham sampai meningkatkan kepercayaan investor. Sayangnya, langkah ini diyakini menimbulkan berbagai pertanyaan dari investor terkait dampaknya terhadap valuasi dan strategi pertumbuhan perusahaan ke depan.

Merujuk keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), General Manager of Legal & Corporate Secretary TPIA Erri Dewi Riani mengatakan, Chandra Asi akan membeli kembali sahamnya di pasar terbukan memakai kas internal perusahaan. 

Ini berarti bahwa buyback saham TPIA akan dibiayai tanpa harus mencari pendanaan eksternal seperti pinjaman atau penerbitan obligasi. Hal ini bisa menunjukkan bahwa perusahaan memiliki likuiditas yang cukup, tetapi juga bisa berarti bahwa dana yang seharusnya bisa digunakan untuk ekspansi atau investasi justru dialokasikan untuk aksi buyback.

Buyback saham, tambah Erri, bakal dilakukan dalam jangka waktu 12 bulan sejak persetujuan diperoleh. “Total anggaran yang disiapkan mencapai Rp2 triliun,” ujarnya seperti dikutip Kabarbursa.com, Jumat, 21 Maret 2025. 

Chandra Asri menambahkan, tujuan utama perseroan mengambil langkah buyback saham adalah untuk menstabilkan harga saham di tengah volatilitas pasar, meningkatkan kepercayaan investor, dan memberikan fleksibilitas bagi perusahaan dalam mengelola struktur modal. “Terakhir adalah untuk mengoptimalkan nilai pemegang saham,” sambung dia.

Secara teori, buyback saham dapat membantu meningkatkan laba per saham (EPS) dengan mengurangi jumlah saham beredar. Namun, dalam kondisi valuasi yang tinggi, ada risiko bahwa langkah ini tidak memberikan manfaat optimal bagi pemegang saham dalam jangka panjang.

Jika buyback dilakukan di harga yang tinggi dan harga saham tidak mengalami kenaikan yang signifikan setelahnya, maka efektivitas aksi ini patut dipertanyakan.

Selain itu, dana Rp2 triliun yang digunakan untuk buyback berpotensi mengurangi fleksibilitas keuangan perusahaan dalam melakukan ekspansi bisnis, investasi di proyek baru, atau inovasi produk. Investor perlu mempertimbangkan apakah keputusan ini lebih menguntungkan dibandingkan strategi pertumbuhan lainnya.

Apa Dampak buat Investor?

Bagi investor, aksi buyback ini memiliki beberapa implikasi penting yang pertama adalah dana Rp2 triliun yang digunakan untuk buyback seharusnya dapat dialokasikan untuk investasi baru, pengembangan produk, atau ekspansi bisnis. 

Berdasarkan laporan keuangan Chandra Asri per 31 Desember 2024, perusahaan memiliki likuiditas yang solid dengan total likuiditas mencapai USD2,4 miliar. Dengan kurs Rp15.000 per USD, ini setara dengan Rp36 triliun. Rencana buyback saham senilai Rp2 triliun hanya sekitar 5,5 persen dari total likuiditas tersebut, sehingga tidak akan mengganggu kondisi keuangan perusahaan.​

​Rencana buyback saham senilai Rp2 triliun oleh Chandra Asri dapat mempengaruhi rasio keuangan perusahaan, khususnya Debt-to-Equity Ratio (DER) dan Return on Equity (ROE).

DER berpotensi meningkat karena buyback mengurangi ekuitas tanpa mempengaruhi total utang, sehingga proporsi utang terhadap ekuitas naik dari 0,28 menjadi 0,29. Ini menunjukkan sedikit peningkatan risiko keuangan, meskipun masih dalam batas wajar.

Di sisi lain, buyback juga dapat meningkatkan ROE karena ekuitas berkurang sementara laba bersih tetap, sehingga efisiensi penggunaan ekuitas meningkat dari 2,78 persen menjadi 2,94 persen.

Sementara itu, dengan Price to Book Value (PBV) sekitar 14,38 kali dan Price to Sales (P/S) yang tinggi (21,22 kali), ada kemungkinan buyback dilakukan saat harga saham sudah mahal. Jika harga saham turun setelah buyback selesai, investor dapat mengalami kerugian, terutama jika tidak ada perbaikan signifikan dalam kinerja fundamental perusahaan. 

Sebagai pembanding, secara historis, industri petrokimia memiliki PBV rata-rata sekitar 1 hingga 3 kali. Angka ini dapat bervariasi tergantung pada kondisi pasar, kinerja perusahaan, dan faktor ekonomi lainnya.

Per tanggal 21 Maret 2025, harga saham TPIA Rp7.275 per 14.00 WIB. Dalam sebulan terakhir, harga saham TPIA menunjukkan tren kenaikan signifikan sebesar 41,44 persen. Namun, sejak awal tahun, saham TPIA mengalami koreksi sebesar 8,67 persen year to date (ytd).

Dapat dikatakan, buyback sering kali dipandang sebagai sinyal positif, tetapi tidak selalu berarti harga saham akan naik dalam jangka panjang jika tidak didukung oleh fundamental yang kuat.

Oleh karena itu, investor perlu mempertimbangkan apakah buyback ini merupakan langkah strategis atau hanya upaya sementara untuk menjaga harga saham. Ada risiko bahwa dana Rp2 triliun yang digunakan untuk buyback seharusnya bisa lebih bermanfaat jika dialokasikan untuk ekspansi bisnis atau inovasi.

Di samping itu, buyback ini memang bisa membantu menahan harga saham dalam jangka pendek dengan mengurangi jumlah saham beredar dan meningkatkan kepercayaan investor. Namun, dengan valuasi saham yang sudah tinggi dan belum adanya perbaikan kinerja fundamental yang signifikan, ada kemungkinan aksi ini lebih bersifat menjaga harga daripada menciptakan nilai jangka panjang. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait