KABARBURSA.COM – PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) resmi menetapkan pembagian dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp355,53 miliar atau setara Rp99,99 per saham. Keputusan tersebut disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 29 April 2026.
Melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen TUGU menyebut jadwal cum dividen di pasar reguler dan negosiasi jatuh pada 8 Mei 2026, sementara ex dividen berlangsung pada 11 Mei 2026. Adapun pembayaran dividen dijadwalkan pada 3 Juni 2026.
Pembagian dividen tersebut ditopang oleh laba bersih TUGU sepanjang 2025 yang mencapai Rp711,06 miliar. Perseroan juga mencatat saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya sebesar Rp6,22 triliun dengan total ekuitas mencapai Rp10,17 triliun.
Dengan nilai dividen hampir Rp100 per saham, TUGU kembali menjaga tradisi pembagian dividen yang relatif menarik di sektor asuransi. Langkah tersebut juga memperlihatkan posisi kas dan struktur permodalan perusahaan masih cukup solid untuk menopang distribusi laba kepada pemegang saham.
Menariknya, momentum pembagian dividen ini muncul ketika pergerakan saham TUGU justru sedang berada dalam fase koreksi harian. Pada perdagangan 11 Mei 2026, saham TUGU ditutup di level 1.205 atau turun 4,37 persen dibanding penutupan sebelumnya.
Meski harga saham melemah, arus dana asing justru mulai menunjukkan akumulasi. Data perdagangan menunjukkan investor asing membukukan foreign buy sebesar Rp3,13 miliar dengan foreign sell sekitar Rp679,27 juta, sehingga tercatat net foreign buy sekitar Rp2,45 miliar.
Aktivitas transaksi saham TUGU pada perdagangan tersebut mencapai Rp8,40 miliar dengan volume sekitar 70,12 ribu lot dan frekuensi transaksi sebanyak 1,69 ribu kali. Saham dibuka di level 1.200 sebelum akhirnya ditutup di area 1.205.
Kondisi tersebut membuat pergerakan TUGU mulai menarik perhatian pasar. Di satu sisi saham mengalami tekanan setelah memasuki periode ex dividen, tetapi di sisi lain investor asing justru mulai mencatatkan arus beli bersih.
Dalam banyak kasus di pasar modal, fase setelah ex dividen memang sering diwarnai tekanan harga jangka pendek karena sebagian investor melakukan profit taking setelah cum date berlalu. Namun perhatian pasar biasanya akan kembali mengarah pada kekuatan fundamental emiten dan konsistensi pembagian dividennya.
Untuk TUGU, pasar kini mulai melihat bagaimana perusahaan menjaga keseimbangan antara pembagian laba kepada pemegang saham dan kemampuan mempertahankan struktur modal yang sehat. Terlebih di tengah dinamika industri asuransi dan kondisi pasar yang masih fluktuatif sepanjang 2026.
Di sisi lain, posisi laba ditahan TUGU yang mencapai lebih dari Rp6 triliun juga mulai memberi ruang bagi pasar untuk memperhatikan fleksibilitas keuangan perseroan dalam menjaga ekspansi bisnis maupun kebijakan dividen ke depan.(*)