- UberX: Layanan taksi hemat biaya dengan pengemudi menggunakan kendaraan pribadi.
- Uber Pool: Opsi berbagi perjalanan untuk menghemat biaya dengan penumpang lain yang memiliki tujuan serupa.
- Uber Eats: Layanan pengantaran makanan yang menghadirkan hidangan favorit dari restoran lokal ke depan pintu Anda.
- Uber Black: Pilihan eksklusif dengan kendaraan mewah dan pengemudi profesional.
- Uber Comfort: Pengalaman berkendara lebih nyaman dengan pengemudi berpengalaman.
- Uber Freight: Menghubungkan pengirim dan pengangkut barang dengan efisiensi maksimal.
Aplikasi Uber telah merevolusi cara orang memesan perjalanan, melacak lokasi pengemudi, hingga melakukan pembayaran secara digital. Model bisnis berbasis permintaan ini telah mengguncang industri transportasi global.
Namun, perjalanan Uber tak selalu mulus. Kritik datang dari berbagai pihak, mulai dari masalah kesejahteraan pengemudi, regulasi pemerintah, hingga isu keamanan. Meski demikian, Uber tetap menjadi kekuatan dominan di kancah transportasi global.
Ekspansi dan Inovasi Tiada Henti Uber terus bereksperimen dan memperluas cakupan layanannya untuk mempertahankan dominasinya. Salah satu langkah strategis terbarunya adalah peluncuran program keanggotaan Uber One di tujuh negara baru seperti Belgia, Brazil, Republik Dominika, Ekuador, Polandia, Puerto Rico, dan Swiss. Hingga kini, program tersebut sudah tersedia di 25 negara.
Di sektor periklanan, Uber mengintegrasikan item bersponsor dalam fitur Uber Eats di Brazil, Chili, Kosta Rika, dan Meksiko, mendorong lebih dari 550 ribu merchant untuk menggunakan layanan ini pada kuartal keempat, dengan peningkatan 75 persen dari tahun sebelumnya. Pendapatan iklan mereka pun telah melampaui angka USD900 juta.
Selain itu, Uber terus meluncurkan produk dan fitur baru seperti UberX Share, Taxi, Uber Connect, Uber Rent, Uber Valet, serta Carshare, memperluas jangkauannya ke area-area baru.
Dominasi Global di Sektor Ride-Hailing Sebagai pemain pertama dalam industri ini, Uber berhasil merajai pasar ride-hailing dunia dengan pangsa pasar sebesar 25 persen pada tahun 2022, meninggalkan jauh di belakang pesaing utamanya, Lyft, yang hanya menguasai 8 persen pangsa pasar.
Lebih dari itu, Uber memiliki saham signifikan di beberapa operator ride-hailing lain, termasuk kepemilikan 12 persen pada Didi, pemain besar di China, dan 14 persen pada Grab, raksasa ride-hailing asal Singapura, dengan total nilai kepemilikan gabungan mencapai USD4 miliar.
Peningkatan Return Imbas Kinerja Positif Harga saham Uber melonjak signifikan dalam setahun terakhir, meningkat 84,16 persen—jauh melampaui benchmark S&P 500 yang hanya mencatatkan return 25 persen. Hal ini mencerminkan keyakinan investor terhadap masa depan Uber yang lebih cerah, terlebih setelah perusahaan ini berhasil mencetak keuntungan pada 2023, sebuah pencapaian yang sebelumnya selalu luput dari genggaman.
Meski demikian, jika dilihat dari perspektif lima tahun, performa saham Uber cenderung tertinggal dari S&P 500, dengan return hanya sebesar 72,02 persen dibandingkan dengan benchmark yang mencatat 76,67 persen. Tren negatif ini bahkan semakin parah pada tahun 2020 dan 2022 dengan penurunan return hingga -50 persen.
Namun, sejak 2023, Uber menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang signifikan, dengan kinerja bisnis yang terus membaik dan tren return yang kembali naik. Jika kinerja ini terus dipertahankan, Uber memiliki potensi besar untuk memberikan return yang lebih tinggi di masa mendatang.
Kinerja Keuangan Uber
Pendapatan Uber mencatat pertumbuhan pendapatan yang stabil dengan tingkat pertumbuhan dua digit secara kuartalan. Pada Q4 2023, pendapatan Uber meningkat 15 persen YoY dibandingkan periode yang sama pada 2022. Dari tiga segmen bisnis utama Uber, Mobility menjadi kontributor terbesar dengan 56 persen dari total pendapatan, diikuti oleh segmen Delivery (31 persen) dan Freight (13 persen).
Laba Tahun 2023 menandai titik balik penting bagi Uber. Setelah mengalami kerugian berturut-turut sejak 2019, Uber akhirnya mencatat laba bersih sebesar USD1,88 miliar, menandakan keberhasilan model bisnis yang mulai membuahkan hasil nyata.
Proyeksi Keuangan Uber diproyeksikan meraih pendapatan sebesar USD51 miliar pada 2025, meningkat 35,62 persen dari posisinya saat ini. Di sisi laba, diperkirakan akan mencapai USD4,63 miliar, naik 146,28 persen pada periode yang sama.
Valuasi Per 7 Mei 2024, harga saham Uber berada di angka USD71,51. Rasio EV/EBITDA Uber berada di 22,4x, sedikit lebih tinggi dari rata-rata dua tahunnya di 21,5x. Dari perspektif P/E ratio, valuasi Uber juga cukup mahal dengan rasio 39,5x dibandingkan rata-rata industri 27,1x.
Meski begitu, analis optimis dengan potensi Uber. Pluang memproyeksikan harga wajar saham Uber berada di USD89,79, memberikan potensi upside sebesar 25,6 persen dari titik harga saat ini. Analis pun menyematkan rekomendasi BUY untuk saham Uber.(*)