Market Hari Ini 29 Oct 2025 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

UBS Naikkan target 49 Persen, ADRO jadi Primadona Lagi

UBS Global Research menaikkan target harga Alamtri (ADRO) jadi Rp3.300 per saham. Pasar langsung bereaksi positif, harga melonjak 7 persen dan prospek jangka panjangnya makin solid di sektor energi dan aluminium.

UBS naikkan target harga Alamtri jadi Rp3.300. Saham ADRO melonjak 7,28 persen setelah riset UBS menyoroti potensi smelter aluminium dan ekspansi energi bersih.

PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) melalui anak usaha PT Maruwai Coal melaporkan progres eksplorasi hingga kuartal III 2025. (Foto: Dok. Alamtri Resources Indonesia)
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) melalui anak usaha PT Maruwai Coal melaporkan progres eksplorasi hingga kuartal III 2025. (Foto: Dok. Alamtri Resources Indonesia)

Daftar Isi

  1. 01 Pasar Sambut Positif, Harga Melesat 7,28 Persen

KABARBURSA.COM – Kabar segar datang dari UBS Global Research. Bank investasi dan lembaga keuangan terbesar di dunia yang berbasis di Zürich, Swiss, ini baru saja menaikkan target harga saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) secara signifikan sebesar 49 persen.

Dengan begitu, target harga ADRO saat ini menjadi Rp3.300 per saham dari sebelumnya Rp2.220 per saham. Kenaikan target ini bukan tanpa alasan. UBS menilai pasar selama ini terlalu meremehkan potensi besar Adaro, terutama dari proyek smelter aluminium dan ekspansi energi bersih yang tengah dijalankan.

Tidak hanya menaikkan target, ADRO bahkan masuk ke dalam daftar UBS APAC Key Call List. Artinya, saham ini dianggap menjadi salah satu pilihan unggulan di sektor tambang Asia-Pasifik. 

Dalam risetnya tertanggal 28 Oktober 2025, UBS memproyeksikan pertumbuhan laba per saham (EPS) Adaro dengan CAGR mencapai 27 persen untuk periode 2025–2028. Optimisme ini didasari oleh tiga hal, yaitu arus kas yang kuat dari bisnis batubara dan energi eksisting, dividen serta buyback yang konsisten dengan payout ratio stabil di 40%, serta valuasi yang masih tergolong murah. 

Dengan rasio P/BV 0,7x dan EV/EBITDA 2,9x untuk estimasi tahun fiskal 2025, Adaro dianggap undervalued dibandingkan emiten energi regional lainnya.

Dari sisi bisnis, UBS menilai kombinasi proyek hilirisasi dan diversifikasi Alamtri kini menjadi fondasi utama pertumbuhan jangka panjang. Proyek smelter aluminium di Kalimantan Utara menjadi salah satu pilar transformasi perusahaan dari eksportir batu bara mentah menuju perusahaan energi terintegrasi. 

Sementara itu, ekspansi solar farm menegaskan arah baru perusahaan ke energi bersih, menyesuaikan dengan tren global menuju dekarbonisasi. Dengan arus kas besar dari segmen batu bara yang masih produktif, Alamtri memiliki fleksibilitas tinggi untuk membiayai investasi tanpa membebani neraca.

Pasar Sambut Positif, Harga Melesat 7,28 Persen

Menariknya, respon pasar langsung positif terhadap kabar ini. Pada perdagangan Rabu, 29 Oktober 2025, saham ADRO melonjak 7,28 persen ke level Rp1.915 per saham, dengan nilai transaksi fantastis mencapai Rp505 miliar dari volume 2,71 juta lot. 

Angka ini merupakan salah satu volume tertinggi dalam dua pekan terakhir. Level tertinggi harian sempat menyentuh Rp1.935, sebelum ditutup di bawahnya karena aksi ambil untung jangka pendek. Harga pembukaan di Rp1.785 menunjukkan adanya gap naik yang cukup lebar dari sesi sebelumnya. Ini menjadi sebuah indikasi kuat bahwa sentimen UBS langsung memicu euforia beli di awal perdagangan.

Jika menelusuri historical data selama dua pekan terakhir, reli ADRO sebenarnya sudah terbentuk sejak 21 Oktober, tepatnya ketika saham melonjak 6,49 persen ke Rp1.805, disertai nilai transaksi lebih dari Rp500 miliar. 

Tren penguatan berlanjut bertahap hingga pekan terakhir Oktober, dengan pola yang menunjukkan akumulasi sehat di area Rp1.760–Rp1.785. 

Setelah sempat stagnan pada 28 Oktober di Rp1.785, pengumuman riset UBS menjadi katalis kuat yang memicu lonjakan harga. Rata-rata transaksi (average price) harian yang meningkat dari Rp1.784 ke Rp1.864, menandakan bahwa tekanan beli benar-benar dominan.

Secara teknikal, struktur harga ADRO kini mulai mengarah ke fase bullish setelah lama bergerak sideways di bawah Rp1.800. Level Rp1.750, yang sebelumnya menjadi support kuat, kini telah dikonfirmasi sebagai titik pantulan. 

Selama dua minggu terakhir, pergerakan harga menunjukkan pola higher low dan higher high, tanda klasik bahwa momentum kenaikan mulai terbentuk kembali. Jika tekanan beli berlanjut, area Rp1.950–Rp2.000 akan menjadi resistance penting berikutnya, sekaligus zona uji untuk reli lanjutan menuju target jangka menengah Rp2.200, sebelum potensi bergerak lebih tinggi ke kisaran target UBS di Rp3.300.

Dari sisi frekuensi transaksi, data memperlihatkan lonjakan aktivitas signifikan dengan lebih dari 38 ribu kali transaksi pada 29 Oktober. Angka ini naik hampir tiga kali lipat dibanding rata-rata harian pekan sebelumnya. 

Lonjakan mengindikasikan adanya minat baru dari investor institusional dan ritel, terutama setelah laporan UBS memberi validasi terhadap prospek Alamtri. Meski belum terlihat data pasti mengenai arus beli asing pada hari tersebut, tren historis selama pekan sebelumnya menunjukkan pergeseran posisi investor asing yang mulai berbalik net buy setelah sempat menjual bersih selama pertengahan Oktober.

Kendati demikian, euforia ini juga perlu dibaca dengan hati-hati. Dalam konteks valuasi, kenaikan cepat sering kali diikuti fase penyesuaian harga jangka pendek, apalagi setelah gap naik yang cukup lebar di awal sesi. 

Selama volume tetap tinggi dan koreksi terbatas di bawah Rp1.850, tren kenaikan masih terjaga. Namun, jika tekanan jual muncul di area Rp1.900–Rp1.950 tanpa konfirmasi volume besar, potensi profit taking jangka pendek bisa menahan momentum.

Secara keseluruhan, kinerja saham ADRO kini sedang menapaki fase re-rating setelah lama undervalued. Riset UBS menjadi pemicu perubahan persepsi pasar terhadap potensi transformasi Alamtri, dari perusahaan batu bara konvensional menjadi pemain energi dan material strategis global. 

Dengan proyek smelter aluminium yang mulai konkret, ekspansi energi bersih, dan distribusi dividen konsisten, Adaro tampak siap memasuki babak baru pertumbuhannya. 

Untuk saat ini, sentimen pasar tampak berpihak. Fundamental kuat, katalis jelas, dan arus beli sedang deras. Tapi seperti biasa di pasar modal, euforia harus tetap diseimbangkan dengan disiplin, karena bahkan saham sekuat Alamtri pun perlu waktu untuk benar-benar mencapai target ambisius Rp3.300 dari UBS.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait