Market Hari Ini 06 Jun 2026 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

UNVR Berikan Dividen 100 Persen: Ada Strategi Apa?

UNVR membagikan seluruh laba sebagai dividen setelah RUPST. Namun di saat yang sama, investor asing justru terus keluar dan harga saham menyentuh level terendah dalam beberapa tahun terakhir.

UNVR membagikan dividen Rp201 per saham dengan payout ratio 100%, namun tekanan jual asing dan pelemahan harga saham masih berlanjut.

UNVR memutuskan membagikan total dividen Rp201 per saham untuk tahun buku 2025. (Foto: dok UNVR)
UNVR memutuskan membagikan total dividen Rp201 per saham untuk tahun buku 2025. (Foto: dok UNVR)

KABARBURSA.COM - Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar 4 Juni 2026, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) memutuskan membagikan total dividen Rp201 per saham untuk tahun buku 2025. 

Angka tersebut setara dengan rasio pembayaran dividen atau dividend payout ratio (DPR) sebesar 100 persen dari laba bersih. Artinya, seluruh laba bersih yang dihasilkan perusahaan dibagikan kepada pemegang saham.

Keputusan ini kemudian menjadi pertanyaan besar, ada rencana apa di balik pembagian penuh laba 2025 tersebut? Sebab, alih-alih sebagai dividen rutin, ada kepentingan menarik lebih banyak investor dengan godaan dividen jumbo.

Dalam empat hari perdagangan terakhir, harga saham UNVR turun dari Rp1.665 menjadi Rp1.570 per saham atau terkoreksi sekitar 5,7 persen. Data perdagangan menunjukkan investor asing masih melakukan penjualan bersih (net sell) secara agresif.

Pada 2 Juni, net sell asing mencapai Rp20,17 miliar. Sehari berikutnya mencapai Rp15,90 miliar. Pada 4 Juni sebesar Rp9,92 miliar, dan kembali membesar menjadi Rp16,38 miliar pada 5 Juni.

Secara nominal, dividen Rp201 per saham memang terlihat menarik. Dari jumlah tersebut, Rp87 per saham telah dibayarkan sebagai dividen interim pada Desember 2025, sementara sisanya Rp114 per saham akan dibagikan pada 30 Juni 2026.

Total nilai dividen mencapai sekitar Rp7,63 triliun.

Angka tersebut bahkan lebih besar daripada laba bersih yang dibukukan perseroan dari operasi yang dilanjutkan sepanjang 2025 yang berada di kisaran Rp3,5 triliun. Hal itu dimungkinkan karena perusahaan memanfaatkan saldo laba dan struktur permodalan yang masih cukup kuat.

Dividend payout ratio 100 persen memang menyenangkan bagi investor yang berorientasi pendapatan. Tetapi bagi sebagian investor institusi, rasio sebesar itu juga dapat dibaca sebagai sinyal bahwa ruang investasi internal perusahaan mulai terbatas.

Perusahaan yang sedang berada dalam fase ekspansi agresif biasanya memilih menahan sebagian laba untuk membiayai pertumbuhan bisnis di masa depan. Sebaliknya, perusahaan yang berada dalam fase matang sering kali memilih membagikan porsi laba yang lebih besar kepada pemegang saham.

Data kinerja operasional memberikan petunjuk. Penjualan bersih UNVR sepanjang 2025 tercatat sekitar Rp31,9 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa bisnis masih berjalan solid, tetapi belum sepenuhnya kembali ke era pertumbuhan tinggi yang pernah dinikmati perseroan satu dekade lalu.

Persaingan di sektor consumer goods juga semakin ketat. Produk-produk lokal terus memperkuat posisi mereka di berbagai kategori, mulai dari perawatan tubuh hingga kebutuhan rumah tangga. Di sisi lain, perubahan perilaku konsumen membuat strategi pertumbuhan perusahaan multinasional menjadi lebih menantang dibanding sebelumnya.

Inilah yang kemungkinan menjadi alasan mengapa pasar tidak langsung merayakan dividen jumbo tersebut.

Fokus investor saat ini bukan hanya pada besarnya dividen yang dibagikan, melainkan juga pada kemampuan perusahaan menghasilkan pertumbuhan laba yang berkelanjutan.

Pergerakan harga saham dalam beberapa hari terakhir mencerminkan kekhawatiran tersebut. Menariknya, jika dilihat dari sisi valuasi, posisi UNVR sebenarnya mulai terlihat lebih menarik dibanding beberapa tahun lalu.

Harga saham yang berada di level Rp1.570 membuat dividend yield menjadi relatif tinggi untuk ukuran emiten consumer goods besar. Investor yang membeli saham pada level saat ini berpotensi memperoleh imbal hasil dividen yang jauh lebih menarik dibanding ketika saham diperdagangkan di atas Rp4.000 atau Rp5.000 beberapa tahun lalu.

Namun pasar tampaknya belum sepenuhnya yakin bahwa dividend yield tinggi saja cukup untuk menjadi katalis kenaikan harga saham.

Pernyataan Presiden Direktur Benjie Yap mengenai disiplin alokasi modal dan komitmen menciptakan nilai jangka panjang memang memberikan sinyal optimisme. Keputusan membagikan seluruh laba sebagai dividen memang berhasil menjaga daya tarik saham bagi investor income seeker yang mencari pendapatan rutin.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait