Market Hari Ini 13 Feb 2026 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Utang Bengkak, Moody’s Turunkan Peringkat INDY

Leverage diproyeksi naik ke 7 kali EBITDA pada 2026 akibat lonjakan capex Awak Mas, saham INDY turun tipis ke 3.570.

Moody’s turunkan rating INDY ke B1 akibat lonjakan utang dan capex Awak Mas. Saham melemah ke 3.570.

Utang INDY yang membengkak membuat lembaga pemeringkat Moody's turunkan peringkat kredit. Foto: Dok Indika Energy.
Utang INDY yang membengkak membuat lembaga pemeringkat Moody's turunkan peringkat kredit. Foto: Dok Indika Energy.

Daftar Isi

  1. 01 Proyek Awak Mas
  2. 02 Outlook INDY Stabil
  3. 03 Saham Bergerak Hijau

KABARBURSA.COM – Moody’s Ratings menurunkan peringkat corporate family rating (CFR) PT Indika Energy Tbk (INDY) menjadi B1 dari sebelumnya Ba3. Penurunan peringkat ini disebabkan tekanan leverage, lonjakan belanja modal, dan prospek arus kas yang dinilai belum cukup kuat untuk menopang tambahan utang dalam dua tahun ke depan.

Faktor utama yang mendorong penurunan peringkat adalah memburuknya metrik kredit seiring eskalasi belanja modal proyek tambang emas Awak Mas. Moody’s mencatat, total biaya proyek berpotensi naik menjadi sekitar USD567 juta setelah terjadi kenaikan anggaran sebesar USD100 juta hingga USD150 juta. 

Kenaikan ini sebagian besar akan dibiayai melalui tambahan utang, yang diperkirakan mendorong utang disesuaikan naik menjadi sekitar USD1,4 miliar pada 2026 dari USD1,1 miliar pada 2025.

Kenaikan utang tersebut berdampak langsung terhadap rasio leverage. Moody’s memperkirakan rasio utang terhadap EBITDA akan meningkat menjadi sekitar 7,0 kali pada akhir 2026, dibandingkan sekitar 6,0 kali pada akhir 2025. 

Level leverage tersebut dinilai tidak lagi konsisten dengan profil kredit pada peringkat Ba3 sebelumnya, sehingga penurunan ke B1 mencerminkan risiko keuangan yang lebih tinggi.

Proyek Awak Mas

Di sisi lain, proyek Awak Mas belum memberikan kontribusi laba yang signifikan dalam jangka pendek. Produksi komersial penuh baru diperkirakan dimulai pada 2027. Meski diasumsikan harga emas tetap tinggi dan mampu menghasilkan EBITDA sekitar USD130 juta per tahun saat produksi mencapai 100.000 ounce, kontribusi tersebut belum tersedia pada periode ketika tekanan leverage memuncak. Artinya, tambahan utang muncul lebih dahulu sebelum tambahan EBITDA terealisasi.

Sementara itu, kualitas kredit INDY saat ini masih sangat bergantung pada kinerja anak usaha batu bara, Kideco Jaya Agung. Moody’s memperkirakan harga batu bara termal rata-rata sekitar USD51 per metrik ton pada 2026. 

Dengan asumsi tersebut, EBITDA konsolidasian diproyeksikan hanya stabil di kisaran USD200 juta. Dalam struktur seperti ini, kemampuan menyerap tambahan utang menjadi terbatas karena pertumbuhan laba tidak cukup kuat untuk mengimbangi kenaikan beban pembiayaan.

Moody’s juga menyoroti menyempitnya ruang kepatuhan terhadap covenant utang, khususnya batas maksimum net debt terhadap EBITDA sebesar 3,75 kali pada 2026. Dengan proyeksi leverage yang meningkat, ruang headroom terhadap batas tersebut menjadi lebih tipis. 

Tanpa peningkatan laba yang signifikan atau langkah seperti divestasi aset, fleksibilitas keuangan dinilai berpotensi tertekan.

Outlook INDY Stabil

Meski peringkat diturunkan, outlook direvisi menjadi stabil dari sebelumnya negatif. Outlook stabil mencerminkan ekspektasi bahwa risiko eksekusi proyek Awak Mas akan berkurang seiring progres pembangunan dan bahwa proyek tersebut mulai memberikan tambahan laba pada 2027. 

Selain itu, Moody’s menilai likuiditas INDY masih memadai untuk 12 hingga 18 bulan ke depan, didukung posisi kas, fasilitas kredit yang belum ditarik, serta proyeksi arus kas operasional.

Secara keseluruhan, penurunan peringkat INDY bukan semata-mata karena kinerja operasional saat ini, melainkan karena struktur pendanaan ekspansi yang meningkatkan risiko leverage dalam jangka menengah. 

Lonjakan belanja modal yang dibiayai utang, di tengah kontribusi emas yang belum terealisasi dan harga batu bara yang lemah, menjadi kombinasi utama yang menekan profil kredit perusahaan.

Saham Bergerak Hijau

Kabar Moody’s ini sedikit banyak memberikan pengaruh pada pergerakan saham INDY. Hingga perdagangan Jumat sore, 13 Februari 2026, INDY melemah 0,56 persen ke level 3.570. 

Harga dibuka di 3.610, sempat menyentuh level tertinggi 3.660, lalu berbalik turun hingga mencatatkan level terendah 3.540 sebelum stabil di kisaran 3.570 pada sesi sore.

Pergerakan intraday menunjukkan pola tekanan jual yang muncul setelah fase penguatan di pagi hari. Pada awal sesi, harga sempat bergerak naik mendekati 3.650–3.660, namun momentum tersebut tidak berlanjut. 

Setelah jeda siang, tekanan kembali terlihat dengan harga turun ke bawah level pembukaan dan mendekati area support 3.550. Pola ini mengindikasikan adanya respons pasar terhadap sentimen negatif dari penurunan peringkat kredit.

Dari sisi teknikal jangka sangat pendek, area 3.540–3.550 menjadi support intraday yang berhasil menahan tekanan. Sementara itu, area 3.600–3.660 menjadi resistance terdekat yang gagal ditembus secara konsisten. 

Selama harga masih bergerak di bawah 3.600, sentimen cenderung defensif. Namun, penurunan yang tidak disertai pelemahan tajam menunjukkan belum terjadi panic selling.

Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp18,60 triliun dan posisi harga yang masih jauh dari level tertinggi 52 minggu di 3.840, pergerakan hari ini lebih mencerminkan penyesuaian risiko dibanding aksi jual agresif. 

Secara keseluruhan, pelemahan 0,56 persen pada saham INDY mencerminkan respons pasar terhadap memburuknya profil kredit akibat peningkatan utang dan leverage. 

Namun reaksi harga yang terukur mengindikasikan bahwa pelaku pasar masih menunggu perkembangan lanjutan, khususnya progres proyek Awak Mas dan realisasi kinerja operasional yang dapat mengimbangi kenaikan beban utang.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait