Market Hari Ini 04 Nov 2025 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Utilisasi Mandek, Mesin Laba MTEL Kehilangan Daya

Kinerja MTEL mulai kehilangan momentum; laba kuartalan turun tajam dan efisiensi stagnan di tengah pasar menara yang makin jenuh serta kompetisi utilisasi yang ketat.

Laba MTEL anjlok 21,3 persen, utilisasi menara stagnan, dan prospek bergantung pada monetisasi jaringan fiber yang belum optimal.

Salah satu proyek PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. Foto: Dok MTEL.
Salah satu proyek PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. Foto: Dok MTEL.

Daftar Isi

  1. 01 Operasional Terbatas Pembiayaan Ekspansi
  2. 02 Dividen Masih Jadi Daya Tarik MTEL

KABARBURSA.COM – Sinyal pelemahan mulai terasa di tubuh PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL). Setelah sempat menjadi primadona sektor infrastruktur digital pasca akuisisi besar-besaran menara dari Telkomsel, kini mesin laba perusahaan mulai kehilangan daya dorongnya. 

Laporan kuartal ketiga 2025 memperlihatkan pelemahan yang konsisten di hampir seluruh lini, meski kinerja tahunan masih terjaga di level stabil.

Laba bersih Mitratel merosot 21,3 persen secara kuartalan (qoq) menjadi Rp447 miliar, menandakan adanya tekanan profitabilitas yang mulai nyata. Pendapatan turun 2,1 persen qoq dan 1,5 persen yoy ke Rp2,28 triliun, sementara margin bersih tergerus dari 24,3 persen menjadi 19,6 persen. 

Secara kumulatif, kinerja sembilan bulan pertama 2025 hanya naik tipis 0,9 persen yoy, dengan laba Rp1,54 triliun. Nilai ini setara dengan 74 persen dari target internal UOB Kay Hian, namun masih di bawah konsensus pasar yang menargetkan capaian 70 persen dari proyeksi tahunan.

Di balik stabilitas angka, bisnis Mitratel menunjukkan gejala kejenuhan. Rasio sewa menara (tenancy ratio) yang kini hanya 1,55x, stagnan sejak 2021, menandakan pertumbuhan tambahan pelanggan sudah melambat. 

Setelah mengakuisisi lebih dari 15.000 menara dari Telkomsel, peningkatan utilisasi justru berjalan lambat karena sebagian besar aset baru memiliki tingkat sewa rendah. 

Sebagai perbandingan, Tower Bersama Infrastructure (TBIG) dan Sarana Menara Nusantara (TOWR) masih mencatat rasio 1,7x. Rasio tersebut mempertegas bahwa efisiensi monetisasi aset MTEL tertinggal. 

Di sisi lain, bisnis serat optik yang diharapkan menjadi mesin pertumbuhan baru juga belum optimal. Dengan tenancy ratio hanya 1,22x, jauh di bawah 1,88x milik TOWR. Dengan kata lain, monetisasi aset digital Mitratel masih tertahan.

Operasional Terbatas Pembiayaan Ekspansi

Secara operasional, margin EBITDA memang masih tinggi di 83,6 persen, namun tren penurunannya menunjukkan tekanan dari biaya bunga dan depresiasi akibat ekspansi agresif sebelumnya. Dengan debt-to-equity ratio 0,6x dan interest cover 5,1x, posisi keuangan MTEL tergolong sehat, tetapi ruang untuk pembiayaan ekspansi tambahan kian terbatas. 

Namun, UOB Kay Hian tetap mempertahankan rekomendasi BUY dengan target harga yang direvisi dari Rp820 menjadi Rp700. Rekomendasi ini mencerminkan fase mature market yang dihadapi industri menara, di mana pertumbuhan harga sewa telah mendatar di kisaran Rp10,2 juta per tenant per bulan.

Meski pertumbuhan melambat, peluang jangka menengah masih terbuka melalui ekspansi serat optik. Hingga September 2025, panjang jaringan Mitratel telah mencapai 67.739 kilometer, naik 10,8 persen secara tahunan. 

Jaringan ini menjadi tulang punggung bagi kebutuhan backhaul 5G dan fixed wireless access, terutama di luar Jawa. Walau monetisasinya masih lamban, aset ini menjadi fondasi penting bagi diversifikasi pendapatan di masa depan.

Dividen Masih Jadi Daya Tarik MTEL

Dari sisi kepemilikan, Telkom Indonesia yang memegang 71,9 persen saham MTEL mulai menegaskan arah baru yang lebih berorientasi pada pengembalian nilai. Fokus pada efisiensi modal dan dividen stabil 3–3,4 persen per tahun menjadi daya tarik bagi investor defensif. 

Namun, risiko jangka pendek tetap tinggi. Pertumbuhan laba hanya diperkirakan naik 2,8–4,8 persen per tahun hingga 2027. Artinya, rerating harga saham masih bergantung pada kemampuan MTEL meningkatkan utilisasi menara dan memonetisasi jaringan fiber.

Kinerja MTEL 2025 dengan jelas menggambarkan fase transisi dari ekspansi menuju optimalisasi. Bisnis menara yang dulu jadi motor utama kini memasuki tahap jenuh, sementara pilar baru di segmen fiber mulai disiapkan untuk menopang pertumbuhan jangka menengah. 

Tantangan berikutnya bagi Mitratel bukan lagi soal menambah aset, melainkan bagaimana membuat setiap aset yang sudah ada bekerja lebih efisien dan berkontribusi nyata terhadap margin. Di tengah industri telekomunikasi yang semakin rasional, MTEL kini diuji untuk membuktikan bahwa skala besar tidak selalu menjamin pertumbuhan berkelanjutan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait