Market Hari Ini 02 Oct 2024 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Tim Editorial

Wall Street Anjlok, Ketegangan Timur Tengah Picu Kekhawatiran Investor

Wall Street Anjlok, Ketegangan Timur Tengah Picu Kekhawatiran Investor
Wall Street Anjlok, Ketegangan Timur Tengah Picu Kekhawatiran Investor

Daftar Isi

  1. 01 Taklukan Black September
  2. 02 Sejarah Black September Saham
  3. 03 Mayoritas Indeks Wall Street Cetak Rekor Baru

KABARBURSA.COM - Indeks-indeks utama di Wall Street tergelincir pada perdagangan Selasa, 1 Oktober 2024, didorong meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang meredam optimisme investor meski kuartal sebelumnya ditutup kuat.

Dow Jones Industrial Average turun 173,18 poin atau 0,41 persen menjadi 42.156,97. Sementara itu, S&P 500 jatuh 0,93 persen ke level 5.708,75, dan Nasdaq Composite anjlok 1,53 persen ke posisi 17.910,36.

Di saat yang sama, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak setelah Pasukan Pertahanan Israel melaporkan bahwa Iran melancarkan serangan rudal ke wilayah mereka. Bahkan, indeks volatilitas CBOE (VIX), yang sering disebut sebagai pengukur ketakutan di Wall Street, sempat menembus angka di atas 20, menunjukkan meningkatnya kekhawatiran di kalangan pelaku pasar.

Meski demikian, harga minyak kembali turun dari puncaknya, dan pasar saham sedikit pulih setelah serangan Iran. Ini terjadi karena trader berharap kerusakan yang ditimbulkan serta serangan balasan dari Israel tidak akan meluas.

Manajer portofolio senior di Globalt Investments, Keith Buchanan, menyebut bahwa ketakutan atas meluasnya konflik selalu mengganggu stabilitas pasar. “Selain dampak utama pada manusia, pasar terkena imbas langsung ketika ada kekuatan yang menjanjikan ketidakstabilan yang hampir pasti,” ujarnya.

Sebagian besar saham di S&P 500 mengalami penurunan dalam perdagangan ini, mencerminkan masalah yang meluas di pasar. Namun, saham sektor energi justru melonjak lebih dari 2 persen, didorong laporan terbaru dari Timur Tengah.

Saham teknologi, termasuk Tesla, Nvidia, dan Apple, menjadi yang paling terpukul, berkontribusi pada penurunan terbesar di Nasdaq. Namun, saham Meta Platforms, induk Facebook, justru mencatatkan rekor tertinggi intraday.

Saham berkapitalisasi kecil seperti yang terdaftar di Russell 2000 juga tidak luput dari penurunan, dengan indeks tersebut merosot hingga 1,5 persen.

Taklukan Black September

Perdagangan saham di bulan September akan segera berakhir, dan dalam pekan ini, kita akan melihat dengan lebih jelas bagaimana kinerja bursa Amerika Serikat (AS), khususnya Wall Street, yang telah menunjukkan hasil yang cukup kuat sepanjang bulan ini.

Banyak investor dan analis pasar tengah memperhatikan dengan seksama berbagai faktor yang berkontribusi pada performa positif ini. Data ekonomi terbaru, laporan perusahaan, dan sentimen pasar akan menjadi sorotan utama yang dapat mempengaruhi arah pergerakan saham dalam beberapa hari ke depan.

Para pelaku pasar berharap untuk melihat apakah momentum positif ini akan berlanjut hingga bulan berikutnya, serta dampaknya terhadap keputusan investasi mereka.

Bursa saham AS dipastikan akan menyelesaikan bulan ini dengan keuntungan yang signifikan untuk ketiga indeks utamanya, terutama Nasdaq yang banyak diisi oleh saham teknologi.

Indeks saham Wall Street berhasil mengatasi fenomena yang dikenal sebagai Black September atau September Effect pada tahun 2024 dengan pencapaian yang mengesankan.

Secara umum, bulan September dikenal sebagai periode yang penuh tantangan bagi para investor saham, karena sering kali harga saham mengalami penurunan tajam berdasarkan data historis.

Black September atau September Effect adalah sebuah fenomena musiman dalam perdagangan saham, mirip dengan anomali lainnya seperti January Effect, Sell in May and Go Away, dan Window Dressing.

Sejarah Black September Saham

Fenomena Black September hampir selalu terjadi setiap tahun pada bursa saham AS dan indeks global lainnya. Hal ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti krisis ekonomi, ketidakstabilan politik, atau keputusan kebijakan yang tidak terduga.

Sejarah fenomena ini dimulai pada awal 1970-an ketika AS mengalami resesi, menyebabkan gejolak di bursa Wall Street, di mana Dow Jones jatuh dari 1.000 menjadi 800 pada bulan September.

Krisis keuangan global tahun 1998 juga membawa dampak buruk, tidak hanya bagi Wall Street tetapi juga bagi bursa global lainnya, yang mengalami penurunan tajam di bulan September.

Tragedi 9/11 di AS juga menyebabkan penurunan signifikan, di mana Dow Jones anjlok lebih dari 14 persen, Indeks S&P 500 turun 11,6 persen, dan Nasdaq merosot hingga 16 persen, dengan total estimasi kehilangan valuasi saham mencapai USD1,4 triliun.

Dalam enam tahun terakhir, fenomena Black September telah muncul di bursa Wall Street selama empat tahun berturut-turut sejak 2020.

Mayoritas Indeks Wall Street Cetak Rekor Baru

Mengakhiri perdagangan pekan lalu, ketiga indeks Wall Street berhasil mencatatkan keuntungan mingguan, menandai pekan ketiga berturut-turut mereka meraih gain di bulan September.

Dua indeks utama, S&P 500 dan Dow Jones, mencapai rekor tertinggi terbaru, sementara Nasdaq mengalami penurunan dari puncak yang dicapai pada bulan Juli.

Berikut adalah keuntungan indeks untuk bulan September:

  • S&P 500: 1,59 persen
  • Dow Jones: 1,68 persen
  • Nasdaq: 2,22 persen

Pada akhir perdagangan hari Jumat, 27 September 2024, Dow Jones ditutup di atas rekor tertinggi penutupan yang tercatat pada 24 September, dengan keuntungan mingguan sebesar 0,7 persen. S&P 500 juga mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 0,7 persen, sementara Nasdaq Composite yang didominasi oleh saham teknologi naik 1 persen selama pekan tersebut.

Posisi indeks Wall Street yang mencetak rekor baru dapat dilihat dari grafik di bawah, dengan satu-satunya pengecualian adalah Nasdaq yang mengalami koreksi dari rekor tertinggi.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait