Wall Street Cetak Rekor, Risiko Geopolitik Masih Menghantui

Wall Street cetak rekor baru didorong kinerja emiten, namun ketegangan geopolitik global masih membayangi pergerakan pasar.

Saham AS cetak rekor baru didukung kinerja emiten, tetapi risiko geopolitik global masih menahan optimisme pasar.

Saham AS cetak rekor baru didukung kinerja emiten, tetapi risiko geopolitik global masih menahan optimisme pasar. Foto: PxHere
Saham AS cetak rekor baru didukung kinerja emiten, tetapi risiko geopolitik global masih menahan optimisme pasar. Foto: PxHere

KABARBURSA.COM — Wall Street kembali mencetak rekor baru di tengah lonjakan kinerja emiten besar. Namun, di balik euforia pasar, bayang-bayang konflik Iran masih membayangi pergerakan global, terutama lewat lonjakan harga minyak.

Dilansir dari AP, Kamis, 23 April 2026, Indeks S&P 500 menguat sekitar 1 persen dan melampaui rekor sebelumnya. Dow Jones naik 340 poin atau 0,7 persen, sementara Nasdaq melonjak 1,6 persen dan ikut mencetak rekor tertinggi.

Kenaikan ini ditopang laporan kinerja perusahaan yang melampaui ekspektasi analis. Mayoritas emiten dalam indeks S&P 500 mencatat hasil yang lebih kuat dari perkiraan untuk awal 2026.

Salah satu penggerak utama datang dari GE Vernova yang melonjak 13,7 persen. Perusahaan ini mendapat dorongan dari meningkatnya permintaan listrik, terutama dari sektor pusat data yang terkait dengan perkembangan kecerdasan buatan.

Permintaan peralatan untuk pusat data bahkan mencapai USD2,4 miliar (Rp40,56 triliun) hanya dalam satu kuartal, melampaui total pesanan sepanjang tahun sebelumnya. Perusahaan juga menaikkan proyeksi pendapatan untuk tahun ini.

Saham lain juga ikut terdorong. Boston Scientific naik 9 persen, Boeing menguat 5,5 persen, dan Philip Morris International naik 7 persen setelah melaporkan kinerja yang solid. Meski demikian, pasar tidak sepenuhnya lepas dari kekhawatiran. Kenaikan harga minyak akibat konflik Iran membuat investor tetap berhati-hati.

Harga minyak Brent naik 3,5 persen menjadi USD101,91 per barel (Rp1,72 juta). Kenaikan ini dipicu ketidakpastian terkait perang Iran dan gangguan distribusi minyak global. Konflik di kawasan Teluk Persia menghambat lalu lintas di Selat Hormuz, jalur vital bagi pengiriman minyak dunia. Iran dilaporkan menyerang tiga kapal dan menyita dua di antaranya di wilayah tersebut.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperpanjang gencatan senjata, namun tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran. Langkah ini membuat Iran kesulitan mengekspor minyak mentahnya.

Ketegangan ini memicu ketidakpastian soal kapan pasokan minyak bisa kembali normal. Sejak sebelum konflik, harga minyak Brent sudah melonjak dari sekitar USD70 per barel dan sempat menyentuh lebih dari USD119 per barel.

Meski pergerakan pasar kini lebih stabil, volatilitas masih terasa. Indeks S&P 500 sebelumnya sempat turun hampir 10 persen dari rekor tertingginya sebelum kembali menguat. Di sisi lain, tidak semua saham bergerak naik. Best Buy justru turun 4,6 persen setelah mengumumkan pergantian CEO.

Sementara itu, saham perusahaan ganja melonjak setelah muncul kabar pemerintah AS berencana mengklasifikasikan ulang ganja menjadi zat yang lebih ringan risikonya. Tilray naik 14,2 persen dan Canopy Growth melonjak 20,2 persen.

Di pasar global, pergerakan bursa cenderung beragam. Indeks di Eropa melemah, sementara Asia menunjukkan hasil campuran. Jepang menguat tipis 0,4 persen, sedangkan Hong Kong turun 1,2 persen. Di pasar obligasi, imbal hasil relatif stabil. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di level 4,30 persen.

Kenaikan pasar saham dan lonjakan harga minyak menunjukkan dua arah yang saling tarik menarik. Di satu sisi, kinerja perusahaan mendorong optimisme. Di sisi lain, konflik geopolitik menjaga ketidakpastian tetap hidup.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait