Wall Street Joget Lagi usai Iran-AS Reda

Harga minyak dunia turun usai tensi Iran-AS mereda, saham maskapai dan teknologi langsung melesat di Wall Street.

Wall Street menguat usai harga minyak turun karena tensi Iran-AS mereda. Saham maskapai hingga teknologi langsung melonjak.

Wall Street menguat usai harga minyak turun karena tensi Iran-AS mereda. Saham maskapai hingga teknologi langsung melonjak. Foto: China Daily.
Wall Street menguat usai harga minyak turun karena tensi Iran-AS mereda. Saham maskapai hingga teknologi langsung melonjak. Foto: China Daily.

KABARBURSA.COM — Pasar saham Amerika atau Wall Street kembali bertingkah seperti habis minum kopi tiga gelas. Baru kemarin dunia tegang gara-gara Iran dan Amerika Serikat saling unjuk otot, sekarang investor sudah kembali pesta pora karena harga minyak turun.

Dilansir dari AP, Kamis, 28 Mei 2026, Indeks S&P 500 naik 0,1 persen dan lagi-lagi mencetak rekor tertinggi baru. Dow Jones ikut menanjak 243 poin atau 0,5 persen, sementara Nasdaq naik tipis 0,1 persen.

Yang paling girang justru perusahaan yang selama ini megap-megap bayar bahan bakar mahal. Maskapai penerbangan dan operator kapal pesiar mendadak seperti dapat napas tambahan.

Saham Norwegian Cruise Line Holdings melonjak 5,9 persen. United Airlines terbang 6,5 persen. Delta Air Lines naik 3 persen dan bersiap mencetak rekor harga tertinggi sepanjang sejarah.

Pemicunya sederhana. Harga minyak dunia mendadak turun setelah gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran terlihat masih bertahan.

Harga minyak Brent jatuh 4,6 persen menjadi USD92,25 (Rp1,64 juta) per barel. Sementara minyak mentah acuan Amerika turun 5,5 persen ke USD88,68 (Rp1,57 juta).

Pasar mulai berharap Amerika dan Iran bisa membuka lagi Selat Hormuz supaya kapal tanker minyak bisa kembali keluar masuk Teluk Persia tanpa drama misil dan ancaman perang.

Padahal situasi sebenarnya belum benar-benar adem. Militer Amerika masih meluncurkan serangan yang mereka sebut sebagai operasi “pertahanan diri” di wilayah selatan Iran. Tapi begitulah pasar modal. Kadang misil belum dingin, investor sudah buru-buru hitung cuan.

Yang menarik, saham Amerika sebenarnya tetap kuat sejak awal 2026 meski inflasi masih bikin warga AS mengeluh. Salah satu alasannya karena laporan keuntungan perusahaan ternyata tidak seburuk yang ditakutkan.

Bath & Body Works melonjak 10,7 persen setelah laba kuartalannya melebihi perkiraan analis. Abercrombie & Fitch bahkan terbang 16 persen gara-gara hasil keuangannya lebih kinclong dari prediksi pasar.

Padahal di saat yang sama, konsumen Amerika masih mengaku frustrasi terhadap kondisi ekonomi dan harga barang yang mahal. Fenomena ini memperlihatkan satu hal yang agak satir. Rakyat boleh mengeluh, tapi selama laporan laba perusahaan masih tebal, Wall Street tetap bisa joget.

Produsen pakaian olahraga Lululemon juga ikut naik 4,2 persen setelah mencapai kesepakatan dengan pendirinya, Chip Wilson. Perusahaan itu akan memasukkan mantan kepala pemasaran ESPN dan mantan bos On ke jajaran direksi.

Namun tidak semua saham ikut pesta. Dick’s Sporting Goods justru anjlok 4,5 persen meski laba kuartalannya sebenarnya melampaui ekspektasi.

Masalahnya ada di efisiensi keuntungan. Analis menilai laba yang dihasilkan dari setiap USD1 (Rp17.800) pendapatan masih kurang menggigit.

Saham perusahaan minyak dan gas malah ikut jadi korban setelah harga minyak ambruk. Exxon Mobil turun 1 persen. Chevron tergelincir 1 persen. Halliburton jatuh 3,1 persen.

Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS ikut melunak karena turunnya harga minyak membuat tekanan inflasi sedikit mereda. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke 4,48 persen dari sebelumnya 4,50 persen.

Penurunan ini jadi semacam jeda napas setelah pasar obligasi global sempat bikin deg-degan. Imbal hasil yang terlalu tinggi sebelumnya mengancam pertumbuhan ekonomi dan membuat biaya pinjaman makin mahal.

Kredit rumah di Amerika sudah mencapai level termahal sejak musim panas tahun lalu. Bahkan biaya utang yang mahal dikhawatirkan bisa menghambat pembangunan pusat data AI yang belakangan jadi mesin pertumbuhan ekonomi AS.

Sementara di pasar Asia dan Eropa, pergerakan indeks saham cenderung campur aduk. Korea Selatan jadi salah satu yang paling moncer.

Indeks Kospi melonjak 2,3 persen setelah saham SK Hynix melesat 9,3 persen. Perusahaan chip itu dianggap salah satu penumpang paling bahagia dalam pesta besar kecerdasan buatan alias AI.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait