Wall Street Lesu, Dunia Berbondong ke Aset Aman

Tekanan saham bank dan teknologi mendorong investor global memburu emas, perak, dan minyak di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.

Wall Street melemah dua hari beruntun. Investor global meninggalkan saham dan beralih ke emas, perak, dan minyak di tengah ketidakpastian global.

Wall Street melemah dua hari beruntun. Investor global meninggalkan saham dan beralih ke emas, perak, dan minyak di tengah ketidakpastian global. Foto: Xinhua
Wall Street melemah dua hari beruntun. Investor global meninggalkan saham dan beralih ke emas, perak, dan minyak di tengah ketidakpastian global. Foto: Xinhua

KABARBURSA.COM — Wall Street kembali lesu. Untuk hari kedua berturut-turut, indeks-indeks utama di bursa Amerika Serikat tergelincir, seolah pasar sedang kehabisan napas setelah lari kencang sepanjang awal tahun. Rilis kinerja bank-bank besar memang terlihat kinclong di atas kertas, tetapi di balik angka laba, investor justru disergap rasa waswas oleh tumpukan ketidakpastian ekonomi dan politik global.

Laporan keuangan dari tiga bank terbesar di Amerika Serikat menunjukkan laba yang naik, didorong lonjakan kredit dari konsumen dan pelaku usaha yang rakus pembiayaan, serta kembalinya biaya transaksi dari aktivitas merger dan akuisisi. Namun cerita tak sepenuhnya manis. Salah satu raksasa perbankan, Wells Fargo, justru meleset dari ekspektasi laba pasar.

Alih-alih disambut optimisme, saham-saham bank malah dilepas. Saham Bank of America anjlok lebih dari empat persen. Citigroup tergerus sekitar 4,5 persen. Wells Fargo terperosok lebih dalam, turun lebih dari lima persen.

“Bank-bank sebenarnya memulai tahun ini dengan sangat kuat dan pasar hanya butuh waktu untuk mencerna hasilnya,” ujar Wakil Kepala Investasi Advisors Asset Management, Jake Johnston, dikutip dari Reuters, Kamis, 15 Januari 2026.

Ia menambahkan, “Kami melihat ada sedikit meleset dari beberapa estimasi, tetapi saham-saham ini sudah naik cukup kencang sebelum laporan keluar, jadi koreksi kecil seperti ini bukan hal aneh.”

Tekanan itu menyeret indeks utama Wall Street ke zona merah. Dow Jones Industrial Average turun 0,60 persen ke level 48.894,60. S&P 500 melemah 1,09 persen ke 6.887,62. Padahal, saham-saham perbankan sebelumnya sudah melonjak sekitar 25 persen dalam 12 bulan terakhir sebelum akhirnya tergelincir hari itu.

Gelombang jual tidak berhenti di sektor keuangan. Saham teknologi dan pertumbuhan ikut terseret ketika investor mulai berburu harga murah. Sejumlah saham teknologi besar seperti Broadcom, Palo Alto Networks, dan Fortinet melemah setelah laporan Reuters menyebut otoritas China akan membatasi penggunaan perangkat lunak keamanan siber buatan sekitar selusin perusahaan Amerika Serikat dan Israel.

Indeks teknologi Nasdaq Composite pun ikut terseret turun 1,60 persen ke level 23.330,77. Pasar seolah kehilangan pegangan di tengah derasnya kabar global yang saling bertabrakan.

Di sisi data ekonomi, penjualan ritel Amerika Serikat tercatat naik lebih tinggi dari perkiraan, sementara harga produsen juga merangkak naik tipis pada November. Namun data tersebut belum cukup kuat untuk mengubah ekspektasi besar bahwa Federal Reserve masih akan memangkas suku bunga dua kali sebelum akhir tahun.

Di luar angka-angka ekonomi, pasar juga dihantui kegelisahan politik. Para pelaku pasar bergulat dengan isu independensi The Fed, keinginan Amerika Serikat mengontrol Greenland dan dampaknya bagi aliansi NATO, hingga spekulasi apakah Washington akan menyerang Iran setelah tindakan keras terhadap gelombang protes besar di negara tersebut.

Sentimen terhadap saham sejatinya masih positif, kata Ben Laidler, kepala strategi ekuitas Bradesco BBI. Namun ia mengingatkan bahwa ketidakpastian kebijakan yang dipimpin Amerika Serikat melonjak tajam dan memunculkan tajuk besar bernada “jual Amerika”.

Di pasar mata uang, dolar Amerika Serikat tampak terseok menjaga reli yang dimulai sejak akhir Desember. Meski begitu, ekspektasi bahwa The Fed akan menunggu beberapa bulan sebelum kembali memangkas suku bunga, ditambah ketidakpastian geopolitik, masih memberi penopang bagi mata uang tersebut. Indeks dolar turun 0,15 persen ke 99,04, sementara euro naik tipis 0,08 persen ke level USD1,165.

Dari sisi hukum dan korporasi, Mahkamah Agung Amerika Serikat sempat mengurangi satu beban agenda pasar dengan tidak mengeluarkan putusan soal legalitas tarif global Presiden Donald Trump. Di saat yang sama, investor masih mencerna kabar bahwa raksasa department store kelas atas Saks Global mengajukan perlindungan kebangkrutan.

Namun di tengah pasar saham yang goyah, sebagian dana justru mengalir deras ke aset lindung nilai. Perak melonjak menembus USD92 per ons untuk pertama kalinya. Awal 2025, logam ini masih diperdagangkan di bawah USD30 per ons dan kini sudah melonjak 29 persen hanya dalam sembilan hari perdagangan pertama tahun ini.

Emas pun kembali mencetak rekor. Harga emas sempat menyentuh USD4.641,40 per ons sebelum terakhir diperdagangkan naik 0,43 persen di USD4.607,23 per ons. Tembaga ikut menorehkan level tertinggi baru.

“Semua jalan mengarah ke emas dan perak,” kata Alex Ebkarian, kepala operasi Allegiance Gold. Ia menyebut permintaan datang dari beragam pembeli dan menilai pasar logam mulia kini berada dalam fase bull struktural. Emas memang tidak memberikan bunga, tetapi secara historis tampil prima saat suku bunga rendah dan ketidakpastian tinggi.

Di sisi lain perdagangan global yang sarat ketegangan, kekhawatiran gangguan pasokan dari Iran mendorong harga minyak naik untuk hari kelima berturut-turut. Kenaikan terjadi meski pasar memperkirakan tambahan pasokan dari Venezuela dan muncul kabar perusahaan energi negara itu mulai membalik pemangkasan produksi yang dilakukan saat embargo Amerika Serikat.

Minyak mentah Amerika Serikat naik 1,21 persen ke USD61,89 per barel. Brent menguat 1,34 persen ke USD66,35 per barel. Namun laju kenaikan tertahan oleh laporan American Petroleum Institute yang menunjukkan penumpukan besar stok minyak mentah dan produk turunannya di Amerika Serikat. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait