KABARBURSA.COM – Wall Street kembali dibuat waswas. Setelah sempat menghijau tipis, pasar saham Amerika Serikat ini berbalik arah usai sejumlah pejabat Federal Reserve memberi sinyal bahwa suku bunga masih berpeluang naik sebelum akhir tahun.
Dilansir dari AP, Kamis, 18 Juni 2026 WIB, indeks S&P 500 ditutup melemah 0,5 persen pada perdagangan Rabu dan menghapus seluruh penguatan yang sempat tercipta sebelumnya. Tekanan muncul setelah The Fed merilis proyeksi terbaru yang menunjukkan sembilan dari 18 pembuat kebijakan memperkirakan kenaikan suku bunga masih mungkin terjadi pada 2026.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 71 poin, sementara Nasdaq Composite merosot 0,5 persen. Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury bergerak naik seiring meningkatnya ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat.
Bagi bank sentral, suku bunga tinggi memang menjadi senjata untuk meredam inflasi. Namun bagi pelaku pasar, obat ini punya efek samping yang tidak ringan karena dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi sekaligus menekan harga berbagai instrumen investasi.
Sebelumnya, perdagangan berlangsung cenderung datar karena investor memilih menunggu keputusan terbaru The Fed terkait arah suku bunga. S&P 500 sempat turun 0,1 persen setelah saham-saham teknologi kembali menjadi pemberat pasar.
Hingga siang waktu New York, Dow Jones sempat menguat 125 poin atau 0,2 persen, sedangkan Nasdaq bergerak nyaris tanpa perubahan. Di tengah ketidakpastian pasar, saham-saham yang terkait kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kembali menunjukkan pergerakan ekstrem. Sejumlah emiten yang sebelumnya tertekan berbalik menguat dan menopang indeks.
Jabil misalnya, naik 1,9 persen setelah membukukan kinerja kuartalan yang melampaui ekspektasi analis. Chief Executive Officer Jabil Mike Dastoor mengatakan, “Permintaan terhadap infrastruktur AI tetap sangat kuat.”
Sementara itu, Broadcom melonjak 5,4 persen dan Applied Materials melesat 7,4 persen. Meski begitu, reli saham AI masih dibayangi kekhawatiran lama. Banyak investor mulai mempertanyakan apakah valuasi saham-saham tersebut sudah terlalu mahal akibat euforia kecerdasan buatan yang berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.
Nasib berbeda dialami SpaceX. Setelah sempat menguat di awal perdagangan, saham perusahaan antariksa itu berbalik turun 1,8 persen. Jika tren ini berlanjut, SpaceX berpotensi mencatat kerugian pertamanya sejak debut yang ramai diperbincangkan di pasar saham Amerika pekan lalu.
Di luar sektor teknologi, produsen furnitur La-Z-Boy mencuri perhatian setelah sahamnya melesat 19,1 persen. Kenaikan itu terjadi setelah perusahaan melaporkan laba dan pendapatan yang lebih tinggi dibanding perkiraan analis.
Pertumbuhan tersebut antara lain ditopang kontribusi gerai-gerai baru yang mulai beroperasi. Meski demikian, Chief Financial Officer La-Z-Boy Taylor Luebke mengingatkan bahwa perusahaan masih memiliki “pandangan yang terukur” terhadap kondisi penjualan secara umum.
Data ekonomi terbaru juga memberikan sedikit angin segar. Laporan yang dirilis Rabu menunjukkan pendapatan sektor ritel Amerika pada Mei tumbuh lebih cepat dibanding perkiraan ekonom.
Kondisi itu memunculkan harapan bahwa belanja konsumen yang tetap kuat dapat menopang perekonomian. Namun di sisi lain, inflasi yang masih tinggi membuat banyak warga Amerika semakin pesimistis terhadap kondisi keuangan mereka.
Perhatian utama investor kini tertuju pada The Fed. Mayoritas pelaku pasar memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga acuannya, sebagaimana yang dilakukan sepanjang tahun ini.
Yang lebih ditunggu bukan lagi keputusan hari ini, melainkan peta jalan suku bunga untuk beberapa tahun mendatang serta pernyataan Kevin Warsh setelah rapat pertamanya sebagai Ketua The Fed.
Sebelumnya, pasar sempat berspekulasi bahwa The Fed mungkin perlu menaikkan suku bunga tahun ini untuk mengendalikan inflasi yang terdorong naik akibat lonjakan harga minyak selama konflik Iran.
Namun tekanan itu mulai mereda setelah harga minyak turun ke kisaran USD80 per barel atau sekitar Rp1,36 juta per barel. Penurunan terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan awal terkait konflik yang berlangsung di antara keduanya.
Iran juga disebut akan segera mengambil langkah untuk membuka kembali Selat Hormuz setelah kesepakatan ditandatangani. Jika jalur tersebut kembali beroperasi normal, kapal tanker minyak dapat kembali keluar dari Teluk Persia dan menyalurkan pasokan minyak ke berbagai negara. Harapannya, kelancaran pasokan energi global dapat membantu menurunkan tekanan inflasi.
Akibat ketidakpastian tersebut, pelaku pasar kini terbelah. Sebagian memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga, sesuatu yang selama ini terus didorong Presiden Donald Trump. Namun sebagian lainnya meyakini suku bunga tidak akan berubah hingga akhir tahun. Bahkan masih ada kelompok investor yang menilai kenaikan suku bunga tetap menjadi skenario paling mungkin.
Harga minyak sendiri bergerak naik tipis pada Rabu setelah sebelumnya anjlok tajam. Minyak mentah Brent tercatat naik 0,3 persen menjadi USD79,23 per barel atau sekitar Rp1,35 juta per barel.
Meski masih lebih tinggi dibanding level sekitar USD70 per barel atau sekitar Rp1,19 juta per barel sebelum perang, harga tersebut jauh lebih rendah dibanding posisi di atas USD100 per barel atau sekitar Rp1,7 juta per barel yang sempat terjadi beberapa pekan lalu.
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury tenor 10 tahun bertahan di level 4,43 persen, tidak jauh berbeda dibanding penutupan perdagangan sehari sebelumnya. Tingginya imbal hasil obligasi di berbagai negara masih menjadi sumber kekhawatiran karena dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi sekaligus menggerus nilai berbagai aset investasi.
Sementara itu, bursa saham global bergerak bervariasi. Indeks FTSE 100 London nyaris tidak berubah setelah data menunjukkan inflasi Inggris bertahan di level 2,8 persen pada Mei. Di Asia, indeks Kospi Korea Selatan melonjak 1,6 persen. Sebaliknya, indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,7 persen dan menjadi salah satu pelemahan terbesar di kawasan.(*)