Wall Street Mulai Kehabisan Nafas usai Saham-saham Teknologi Tersungkur

Saham teknologi berbasis AI melemah tiga hari beruntun, menyeret Wall Street di tengah kekhawatiran valuasi dan suku bunga.

Wall Street melemah setelah saham teknologi seperti Nvidia, Microsoft, dan Alphabet terkoreksi. Investor mulai khawatir valuasi AI terlalu mahal.

Mesin penggerak Wall Street mulai kehilangan tenaga. Saham-saham teknologi berbasis AI yang selama ini menjadi bintang pasar justru tersungkur selama tiga hari berturut-turut. Apakah reli saham teknologi sudah mulai kehabisan bahan bakar? Simak ulasan lengkapnya. Foto: PxHere.
Mesin penggerak Wall Street mulai kehilangan tenaga. Saham-saham teknologi berbasis AI yang selama ini menjadi bintang pasar justru tersungkur selama tiga hari berturut-turut. Apakah reli saham teknologi sudah mulai kehabisan bahan bakar? Simak ulasan lengkapnya. Foto: PxHere.

KABARBURSA.COM – Reli panjang Wall Street yang selama ini ditopang saham-saham teknologi mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Setelah berbulan-bulan menjadi mesin penggerak pasar, raksasa-raksasa teknologi kini justru menjadi pemberat utama yang menyeret indeks saham Amerika Serikat ke zona merah.

Perdagangan Kamis, 25 Juni 2026, berlangsung tidak seragam. Dilansir dari AP, indeks S&P 500 turun 0,3 persen, sementara Nasdaq Composite yang sarat saham teknologi merosot lebih dalam sebesar 0,8 persen. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average masih mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan 235 poin atau 0,5 persen.

Pada awal sesi, saham teknologi sempat mengangkat pasar seiring meredanya tekanan dari turunnya imbal hasil obligasi dan melemahnya harga minyak dunia. Namun optimisme itu tak bertahan lama. Menjelang penutupan perdagangan, sektor teknologi kembali kehilangan tenaga dan mencatat pelemahan untuk hari ketiga berturut-turut.

Fenomena ini menjadi perhatian karena saham teknologi, khususnya perusahaan yang terkait kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), selama ini memiliki kapitalisasi pasar yang sangat besar sehingga mampu menggerakkan arah pasar secara keseluruhan.

Nvidia misalnya, kembali melemah 1,2 persen setelah sehari sebelumnya anjlok 4,1 persen. Nasib serupa dialami Micron Technology yang turun 4,1 persen setelah pada perdagangan sebelumnya terperosok hingga 13,2 persen. Microsoft juga ikut terkoreksi sebesar 1,3 persen.

Tekanan juga menghampiri Alphabet, induk usaha Google, yang turun 0,8 persen. Padahal perusahaan tersebut akan menggantikan Verizon dalam indeks Dow Jones mulai pekan depan.

Meski masuknya Alphabet ke Dow Jones menjadi sorotan, banyak investor menilai keberadaannya dalam indeks S&P 500 jauh lebih penting. Alasannya, dana pensiun dan berbagai instrumen investasi ritel di Amerika Serikat lebih banyak menggunakan acuan S&P 500 dibandingkan Dow Jones.

Dengan masuknya Alphabet, kini ada lima anggota kelompok Magnificent Seven yang menghuni indeks Dow Jones. Empat perusahaan lainnya adalah Apple, Amazon, Microsoft, dan Nvidia.

Selama 2026, saham-saham teknologi berbasis AI menjadi bahan bakar utama yang mendorong Wall Street mencetak rekor demi rekor. Namun di balik euforia tersebut, semakin banyak analis yang mulai mengingatkan bahwa valuasi saham-saham AI telah melambung terlalu tinggi.

“Kini fase berikutnya dari siklus investasi kecerdasan buatan mulai berhadapan dengan disiplin pasar,” ujar Kepala Strategi Portofolio Columbia Threadneedle, Jason Vaillancourt, dalam catatan risetnya.

Di saat yang sama, harga minyak dunia terus bergerak turun setelah Amerika Serikat dan Iran membuka ruang negosiasi untuk mengakhiri konflik yang selama ini memicu kekhawatiran pasar energi global.

Minyak Brent yang menjadi acuan internasional turun 3,8 persen ke level USD73,87 per barel atau sekitar Rp1,26 juta per barel. Meski demikian, harga tersebut masih lebih tinggi dibanding posisi sebelum konflik pecah yang berada di kisaran USD70 per barel atau sekitar Rp1,19 juta per barel.

Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat terkoreksi 3,9 persen menjadi USD70,34 per barel atau sekitar Rp1,20 juta per barel. Pelemahan harga minyak ikut menyeret saham-saham energi. Exxon Mobil turun 2,4 persen, sedangkan Chevron kehilangan 2,3 persen.

Di tengah tekanan terhadap sektor teknologi dan energi, saham emiten konstruksi perumahan justru mencuri perhatian. Sentimen positif datang setelah disahkannya regulasi yang dinilai menguntungkan industri tersebut. Saham KB Home melesat 16,7 persen, sementara D.R. Horton melonjak 7 persen.

Dari pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat cenderung melemah sehingga sedikit mengurangi tekanan terhadap pasar saham. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun menjadi 4,40 persen dari sebelumnya 4,50 persen. Adapun imbal hasil obligasi tenor dua tahun bergerak turun ke level 4,14 persen dari 4,16 persen.

Meski mulai melunak, tingkat imbal hasil obligasi masih tergolong tinggi dibanding awal tahun. Kondisi ini terutama terlihat pada obligasi tenor dua tahun yang selama ini menjadi indikator ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.

Bank sentral Amerika Serikat diketahui masih mempertimbangkan kenaikan suku bunga acuan sebelum akhir tahun. Berdasarkan data CME Group, pelaku pasar memperkirakan setidaknya akan ada satu kali kenaikan suku bunga hingga Desember mendatang.

The Fed masih dibayangi kekhawatiran terhadap inflasi yang sulit turun. Sepanjang tahun ini, inflasi terus mendapat tekanan akibat kebijakan tarif yang meningkatkan biaya berbagai barang konsumsi.

Situasi semakin rumit setelah konflik Amerika Serikat dan Iran memicu lonjakan harga energi. Harga bensin sempat melonjak, biaya pengiriman meningkat, dan dampaknya diperkirakan masih akan terasa meski harga minyak dunia kini mulai menurun.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait