Wall Street Tersandung Akibat Ancaman Tarif Trump untuk Eropa

Saham AS melemah usai Trump usulkan tarif 50 persen untuk barang Eropa, memicu kekhawatiran baru dalam ketegangan dagang global.

Wall Street koreksi lebih dari dua persen dalam sepekan setelah Trump ancam tarif baru untuk produk Eropa dan peringatkan Apple soal iPhone buatan luar negeri.

Wall Street koreksi lebih dari dua persen dalam sepekan setelah Trump ancam tarif baru untuk produk Eropa dan peringatkan Apple soal iPhone buatan luar negeri. Gambar dibuat oleh AI untuk KabarBursa.com.
Wall Street koreksi lebih dari dua persen dalam sepekan setelah Trump ancam tarif baru untuk produk Eropa dan peringatkan Apple soal iPhone buatan luar negeri. Gambar dibuat oleh AI untuk KabarBursa.com.

KABARBURSA.COM - Wall Street melemah pada Sabtu, 24 Mei 2025, dini hari WIB dan menutup pekan ini dengan kerugian. Hal ini terjadi setelah mantan Presiden Donald Trump mengusulkan tarif sebesar 50 persen atas produk-produk Eropa. Pernyataan itu kembali memicu tensi dalam perang dagang global, sekaligus mengguncang kepercayaan pasar.

Meski ketiga indeks utama di Wall Street sempat memangkas pelemahan awal, semuanya tetap ditutup di zona merah dan mencatat koreksi mingguan di atas 2 persen. Saham sektor teknologi, layanan komunikasi, dan konsumsi non-primer menjadi penekan utama di antara 11 sektor S&P 500. Sebaliknya, saham sektor utilitas, konsumsi primer, dan energi justru mencatatkan kenaikan.

Dilansir dari Reuters di Jakarta, Sabtu, saham Apple (kode: AAPL.O) turun ke level terendah dalam dua pekan terakhir dan ditutup melemah 3 persen, setelah Trump memperingatkan perusahaan tersebut bisa dikenai tarif hingga 25 persen untuk produk iPhone yang dijual di AS namun diproduksi di luar negeri.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 4,4 basis poin ke level 4,509 persen, setelah sebelumnya sempat menyentuh titik tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.

"Kalau saya kasih judul buat hari ini: ‘Yah, Mulai Lagi!’” kata James St. Aubin, Chief Investment Officer di Ocean Park Asset Management, Santa Monica, California.

"Trump sedang memanaskan isu tarif terhadap Uni Eropa dan Apple. Pasar sempat berharap masa kelam perang dagang sudah lewat. Tapi nyatanya, bara api itu masih menyala,” lanjutnya.

Angka Penutupan Indeks AS:

  1. Dow Jones Industrial Average turun 256,02 poin (0,61 persen) ke posisi 41.603,07
  2. S&P 500 turun 39,19 poin (0,67 persen) ke 5.802,82
  3. Nasdaq Composite turun 188,53 poin (1,00 persen) ke 18.737,21

Selama sepekan, indeks Dow Jones kehilangan 2,47 persen, S&P 500 terkoreksi 2,61 persen, dan Nasdaq melemah 2,48 persen.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyebut bahwa Trump menilai tawaran dagang dari Uni Eropa masih jauh dari memuaskan. Ia juga berharap ancaman tarif baru ini akan “membakar semangat negosiasi” dari pihak Eropa.

Sebagian besar saham-saham big tech dan pertumbuhan ikut tergelincir. Amazon (AMZN.O), Nvidia (NVDA.O), dan Meta Platforms (META.O) masing-masing mencatat penurunan lebih dari 1 persen. Saham Tesla (TSLA.O) ikut turun 0,5 persen.

Indeks Volatilitas CBOE (VIX) yang dikenal sebagai “pengukur ketakutan Wall Street” melonjak ke level tertinggi dalam dua pekan terakhir, ditutup naik 10 persen. Sektor semikonduktor (SOX) juga turun 1,5 persen.

Saham Deckers Outdoor (DECK.N), produsen sepatu bot UGG, anjlok hampir 20 persen setelah perusahaan merilis proyeksi penjualan kuartal pertama yang lebih rendah dari perkiraan dan memutuskan tidak memberikan panduan tahunan karena ketidakpastian ekonomi makro akibat tarif. Saham Nike (NKE.N) juga ikut terseret, turun 2,1 persen.

Volume perdagangan di bursa AS tercatat sebanyak 17,67 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata 17,73 miliar untuk 20 hari perdagangan terakhir.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait