Market Hari Ini 26 Jul 2024 Penulis: Yunila Wati Editor: Tim Editorial

Warren Buffett Obral Saham, Siap Tinggalkan BoFA?

Warren Buffett Obral Saham, Siap Tinggalkan BoFA?
Warren Buffett Obral Saham, Siap Tinggalkan BoFA?

Daftar Isi

  1. 01 Sebar Saham BYD Co

KABARBURSA.COM - Selama enam hari berturut-turut, perusahaan investasi milik Warren Buffett, Berkshire Hathaway menjual saham Bank of America (BoFA) senilai USD2,3 miliar atau sekitar Rp37,4 triliun. Apakah ini sinyal Buffett akan meninggalkan BoFA, seperti yang dilakukan Muhammadiyah kepada Bank Syariah Indonesia (BSI)?

Berkshire Hathaway, perusahaan yang berbasis di Omaha, Nebraska, baru saja menjual 18,9 juta saham pada hari Senin, Selasa, dan Rabu dengan harga rata-rata USD42,46 per saham. Dari transaksi ini, Berkshire berhasil mengantongi dana sebesar USD802,5 juta atau sekitar Rp13,05 triliun.

Dalam enam sesi perdagangan terakhir, Berkshire telah melepaskan 52,8 juta saham Bank of America senilai USD2,3 miliar atau sekitar Rp37,4 triliun. Langkah ini mengurangi kepemilikan Berkshire di Bank of America menjadi 12,5 persen.

Saat ini, Berkshire masih memiliki 980,1 juta saham Bank of America dengan nilai pasar sebesar USD41,3 miliar, menjadikannya posisi terbesar kedua setelah kepemilikan saham di Apple yang bernilai USD172,5 miliar.

Sesuai ketentuan, Berkshire diwajibkan untuk mengungkapkan pergerakan sahamnya dalam dua hari kerja setelah transaksi dilakukan, apabila kepemilikan saham di suatu perusahaan melebihi 10 persen.

Buffett kemungkinan mengurangi kepemilikannya karena alasan valuasi setelah Bank of America, yang berbasis di Charlotte, North Carolina, mengungguli pasar yang lebih luas tahun ini. Saham bank tersebut naik lebih dari 25 persen pada 2024, dibandingkan dengan hampir 14 persen untuk S&P 500.

Ini merupakan pertama kalinya sejak kuartal keempat  2019 bahwa Berkshire mengurangi kepemilikan sahamnya di Bank of America. Pada 2011, Buffett membeli saham preferen dan waran senilai USdD miliar dari bank tersebut untuk meningkatkan kepercayaan saat bank tersebut menghadapi kerugian terkait hipotek subprime setelah krisis keuangan.

Tahun lalu, Buffett masih memuji kepemimpinan di Bank of America, meskipun dia menjual beberapa saham keuangan lainnya. Pada 2022, Berkshire keluar dari beberapa posisi bank yang telah lama dipegangnya, termasuk JPMorgan, Goldman Sachs, Wells Fargo, dan U.S. Bancorp.

Dengan langkah ini, Warren Buffett menunjukkan strategi investasinya yang dinamis dan terus menyesuaikan portofolionya berdasarkan perubahan valuasi dan kondisi pasar.

Sebar Saham BYD Co

Tidak hanya BoFA, Buffett juga menyebar Berkshire Hathaway Inc secara diam-diam menjual sejumlah saham BYD Co yang telah dimilikinya selama lebih dari 15 tahun. Pengajuan ke bursa Hong Kong pada Senin 22 Juli 2024 mengungkapkan bahwa kepemilikan saham Berkshire di BYD turun menjadi 4,94 persen dari sebelumnya 5,06 persen.

Ini jauh di bawah 20 persen dua tahun lalu. Penurunan di bawah ambang batas 5 persen ini berarti Berkshire tidak lagi wajib mengungkapkan penjualan saham lebih lanjut atau bahkan jika mereka sepenuhnya keluar dari posisi mereka.

Berita ini membuat saham BYD di Hong Kong turun hingga 4 persen pada Selasa 23 Juli 2024, penurunan terbesar dalam enam minggu terakhir. Andy Wong, direktur investasi di Solomons Group, mengatakan bahwa Buffett pada akhirnya akan memangkas kepemilikan saham BYD-nya menjadi nol. Setelah itu, saham BYD di Hong Kong diperkirakan akan mencapai titik terendahnya, mengingat fundamental kuat dari pembuat mobil China tersebut.

Buffett, yang dikenal sebagai salah satu investor paling cerdas di dunia, telah meraih keuntungan sebesar 2.000 persen dari investasi awalnya di BYD. Dari penyedia baterai ponsel yang kurang dikenal, BYD berubah menjadi pembuat kendaraan listrik dan hibrida terbesar dalam waktu kurang dari 20 tahun. Dengan valuasi pasar hampir USD100 miliar, BYD kini menjadi pembuat mobil terbesar ketiga di dunia setelah Tesla Inc dan Toyota Motor Corp.

Investor awal lainnya juga telah mengambil keuntungan. Himalaya Capital, yang pernah memiliki 75 juta saham dengan kepemilikan sekitar 8,2 persen, telah mengurangi kepemilikannya di bawah 5 persen pada tahun 2021. Li Lu, Ketua Himalaya, adalah orang yang merekomendasikan BYD kepada mendiang Charlie Munger, mantan wakil ketua Berkshire. Berkshire sendiri membeli 225 juta saham BYD yang terdaftar di Hong Kong pada 2008 dengan harga USD232 juta.

Dana lindung nilai berbasis di Shenzhen, Snow Bull Capital, yang memiliki saham di BYD dan Tesla, mengatakan bahwa BYD mendapat keuntungan besar dari dukungan Buffett ketika perusahaan itu masih tidak dikenal oleh investor. Namun, sekarang dukungan dari miliarder tersebut dianggap tidak terlalu berarti. Taylor Ogan, CEO Snow Bull, mengatakan bahwa yang terbaik bagi saham dalam jangka panjang adalah jika Berkshire menjual semuanya.

Posisi kepemimpinan pasar BYD sebagian besar berasal dari integrasi vertikal yang menekan biaya. Perusahaan ini membuat baterai dan semikonduktor sendiri, bahkan memiliki kapal sendiri untuk mengirim mobil ke luar negeri. Selain itu, jajaran mobilnya yang menarik dan dirancang dengan baik di semua titik harga menjadi keunggulan tersendiri.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait