KABARBURSA.COM – Efisiensi biaya operasional menjadi salah satu faktor peralihan kendaraan niaga konvensional ke listrik, salah satunya untuk truk.
Bukan lagi sekadar mengurangi konsumsi bahan bakar, pelaku usaha kini melihat potensi penghematan yang lebih besar dari total biaya kepemilikan atau total cost of ownership (TCO).
Chief of Business Development Kalista, Yoga Adiwinarto mengungkapkan, pihaknya telah memiliki pelanggan yang menyewa tujuh unit truk listrik ringan untuk kebutuhan distribusi harian.
Armada tersebut mampu menempuh jarak hingga 500 kilometer per hari dengan pola operasional yang telah disesuaikan dengan ketersediaan infrastruktur pengisian daya.
Menurut Yoga, hasil yang diperoleh pelanggan menunjukkan penghematan biaya yang signifikan dibandingkan penggunaan truk berbahan bakar konvensional.
"Kalau ditanya itu sebenarnya masuk apa enggak sih untuk kita mau pakai truk listrik? Kita sudah ada customer itu yang menggunakan truk listrik kurang lebih 7 unit sehari itu jalan 500 kilometer," kata Yoga dalam diskusi publik bertajuk 'Heavy Duty Vehicle Decarbonization Through Zero Emission Truck In Indonesia' yang ditayangkan secara virtual, Rabu 17 Juni 2026.
Ia menjelaskan, armada yang digunakan merupakan truk kategori city delivery duty (CDD) dengan kapasitas angkut sekitar 3 hingga 5 ton.
Meski belum dapat menggantikan seluruh segmen kendaraan logistik berat, performa operasional armada tersebut dinilai cukup menjanjikan. Bahkan, pelanggan yang telah menyewa truk listrik disebut berencana menambah jumlah armada setelah merasakan penghematannya.
"Ternyata ini kita ngomongnya udah bukan lagi fuel saving-nya tapi TCO. TCO saving-nya dia itu sampai 40 persen, dari 35 persen sampai 40 persen itu saving yang mereka dapatkan," kata Yoga.
Menurut dia, penghematan tersebut tetap tercapai meski biaya sewa truk listrik relatif tinggi dibandingkan sewa kendaraan konvensional atau pembiayaan melalui lembaga leasing.
Kalista sendiri mengembangkan model bisnis sewa atau fleet as a service yang memungkinkan perusahaan menghindari investasi awal atau capital expenditure (CapEx) yang besar dari pembelian truk listrik.
Melalui skema sewa truk listrik, biaya investasi armada dapat dialihkan menjadi biaya operasional atau operational expenditure (OpEx) yang dibayarkan secara berkala.
"Kalau Kalista memang kita kan fokusnya adalah penyediaan fleet as a service atau bahasa sehari-harinya nyewain lah. Nyawain truknya ini tadi. Jadi semua yang CapEx di depan itu bisa langsung kita geser menjadi OpEx semua," sebut Yoga.
Meski demikian, ia mengakui bahwa adopsi truk listrik masih membutuhkan ekosistem pengisian daya.
Yoga mencontohkan salah satu pelanggan Kalista yang mengoperasikan armada dari wilayah Balaraja, Banten menuju kawasan industri di Bandung, Jawa Barat.
Untuk mendukung perjalanan sekitar 500 kilometer untuk rute pulang-pergi, armada tersebut memanfaatkan kombinasi pengisian daya di fasilitas pelanggan dan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang berada di KM 88 Tol Cipularang.
Sebanyak 65 persen kebutuhan energi armada dipenuhi melalui SPKLU dengan tarif sekitar Rp2.400 per kWh, sementara sisanya menggunakan pengisian daya di lokasi pelanggan.
Yoga menyatakan, skema tersebut membuktikan bahwa operasional truk listrik jarak menengah sudah dapat berjalan selama didukung jaringan pengisian daya yang memadai.
Namun tantangan berbeda muncul pada segmen truk yang lebih besar. Hingga saat ini, Indonesia masih belum memiliki infrastruktur pengisian daya yang secara khusus dirancang untuk melayani truk heavy duty.
"Nah ini yang mungkin perlu kita dorong bagaimana kita membuat memang heavy duty charging station seperti mungkin di Jerman atau di Belanda yang memang sudah bikin heavy duty charging station," katanya.
Ia menilai pembangunan stasiun pengisian daya khusus kendaraan berat menjadi kebutuhan yang semakin mendesak jika pemerintah ingin mempercepat elektrifikasi sektor logistik.
Selain kapasitas daya yang lebih besar, fasilitas tersebut juga harus dirancang mampu mengakomodasi dimensi dan kebutuhan operasional truk berat.
Menurut Yoga, keberadaan heavy duty charging station akan menjadi faktor kunci dalam memperluas penggunaan truk listrik di sektor logistik nasional.(*)