Otomotif 31 Jan 2026 Penulis: Harun Rasyid Editor: Moh. Alpin Pulungan

Chery Jajaki Produksi Mobil di Pabrik Jaguar Land Rover Inggris

Produsen otomotif Tiongkok, Chery menjajaki pemanfaatan pabrik Jaguar Land Rover di Inggris dalam ekspansi Eropa, berikut tujuannya.

Chery menjajaki produksi kendaraan di pabrik Jaguar Land Rover Inggris. Pembahasan masih awal, seiring ambisi Inggris dongkrak produksi otomotif.

Industri otomotif Inggris dalam tekanan soal produksi, Chery tinjau opsi manfaatkan pabrik Jaguar Land Rover (JLR) sebagai basis produksi. Foto: European Business Magazine
Industri otomotif Inggris dalam tekanan soal produksi, Chery tinjau opsi manfaatkan pabrik Jaguar Land Rover (JLR) sebagai basis produksi. Foto: European Business Magazine

KABARBURSA.COM – Produsen otomotif asal Tiongkok, Chery, tengah menjajaki opsi untuk memanfaatkan pabrik Jaguar Land Rover (JLR) di Inggris.

Langkah Chery dalam manufaktur di pasar otomotif Inggris tersebut, bertujuan untuk menjadikan pabrikan JLR sebagai basis produksi kendaraannya.

CarNewsChina melaporkan, pembicaraan upaya Chery tersebut masih berada pada tahap awal dan belum menghasilkan kesepakatan final dengan pihak JLR.

Mengutip laporan Financial Times dan sejumlah sumber otomotif Tiongkok, opsi yang dibahas mencakup penggunaan fasilitas manufaktur JLR yang dinilai belum dimanfaatkan secara optimal.

Pemerintah Inggris disebut turut mendorong wacana ini sebagai upaya menarik investasi manufaktur otomotif asing ke dalam negeri.

Pejabat Inggris menyatakan kolaborasi dengan Chery dapat dipertimbangkan apabila terdapat pabrik JLR dengan tingkat utilisasi rendah.

Meski demikian, sumber dari Tiongkok menegaskan bahwa diskusi masih bersifat eksploratif dan belum ada kontrak resmi maupun jadwal produksi yang disepakati.

Dari sisi kebijakan industri, pemerintah Inggris menargetkan produksi kendaraan nasional mencapai 1,3 juta unit per tahun pada 2035.

Sementara itu, Society of Motor Manufacturers and Traders (SMMT) memperkirakan produksi kendaraan Inggris pada 2025 hanya sekitar 738.000 unit.

Jumlah tersebut masih jauh di bawah target, sekaligus menandai adanya kesenjangan signifikan terhadap target jangka panjang dalam kemajuan industri kendaraan Inggris.

Chery sendiri, terus memperluas eksistensinya di pasar Inggris melalui merek Omoda dan Jaecoo, yang tercatat sebagai merek Tiongkok dengan pertumbuhan tercepat di negara tersebut.

Ekspansi Chery ini berlangsung di tengah meningkatnya persaingan kendaraan listrik, menyusul kebijakan tarif Uni Eropa terhadap kendaraan listrik buatan Tiongkok yang mendorong produsen seperti BYD menyesuaikan strategi harga.

Secara terpisah, Chery Commercial Vehicle mengumumkan rencana pendirian kantor pusat Eropa pertamanya di Liverpool, Inggris. Fasilitas ini akan menjadi pusat operasi Chery di Eropa, mencakup aktivitas riset, teknik, dan komersial.

Pemerintah setempat menyebut proyek tersebut berpotensi menciptakan lapangan kerja bernilai tinggi dan memperkuat kolaborasi dengan institusi riset regional.

Langkah ini disebut tidak berkaitan langsung dengan pembahasan produksi di pabrik JLR.
Meski demikian, tantangan biaya tetap menjadi pertimbangan. Sumber internal Chery menyoroti tingginya biaya energi dan tenaga kerja di Inggris.

Aspek tersebut dinilai sebagai faktor utama yang memengaruhi kelayakan manufaktur lnggris dan ekspansi Chery dalam kapasitas produksi.

Di sisi lain, Chery telah memiliki fasilitas produksi di Barcelona, Spanyol yang diperoleh dari Nissan, serta baru-baru ini menyepakati akuisisi pabrik Nissan di Afrika Selatan.

Selain Chery, sejumlah produsen mobil China lainnya juga mengambil langkah serupa, termasuk Leapmotor yang diperkirakan memulai produksi di fasilitas Stellantis di Spanyol tahun ini.

Sementara Jaguar Land Rover, yang dikendalikan Tata Motors asal India, sebelumnya telah menjalin usaha patungan dengan Chery.

Pada 2024, JLR memberikan lisensi merek Freelander kepada Chery untuk pengembangan kendaraan listrik berbasis platform Chery.

Pabrikan asal Inggris itu juga sempat terdampak serangan siber pada akhir 2025 yang menyebabkan kerugian sedikitnya 196 juta poundsterling atau lebih dari Rp4,5 triliun.

Sejumlah akademisi yang dikutip dalam sumber Tiongkok menilai pabrik JLR masih berpotensi menampung satu hingga dua model tambahan.

Namun hingga kini, baik pihak Inggris maupun Tiongkok menegaskan bahwa diskusi antara Chery dan JLR masih bersifat awal dan belum disertai komitmen resmi.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HA
Jurnalis

Harun Rasyid

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait