KABARBURSA.COM – Target kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) menguasai hingga 50 persen pasar otomotif nasional dalam beberapa tahun ke depan masih menghadapi berbagai kendala.
Pengamat otomotif Bebin Djuana menilai potensi peralihan ke kendaraan berbasis baterai memang terbuka, tetapi realisasinya bergantung pada kesiapan industri dan pasar.
“Saya melihat masyarakat kita ini sangat suka dengan sesuatu yang modern, yang terkini, yang terbaru. Saat ini kalau kita bicara alat transportasi kelihatannya akan beralih ke tenaga baterai. Artinya peluang untuk ke sana itu kan besar, karena kita punya potensi lebih dari 250 juta orang, potensi lebarnya negara kita dari Sabang sampai Merauke sama dengan lebarnya pantai barat Amerika sampai pantai timur Amerika,” ujar Bebin.
Ia menyebut peluang tersebut tidak hanya berasal dari penjualan kendaraan baru, tetapi juga dari konversi kendaraan lama menjadi listrik.
“Berarti kan banyak sekali yang bisa dikerjakan bagaimana tenaga-tenaga muda seperti di luar sana yang sudah mulai memiliki keterampilan mengubah kendaraan lama menjadi kendaraan bertenaga baterai (konversi),” katanya.
Namun, secara data, pangsa kendaraan listrik masih jauh dari dominasi pasar. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mencatat wholesales mobil listrik berbasis baterai (BEV) Januari–November 2025 mencapai 82.525 unit dari total pasar 710.084 unit atau sekitar 11,62 persen.
Sepanjang 2025, penjualan BEV tercatat 103.931 unit, meningkat dari 43.188 unit pada 2024, 17.051 unit pada 2023, dan 10.327 unit pada 2022.
Dengan total pasar kendaraan nasional sekitar 800 ribu unit per tahun, penjualan BEV perlu mendekati 400 ribu unit untuk mencapai pangsa 50 persen. Artinya, volume penjualan masih harus meningkat beberapa kali lipat dari posisi saat ini.
Di sisi lain, program konversi kendaraan listrik yang diharapkan dapat mempercepat adopsi juga belum berjalan luas. Data Kementerian ESDM menunjukkan realisasi konversi motor listrik masih berada pada ratusan unit sejak program berjalan pada 2022.
Pada 2023, jumlah penerima bantuan tercatat 145 unit, dengan insentif yang meningkat menjadi Rp10 juta per unit pada 2024, sementara biaya konversi mencapai sekitar Rp17 juta per unit.
Sektor logistik menjadi salah satu segmen yang dinilai memiliki potensi adopsi lebih cepat. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 8,98 persen secara tahunan pada kuartal IV 2025. Studi ITDP Indonesia pada 2026 juga mencatat lebih dari 60 persen aktivitas last-mile delivery di perkotaan menggunakan sepeda motor.
Dari sisi industri, Kementerian Perindustrian mencatat kapasitas produksi kendaraan roda empat mencapai 2,59 juta unit per tahun dan roda dua 11,2 juta unit per tahun, dengan keterlibatan lebih dari 1,5 juta tenaga kerja dalam rantai pasok.
Namun, kendaraan listrik membutuhkan komponen elektronik dan semikonduktor lebih besar dibanding kendaraan konvensional, sehingga memerlukan kesiapan kompetensi baru.
Kementerian Perindustrian juga mencatat sekitar 5.472 lulusan vokasi pada 2025 serta pengembangan 10 SMK percontohan untuk elektrifikasi otomotif. Jumlah tersebut masih relatif terbatas dibanding kebutuhan industri yang ditargetkan meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
Bebin menyatakan perubahan industri tetap akan terjadi, tetapi tidak hanya bergantung pada penjualan kendaraan baru. “Kendaraan listrik tidak hanya membeli yang baru, tetapi juga ada konversi dari kendaraan lama. Mesin konvensional diturunkan diganti motor penggerak listrik dan baterai. Ini kan menjadi peluang baru bagi industri dan tenaga kerja untuk berkembang,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, penguasaan pasar hingga 50 persen oleh kendaraan listrik masih memerlukan waktu dan percepatan di berbagai aspek, mulai dari peningkatan volume penjualan, perluasan konversi, hingga kesiapan industri dan sumber daya manusia.(*)