Otomotif 07 Jan 2026 Penulis: Harun Rasyid Editor: Moh. Alpin Pulungan

Geely Siap Masuk Pasar AS, Tabrak Regulasi Perang Dagang?

Geely mengumumkan rencana ekspansi ke AS di CES 2026, memanfaatkan kepemilikan Volvo dan Polestar untuk menghindari tarif tinggi kendaraan China.

Geely umumkan rencana ekspansi ke AS lewat CES 2026, manfaatkan Volvo & Polestar demi hindari tarif impor mobil listrik China di tengah perang dagang.

Ilustrasi Geely berencana ekspansi ke pasar mobil Amerika Serikat. Foto: Harun/KabarBursa.com
Ilustrasi Geely berencana ekspansi ke pasar mobil Amerika Serikat. Foto: Harun/KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Geely Auto yang merupakan grup otomotif asal China mengambil sikap berani dalam pemasaran produk kendaraannnya. Baru-baru ini, Geely Auto berencana memasuki pasar otomotif Amerika Serikat (AS).

Melansir Arena EV, rencana Geely turun ke pasar mobil AS disampaikan di ajang Consumer Electronic Show (CES) 2026 di Las Vegas. 

Hal tersebut disampaikan Kepala Komunikasi Global Geely Holding Group, Ash Sutcliffe. Kini tencana perusahaan untuk memasuki pasar otomotif AS langsung menyita perhatian. 

Sebab hubungan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok masih berada dalam tensi tinggi akibat adanya perang dagang. Namun, yang perlu diingat, keputusan Geely Auto tersebut tidak sembarangan. Geely Auto sebagai perusahaan holding otomotif memiliki portofolio tinggi dalam lanskap industri otomotif global maupun di China.

Sekadar informasi, Geely Auto kini membawahi sederet merek besar, mulai dari Volvo, Polestar, Smart, Lotus, Zeekr, hingga Lynk & Co dengan sebagian di antaranya terfokus penuh pada kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

Di sisi lain, Pemerintah AS saat ini menerapkan tarif besar terhadap kendaraan listrik buatan Tiongkok, serta memperketat regulasi terkait perangkat lunak dan teknologi asal Negeri Tirai Bambu. 

Kebijakan tersebut secara efektif menutup pintu bagi impor langsung bagi produk mobil listrik China. Namun, Geely memiliki Volvo dan Polestar sebagai andalan. Kedua merek tersebut yang berada di bawah kendali Geely, telah lebih dulu beroperasi dan menjual kendaraan di AS, lengkap dengan fasilitas produksi lokal. 

Kondisi ini membuka peluang bagi merek-merek Geely lainnya untuk mengikuti jejak serupa tanpa harus berhadapan langsung dengan hambatan tarif impor.

Meski demikian, pihak Geely tidak terburu-buru untuk berekspansi ke pasar AS. Sutcliffe menyebut, perusahaan baru akan mengumumkan detail ekspansi di AS dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Ia menekankan bahwa yang dimaksud adalah pengumuman strategi, bukan peluncuran produk secara langsung.

Pernyataan tersebut memunculkan spekulasi bahwa Geely tengah menunggu momentum politik yang lebih kondusif, termasuk kemungkinan hadirnya pemerintahan baru di Gedung Putih yang lebih terbuka terhadap kerja sama bisnis dengan perusahaan-perusahaan Tiongkok.

Terlepas dari itu, Geely tetap menunjukkan keseriusannya. Pada ajang CES 2026, perusahaan memamerkan sejumlah model EV kepada pasar global. Lalu, ketika ditanya mengenai potensi hambatan tarif dan regulasi, Sutcliffe coba menepis kekhawatiran tersebut.

“Geely adalah perusahaan internasional yang tahu bagaimana mengatasi masalah seperti ini dan mematuhi berbagai peraturan di seluruh dunia,” kata Sutcliffe dikutip dari Arena EV, Rabu, 7 Januari 2025.

Langkah Geely untuk pasar AS, dinilai sebagai ambisi global untuk menguatkan pasar kendaraan di era elektrifikasi otomotif, meskipun ada perang dagang.

Geely yang kini menjadi rival utama BYD dalam kendaraan elektirfikasi, seolah ingin menunjukkan bahwa persaingan EV ditentukan oleh teknologi hingga strategi geopolitik lintas negara.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HA
Jurnalis

Harun Rasyid

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait