Otomotif 24 Mar 2026 Penulis: Harun Rasyid Editor: Moh. Alpin Pulungan

Industri Otomotif AS Cemas, Desak Trump Larang Peredaran Mobil China

Industri otomotif AS mendesak pembatasan mobil China karena kekhawatiran keamanan dan tekanan persaingan teknologi serta harga.

Industri otomotif AS minta Trump batasi mobil China karena ancaman keamanan dan persaingan harga serta teknologi yang semakin ketat.

Ilustrasi industri otomotif AS serukan Donald Trump agar batasi penjualan mobil China meskipun diproduksi di dalam negeri. Foto: BBC
Ilustrasi industri otomotif AS serukan Donald Trump agar batasi penjualan mobil China meskipun diproduksi di dalam negeri. Foto: BBC

KABARBURSA.COM – Industri otomotif Amerika Serikat (AS) menghadapi tekanan besar di tengah persaingan global yang semakin ketat. Tekanan besar ini datang dari produsen mobil China yang secara agresif memasarkan kendaraan dengan harga terjangkau serta teknologi mutakhir.

Sejumlah asosiasi otomotif besar di AS mendesak Presiden Donald Trump untuk mempertahankan pembatasan ketat terhadap masuknya kendaraan asal China, termasuk yang diproduksi di dalam negeri.

Desakan tersebut disampaikan oleh berbagai organisasi industri, seperti Alliance for Automotive Innovation, National Automobile Dealers Association, Autos Drive America, American Automotive Policy Council, serta MEMA. Mereka mewakili raksasa otomotif seperti General Motors, Ford, Toyota, Volkswagen, Hyundai, hingga Stellantis.

Dalam laporan Reuters, kelompok tersebut meminta pemerintah tetap mempertahankan regulasi keamanan siber yang disahkan pada 2025. Aturan itu secara efektif membatasi kendaraan dengan teknologi terhubung asal China untuk masuk ke pasar AS.

Industri menilai regulasi tersebut dianggap penting untuk menjaga keamanan nasional, sekaligus mencegah dominasi global China di sektor otomotif. 

Mereka juga memperingatkan agar pemerintah AS tidak membuka celah bagi produsen China dengan cara membangun pabrik di AS.

Alasannya, risiko akan tetap ada meski mobil China dirakit di AS, terutama jika perusahaan masih memiliki keterkaitan dengan pemerintah atau rantai pasok China.

Lebih lanjut, aspek konektivitas kendaraan modern juga menjadi sorotan di AS. Industri otomotif Negeri Paman Sam khawatir fitur konektivitas rentan mengancam keamanan negara, termasuk kemungkinan kontrol jarak jauh atau sistem tersembunyi pada kendaraan. 

Di sisi lain, pembatasan mobil China di AS juga berisiko menggerus daya saing produsen lokal. Para pelaku industri otomotif AS juga menilai, mobil China saat ini dikenal lebih murah, kaya fitur, dan berkembang pesat secara teknologi. 

Kondisi ini membuat produsen otomotif AS berpotensi tertinggal dalam beberapa tahun ke depan jika tidak ada proteksi pasar.

Secara historis, AS memang kerap melindungi industri otomotifnya. Pembatasan impor pernah diterapkan terhadap Jepang pada 1980-an dan Korea Selatan pada 1990-an. 

Selain itu, kebijakan seperti tarif “chicken tax” sebesar 25 persen juga masih berlaku untuk melindungi segmen kendaraan tertentu.

Situasi ini menempatkan pemerintahan Trump dalam posisi dilematis. Di satu sisi, ia membuka peluang bagi investasi manufaktur China di AS.

Namun, di sisi lain, tekanan industri domestik dan isu keamanan nasional membuat kebijakan menjadi lebih kompleks, terutama menjelang pembicaraan dagang tingkat tinggi dengan China.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HA
Jurnalis

Harun Rasyid

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait