Otomotif 19 Jun 2026 Penulis: Citra Dara Vresti Trisna Editor: Moh. Alpin Pulungan

Ini Alasan Mengapa Truk Listrik Belum Realistis untuk Logistik Indonesia

Pengamat menilai elektrifikasi truk berat di Indonesia masih terbatas pada tambang dan kawasan industri karena kendala biaya dan infrastruktur.

Adopsi massal truk listrik di Indonesia dinilai belum realistis dalam lima tahun ke depan akibat biaya tinggi dan minimnya infrastruktur.

Ilustrasi truk listrik untuk logistik di Indonesia. Foto: dok KabarBursa.com
Ilustrasi truk listrik untuk logistik di Indonesia. Foto: dok KabarBursa.com

Daftar Isi

  1. 01 China dan Indonesia Berangkat dari Titik yang Berbeda
  2. 02 Tambang dan Kawasan Industri Jadi Kandidat Awal

KABARBURSA.COM – Ambisi China menjadikan kendaraan listrik sebagai 40 persen dari penjualan truk berat baru pada 2030 dinilai masih sulit direplikasi di Indonesia dalam waktu dekat. 

Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai elektrifikasi truk berat di Tanah Air masih realistis untuk penggunaan terbatas, namun belum siap untuk diterapkan secara luas pada sektor logistik nasional.

Reuters pada Kamis, 18 Juni 2026 melaporkan, pemerintah China menargetkan kendaraan listrik mencapai 40 persen penjualan truk berat baru pada 2030 dan sekitar 20 persen dari total armada nasional. Kebijakan itu menjadi bagian dari upaya China menekan konsumsi bahan bakar fosil sekaligus mempercepat transisi energi di sektor transportasi.

Namun menurut Yannes, kondisi Indonesia berbeda jauh dibanding China, baik dari sisi kebijakan, infrastruktur maupun struktur industri. Elektrifikasi truk berat di Indonesia dalam 5 tahun ke depan realistis secara terbatas ya Mas, tetapi tidak realistis untuk adopsi massal," kata Yannes kepada KabarBursa.com, Jumat, 19 Juni 2026.

China dan Indonesia Berangkat dari Titik yang Berbeda

Yannes menjelaskan, keberhasilan China mendorong elektrifikasi kendaraan niaga tidak terlepas dari dukungan ekosistem yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Selain memiliki kapasitas produksi kendaraan listrik terbesar di dunia, China juga didukung insentif pemerintah yang besar, jaringan pengisian daya yang luas, dan rantai pasok baterai yang sudah matang.

“China bisa menargetkan 40 persen penjualan truk berat listrik pada 2030 karena memiliki subsidi besar, jaringan charging dan skala industri raksasa,” ujarnya. 

Menurut dia, faktor-faktor tersebut belum dimiliki Indonesia dalam skala yang memadai untuk mendorong adopsi massal truk listrik.

Meski pemerintah telah mendorong pengembangan kendaraan listrik penumpang, pembangunan infrastruktur pendukung untuk kendaraan niaga berat masih berada pada tahap awal.

Yannes menilai, hambatan terbesar elektrifikasi truk berat di Indonesia bukan hanya soal harga kendaraan, tetapi juga efisiensi operasional. Truk listrik membutuhkan baterai berkapasitas besar untuk menopang perjalanan jarak jauh. Konsekuensinya, harga kendaraan menjadi lebih mahal dibanding truk diesel konvensional.

Selain itu, bobot baterai yang besar juga berpotensi mengurangi kapasitas muatan atau payload yang dapat diangkut kendaraan.

“Hambatan utama adalah harga truk listrik mahal, bobot baterai mengurangi payload, charging berdaya tinggi belum tersedia, dan solar/biosolar masih menjadi penopang biaya logistik kita,” jelasnya. 

Faktor lain yang dinilai menjadi tantangan adalah ketersediaan fasilitas pengisian daya berkapasitas tinggi. Berbeda dengan kendaraan penumpang, truk listrik memerlukan infrastruktur pengisian yang jauh lebih besar agar operasional tetap efisien.

Di sisi lain, penggunaan solar dan biosolar bersubsidi masih menjadi tulang punggung sektor logistik nasional. Kondisi tersebut membuat biaya operasional kendaraan diesel relatif kompetitif dibandingkan alternatif listrik.

Tambang dan Kawasan Industri Jadi Kandidat Awal

Meski belum realistis untuk logistik jarak jauh, Yannes melihat peluang pemanfaatan truk listrik tetap terbuka pada sejumlah sektor tertentu.

Menurut dia, kendaraan niaga berbasis baterai lebih cocok digunakan di area yang memiliki pola operasional tetap dan jarak tempuh terbatas.

“Penerapan paling realistis adalah di tambang, pelabuhan, kawasan industri, distribusi jarak pendek, dan captive fleet, bukan logistik lintas provinsi yang masih langka ekosistem fast charging untuk truk listrik,” ungkapnya.

Penggunaan di kawasan tambang dan pelabuhan dinilai lebih memungkinkan karena kendaraan beroperasi dalam area yang relatif terbatas sehingga kebutuhan infrastruktur pengisian daya dapat dipusatkan di satu lokasi.

Model bisnis seperti ini juga memungkinkan operator mengoptimalkan biaya investasi karena kendaraan digunakan secara intensif dalam lingkungan yang terkontrol.

Untuk sektor logistik antarprovinsi, tantangannya dinilai jauh lebih kompleks. Selain jarak tempuh yang panjang, jaringan pengisian daya cepat untuk kendaraan berat juga belum tersedia secara luas di berbagai jalur distribusi utama.

Akibatnya, kendaraan diesel diperkirakan masih akan mendominasi angkutan barang lintas wilayah dalam beberapa tahun ke depan. Dengan kondisi tersebut, elektrifikasi truk berat di Indonesia kemungkinan akan berkembang secara bertahap melalui sektor-sektor yang memiliki kebutuhan operasional khusus sebelum akhirnya merambah ke jaringan logistik nasional yang lebih luas.

Bagi industri kendaraan niaga, transisi menuju truk listrik tampaknya bukan lagi soal apakah akan terjadi, melainkan seberapa cepat ekosistem pendukung mampu mengejar kebutuhan pasar.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
CI
Ass. Redaktur

Citra Dara Vresti Trisna

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait