Otomotif 27 May 2026 Penulis: Harun Rasyid Editor: Yunila Wati

Insentif EV Diundur, Kelas Menengah Lesu Jadi Sorotan

Penundaan insentif kendaraan listrik hingga Juli 2026 dinilai berisiko membuat konsumen menahan pembelian.

Insentif EV mundur ke Juli 2026. Pengamat menilai daya beli kelas menengah yang melemah ikut membayangi penjualan otomotif nasional.

Pengamat sebut insentif kendaraan listrik manfaatnya jangka pendek dan terbatas. Berkurangnya melas menengah jadi sorotan. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)
Pengamat sebut insentif kendaraan listrik manfaatnya jangka pendek dan terbatas. Berkurangnya melas menengah jadi sorotan. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)

KABARBURSA.COM – Pemberlakuan insentif kendaraan listrik tahun ini diundur satu bulan, dari semula Juni menjadi Juli 2026.

Diundurnya insentif kendaraan listrik  diproyeksikan bakal memiliki dampak dari sisi konsumen hingga rantai pasok industri terkait.

Pengamat Otomotif, Yannes Martinus Pasaribu menyebutkan adanya potensi konsumen menunda pembelian, penjualan yang dapat mengalami kemandekan (stuck), sampai penumpukan stok unit di dealer.

Meski begitu, ia menilai bahwa insentif EV tetap dapat membawa dampak positif, termasuk dalam mendorong konsumsi domestik dan pertumbuhan ekonomi.

"Secara teknis tentunya mampu memberi dorongan positif ya. Tapi dampaknya terbatas dan bersifat stimulus jangka pendek," ujarnya saat dihubungi Kabarbursa.com, Selasa, 26 Mei 2026.

Terkait kontribusi ke ekonomi, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pernah mencatat kenaikan 147 persen dalam realisasi investasi di sektor mobil listrik selama 2023-2025. Lonjakan tersebut memiliki nilai investasi sebesar Rp36,1 triliun.

Yannes melanjutkan, insentif EV terbilang terbatas penikmatnya. Khususnya untuk EV roda empat yang cenderung dinikmati masyarakat golongan ekonomi mapan atau menengah ke atas.

"Sebab sejauh ini kan yang menjadi pembeli BEV (Battery Electric Vehicle) itu adalah kelompok middle upper class yang kebanyakan bukan pemilik satu mobil ya," ucapnya.

Ia lalu menyoroti koreksi masyarakat kelas menengah yang turut memengaruhi penjualan otomotif dalam setengah dekade.

"(Turunnya kelas menengah) inilah yang membuat sales mobil turun dalam lima tahun terakhir. Total dalam lima tahun, 9,48 juta penduduk kelas menengah turun kelas ke kategori rentan miskin atau aspiring middle class," ungkap Yannes.

Penurunan permintaan mobil di pasar domestik, terlihat dari data Gaikindo dalam penjualan (wholesales) mobil sepanjang 2020 yang mencapai 532.027 unit, anjlok 48,35 persen dibanding tahun sebelumnya yang mampu menembus 1 juta unit.

Sedangkan sepanjang 2025, penjualan mobil (wholesales) secara nasional mampu membukukan 803.687 unit, atau turun 7,2 persen dari 2024 yang mencapai 865.723 unit.

Lalu, jika jadi diberlakukan per Juli, akankah insentif kendaraan listrik dengan kuota 200 ribu unit untuk motor dan mobil listrik ini dapat terserap pasar? Kita lihat perkembangannya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HA
Jurnalis

Harun Rasyid

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait