Otomotif 04 May 2026 Penulis: Harun Rasyid Editor: Moh. Alpin Pulungan

Investasi EV Masuk RI, tapi Masih Dihantui Hambatan

Investasi besar kendaraan listrik mulai masuk Indonesia, namun terhambat risiko investasi, keterbatasan SDM, dan kesiapan ekosistem.

Investasi EV di Indonesia meningkat, namun masih terkendala SDM, ekosistem, dan risiko investasi. Simak tantangan industri mobil listrik.

Ilustrasi pabrik mobil listrik. Foto: dok CarMagazine
Ilustrasi pabrik mobil listrik. Foto: dok CarMagazine

Daftar Isi

  1. 01 Terkendala Tenaga Kerja

KABARBURSA.COM – Investasi besar kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) mulai masuk ke Indonesia. Namun, percepatan industri ini menghadapi sejumlah hambatan struktural, mulai dari risiko investasi, kesiapan tenaga kerja, hingga kematangan ekosistem.

Pengamat otomotif Bebin Djuana, menilai gangguan terhadap investasi menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian serius. Ia menyinggung adanya kasus gangguan terhadap pembangunan pabrik yang berpotensi menghambat pengembangan industri EV di dalam negeri.

“Ini sekarang kan kita lihat aja cerita yang sudah terjadi. Saya tidak tahu apakah sudah diatasi atau belum contohnya investasi yang tidak kecil di negara kita, pabriknya diganggu (ormas),” ujar Bebin kepada KabarBursa.com, beberapa waktu lalu.

Menurut dia, pemerintah perlu hadir untuk memastikan investasi berjalan lancar di tengah upaya menjadikan Indonesia sebagai basis produksi, bukan sekadar pasar.

“Kalau sampai ada kerikil-kerikil yang seperti itu ya pemerintah harus hadir, dari tingkat pemerintah daerah sampai pemerintah pusat, mesti menyikapi itu,” kata Bebin.

Di sisi lain, arus investasi EV yang masuk menunjukkan skala industri yang sedang dibangun cukup besar. Produsen asal China, BYD, menyiapkan pabrik senilai USD1 miliar di Subang, Jawa Barat, dengan kapasitas produksi 150.000 unit per tahun.

Sementara VinFast menggelontorkan investasi awal USD300 juta yang direncanakan meningkat hingga USD1 miliar, dengan kapasitas awal 50.000 unit per tahun dan potensi ekspansi hingga 350.000 unit.

Produsen lain seperti Hyundai Motor Company juga telah menanamkan investasi sekitar USD3 miliar dalam pengembangan ekosistem EV di Indonesia, termasuk pembangunan pabrik baterai bersama LG Energy Solution senilai USD1,1 miliar di Karawang.

Namun, investasi tersebut dinilai masih sensitif terhadap kondisi pasar dan lingkungan usaha. Reuters mencatat LG Energy Solution sempat menarik diri dari proyek baterai EV senilai USD8,45 miliar pada April 2025 sebelum kemudian kembali berinvestasi dalam skala lebih terbatas.

Terkendala Tenaga Kerja

Selain faktor investasi, kesiapan sumber daya manusia juga menjadi tantangan. Bebin menilai kebutuhan tenaga kerja di industri EV tidak bisa dipenuhi secara instan.

“Memaksakan supaya orang daerah situ dipekerjakan kalau keterampilannya tidak ada bagaimana?” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya pengembangan keterampilan untuk mendukung industri, termasuk di sektor pendukung seperti perawatan kendaraan.

“Artinya kan perlu lagi langkah-langkah dibangunnya tempat-tempat pengembangan keterampilan misalnya. Karena masyarakat yang di sekitar atau tidak jauh dari situ, kan tidak harus bekerja di pabrik itu, tapi bagaimana menjadi tenaga terampil misalnya di bengkel-bengkel tempat perawatan,” kata dia.

Data Kementerian Perindustrian menunjukkan industri otomotif saat ini menyerap sekitar 38.000 tenaga kerja langsung dan lebih dari 1,5 juta tenaga kerja di sepanjang rantai nilai. Namun, transisi ke kendaraan listrik menuntut keahlian baru, termasuk di bidang baterai, sistem kelistrikan, hingga semikonduktor.

Dari sisi pasar, adopsi EV di Indonesia memang mulai meningkat, tetapi ekosistemnya belum sepenuhnya matang. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia mencatat penjualan mobil listrik pada 2025 mencapai sekitar 103.900 unit atau sekitar 12,93 persen dari total pasar nasional.

Infrastruktur pengisian daya juga terus bertambah. Perusahaan Listrik Negara mencatat jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) telah mencapai lebih dari 4.700 unit pada 2026. Meski demikian, pengembangan ekosistem masih menghadapi tantangan distribusi dan pemerataan.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan pemerintah berupaya memperkuat permintaan domestik sebagai bagian dari strategi pengembangan industri.

“Pemerintah serius membangun industri kendaraan listrik nasional secara menyeluruh. Tidak hanya mendorong sisi produksi, kami juga menjadikan pemerintah sebagai early adopter bagi kendaraan listrik produksi dalam negeri,” ujarnya.

Di tingkat kebijakan, pemerintah juga menargetkan produksi kendaraan listrik mencapai 600.000 unit roda empat pada 2030, sebagai bagian dari pengembangan industri otomotif nasional.

Meski demikian, sejumlah analis menilai ekosistem EV Indonesia masih berada dalam fase awal. Pengamat otomotif Hendra Noor Saleh menyebut pengembangan infrastruktur akan mengikuti pertumbuhan permintaan. “Ketika permintaan meningkat, pasokan akan mengikuti,” ujarnya.

Bebin menambahkan, tantangan industri EV tidak hanya berhenti pada tahap produksi, tetapi juga pada distribusi dan layanan purna jual di seluruh wilayah Indonesia.

“Negara kita demikian besarnya dari Sabang sampai Merauke bahwa produk itu akan menyebar ke mana-mana, dan nanti yang melihara siapa? banyak sekali pekerjaan rumah,” ujarnya.

Ia menilai percepatan industri otomotif global menuju elektrifikasi menuntut kesiapan menyeluruh di dalam negeri. “Ketika dunia atau industri otomotif ini dipacu untuk berlari,” kata Bebin.

Dengan demikian, meski investasi besar mulai masuk dan pasar menunjukkan pertumbuhan, percepatan adopsi EV di Indonesia masih bergantung pada kemampuan mengatasi hambatan struktural di sektor investasi, tenaga kerja, dan ekosistem industri secara keseluruhan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HA
Jurnalis

Harun Rasyid

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait