Otomotif 30 May 2026 Penulis: Harun Rasyid Editor: Tim Editorial

Laba Otomotif Anjlok 17 Persen, Apa yang Sebenarnya Terjadi di Industri EV China?

Sekretaris Jenderal China Passenger Car Association (CPCA), Cui Dongshu menyatakan, margin laba penjualan industri otomotif China periode Januari-April 2026 turun

Laba industri otomotif China turun 17 persen pada Januari-April 2026 akibat kenaikan biaya bahan baku baterai, melemahnya produksi NEV

Industri otomotif China hadapi tekanan besar. Biaya baterai lithium melonjak, laba Industri tergerus 17 persen. Foto: South ChinaChina
Industri otomotif China hadapi tekanan besar. Biaya baterai lithium melonjak, laba Industri tergerus 17 persen. Foto: South ChinaChina

Daftar Isi

  1. 01 Dampak Terhadap Industri Otomotif Global

KABARBURSA.COM – Industri otomotif China yang agresif dengan teknologi elektrifikasi kini menghadapi tekanan berat pada awal 2026.

Margin keuntungan produsen mobil di China kini terus tergerus akibat kenaikan biaya bahan baku, melemahnya skala produksi, dan perlambatan pasar kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV).

Sekretaris Jenderal China Passenger Car Association (CPCA), Cui Dongshu menyatakan, margin laba penjualan industri otomotif China periode Januari-April 2026 turun menjadi 3,4 persen atau mencapai level terendah  untuk periode tersebut.

Dalam laporan CPCA, pendapatan industri otomotif China selama empat bulan pertama 2026 mencapai 3,3129 triliun yuan atau sekitar USD488 miliar. Pendapatannya hanya naik 1,1 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.

Sementara biaya industri meningkat lebih cepat sebesar 2 persen menjadi 2,9404 triliun yuan atau sekitar USD433 miliar.

Kondisi tersebut mengakibatkan laba industri otomotif China anjlok 17 persen menjadi 111,9 miliar yuan (USD16,5 miliar).

Data historis juga menunjukkan, profitabilitas industri otomotif China terus menurun dalam tiga tahun terakhir.

Margin laba industri tercatat sebesar 4,3 persen pada 2024, turun menjadi 4,1 persen pada 2025, lalu merosot menjadi 3,4 persen pada Januari-April 2026.

Tekanan utama datang dari lonjakan biaya bahan baku, terutama lithium karbonat yang menjadi komponen penting dalam baterai kendaraan listrik.

Harga komoditas global yang masih tinggi, juga memperbesar tekanan biaya di sektor manufaktur otomotif.

Laporan CPCA juga menyebut, keuntungan besar di sektor pertambangan hulu justru membebani produsen kendaraan di sektor tengah dan hilir.

Sepanjang Januari-April 2026, rata-rata pendapatan industri per kendaraan mencapai 342 ribu yuan, naik 6 persen. Namun biaya rata-rata atau ongkos produksi per unit meningkat lebih tinggi sebesar 6,93 persen menjadi 303 ribu yuan.

Di sisi lain, laba kotor rata-rata per kendaraan di Tiongkok turun sebesar 12,1 persen menjadi hanya 12 ribu yuan.

Dari sisi produksi, industri otomotif China juga kehilangan momentum. Total produksi kendaraan selama empat bulan awal 2026 tercatat 9,7 juta unit, turun 5 persen secara tahunan.

Produksi kendaraan energi baru (NEV) mencapai 4,29 juta unit atau turun 4 persen, dengan tingkat penetrasi pasar sebesar 44 persen. Sementara produksi kendaraan berbahan bakar konvensional turun lebih dalam yakni sebesar 6 persen menjadi 5,41 juta unit.

Melemahnya volume produksi membuat manfaat skala ekonomi semakin menurun. Akibatnya, tekanan amortisasi biaya tetap terhadap produsen otomotif menjadi lebih besar.

Meski begjtu, terdapat sedikit perbaikan pada April 2026. Margin laba industri pada bulan tersebut naik menjadi 3,7 persen dibandingkan rata-rata Januari-Maret yang berada di level 3,2 persen.

Dampak Terhadap Industri Otomotif Global

Pelemahan profitabilitas industri otomotif China berpotensi memicu persaingan harga yang semakin agresif di pasar global.

Produsen otomotif China diprediksi akan memperluas pasar ekspor untuk menjaga utilisasi pabrik dan mempertahankan arus kas.

Strategi tersebut dapat memperketat kompetisi dengan merek Jepang, Korea Selatan, Eropa, hingga Amerika Serikat, terutama di segmen kendaraan listrik harga terjangkau dan menengah.

Selain itu, tekanan biaya bahan baku baterai juga berpotensi memengaruhi harga kendaraan listrik (EV) global. Jika harga lithium dan komoditas strategis tetap tinggi, produsen otomotif dunia akan menghadapi tantangan dalam menentukan harga kendaraan yang kompetitif. (*) 
 

 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HA
Jurnalis

Harun Rasyid

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait