KABARBURSA.COM – Ambisi Tiongkok mempercepat elektrifikasi truk berat berpotensi membawa dampak besar bagi industri kendaraan niaga Indonesia.
Jika strategi tersebut berhasil menekan konsumsi diesel di Negeri Tirai Bambu, produsen truk listrik China dinilai akan semakin kompetitif dan siap menantang dominasi merek Jepang di pasar Asia Tenggara.
Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu mengatakan dampak keberhasilan elektrifikasi truk di China tidak hanya akan dirasakan di sektor energi domestik negara tersebut, tetapi juga dapat mengubah peta persaingan industri kendaraan niaga regional.
“Jika China berhasil menekan konsumsi diesel melalui elektrifikasi truk, dampaknya ke Indonesia akan besar,” kata Yannes kepada KabarBursa.com, Jumat, 19 Juni 2026.
Menurut dia, skala produksi yang besar dan perkembangan teknologi yang semakin matang akan membuat produsen China memiliki keunggulan kompetitif dalam pengembangan kendaraan niaga listrik.
Truk Listrik China Kian Kompetitif
Sekadar informasi, China saat ini menargetkan kendaraan listrik mencapai 40 persen dari penjualan truk berat baru pada 2030 dan sekitar 20 persen dari total armada nasional.
Target tersebut didukung berbagai insentif pemerintah, kapasitas manufaktur yang besar, serta pengembangan ekosistem kendaraan listrik yang masif.
Jika target tersebut tercapai, Yannes menilai produsen China akan memperoleh keuntungan dari skala ekonomi yang lebih besar sehingga biaya produksi kendaraan dapat terus ditekan.
“Dari sisi industri, truk listrik China tentunya bakal semakin murah, matang, dan siap diekspor ke Asia Tenggara,” tuturnya.
Kondisi itu berpotensi memperkuat posisi merek-merek China ketika mulai masuk lebih agresif ke pasar kendaraan niaga di kawasan, termasuk Indonesia.
Selama ini kendaraan niaga nasional masih didominasi oleh pemain Jepang yang telah membangun jaringan penjualan dan layanan purnajual selama puluhan tahun.
Dominasi Hino, Fuso, dan Isuzu Terancam
Masuknya truk listrik China dengan harga yang semakin kompetitif dinilai dapat menjadi tantangan baru bagi merek-merek yang selama ini menguasai pasar kendaraan komersial Indonesia.
“Ini dapat menekan dominasi puluhan tahun brand Jepang seperti Hino, Fuso, dan Isuzu di pasar kendaraan niaga Indonesia,” ungkapnya.
Menurut Yannes, ancaman tersebut tidak hanya datang dari sisi harga, tetapi juga perkembangan teknologi kendaraan listrik yang terus mengalami kemajuan.
Jika biaya baterai terus turun dan kapasitas produksi meningkat, produsen China berpotensi menawarkan kendaraan niaga dengan biaya operasional yang lebih rendah dibandingkan truk diesel konvensional.
Kondisi itu dapat mengubah preferensi konsumen, khususnya perusahaan yang mengoperasikan armada dalam jumlah besar dan sensitif terhadap efisiensi biaya operasional.
Indonesia Hadapi Dilema Energi
Di sisi lain, percepatan elektrifikasi kendaraan niaga di China juga berpotensi memunculkan tantangan baru bagi kebijakan energi Indonesia.
Saat ini pemerintah masih mengandalkan program biodiesel melalui implementasi B40 dan rencana pengembangan B50 sebagai bagian dari strategi mengurangi ketergantungan terhadap impor solar.
Namun perkembangan truk listrik di pasar global dapat menghadirkan alternatif yang berbeda dari pendekatan tersebut.
“Dari sisi energi, Indonesia akan menghadapi dilema karena masih mendorong B40/B50 sebagai strategi pengurangan impor solar,” katanya.
Menurut Yannes, biodiesel masih akan memainkan peran penting dalam beberapa tahun ke depan karena infrastruktur kendaraan listrik untuk sektor logistik berat belum berkembang secara luas.
Meski demikian, dalam jangka menengah pemerintah dan pelaku industri dinilai perlu mulai memperhitungkan dampak perkembangan kendaraan niaga listrik terhadap strategi transportasi nasional.
“Dalam jangka pendek, biodiesel tetap menjadi jembatan utama, tetapi dalam jangka menengah, truk listrik China dapat memaksa Indonesia meninjau ulang strategi energi transportasi dan kesiapan industri kendaraan niaga nasionalnya,” tuturnya.
Jika penetrasi truk listrik China semakin besar di pasar regional, tantangannya tidak hanya menyangkut persaingan antarprodusen kendaraan.
Indonesia juga perlu memastikan industri otomotif nasional, infrastruktur energi, dan kebijakan transportasi mampu beradaptasi terhadap perubahan yang sedang berlangsung di sektor kendaraan niaga global.(*)