Otomotif 21 Jun 2026 Penulis: Citra Dara Vresti Trisna Editor: Moh. Alpin Pulungan

Pengamat Ingatkan Ancaman Krisis Kepercayaan pada EV Bekas

Ketidakakuratan indikator kesehatan baterai dinilai berisiko menekan nilai jual kembali dan menghambat perkembangan pasar EV bekas.

Pasar mobil listrik bekas berisiko kehilangan kepercayaan jika kondisi baterai sulit diverifikasi. Hal ini dapat menekan resale value EV.

Ilustrasi ancaman penjualan mobil listrik bekas akibat transparansi kondisi baterai. Foto: dok KabarBursa.com
Ilustrasi ancaman penjualan mobil listrik bekas akibat transparansi kondisi baterai. Foto: dok KabarBursa.com

Daftar Isi

  1. 01 Pembeli Sulit Membedakan Baterai Sehat dan Bermasalah
  2. 02 Adopsi EV Baru Bisa Melambat

KABARBURSA.COM – Pasar kendaraan listrik (electric vehicle/EV) bekas di Indonesia berisiko menghadapi krisis kepercayaan apabila kondisi baterai sulit diverifikasi secara akurat. Risiko tersebut mencuat setelah sebuah penelitian terhadap 1.114 kendaraan listrik dari lima produsen menemukan bahwa indikator State of Health (SOH) bawaan pabrikan kerap gagal mencerminkan kondisi baterai yang sebenarnya.

Temuan tersebut menimbulkan kekhawatiran baru bagi pasar mobil listrik bekas yang masih berada pada tahap awal perkembangan di Indonesia. Pasalnya, kondisi baterai menjadi faktor utama yang menentukan nilai kendaraan listrik setelah digunakan selama beberapa tahun.

Pengamat otomotif, Yannes Martinus Pasaribu, menilai persoalan transparansi baterai dapat menjadi tantangan serius jika tidak segera diantisipasi.

“Pasar EV bekas Indonesia berisiko menghadapi masalah transparansi baterai. Jika indikator SOH bawaan pabrikan tidak akurat, pembeli tidak bisa memastikan kondisi baterai sebenarnya,” kata Yannes kepada KabarBursa.com, Jumat, 19 Juni 2026.

Menurut dia, ketidakjelasan kondisi baterai dapat membuat konsumen kesulitan menilai kualitas kendaraan yang akan dibeli. Berbeda dengan mobil bermesin pembakaran internal yang kondisi mesinnya dapat diperiksa melalui berbagai indikator teknis, kendaraan listrik sangat bergantung pada kesehatan baterai yang tidak selalu mudah diukur oleh konsumen umum.

Pembeli Sulit Membedakan Baterai Sehat dan Bermasalah

Yannes menjelaskan bahwa konsumen Indonesia umumnya sangat memperhatikan nilai jual kembali atau resale valuesebelum membeli kendaraan baru.

Karena itu, ketidakpastian mengenai kondisi baterai berpotensi menciptakan persepsi negatif terhadap seluruh pasar kendaraan listrik bekas.

“Ini berbahaya karena konsumen Indonesia sangat memperhitungkan resale value sebelum membeli mobil baru. Tanpa data baterai yang dipercaya, EV bekas bisa terkena diskon risiko besar, bahkan ketika baterainya masih sehat,” ujarnya. 

Menurut dia, situasi tersebut dapat membuat kendaraan listrik bekas kehilangan nilai lebih cepat dibanding kondisi yang seharusnya.

Pembeli yang tidak memiliki informasi memadai cenderung meminta potongan harga lebih besar untuk mengantisipasi risiko kerusakan baterai di masa depan. Akibatnya, kendaraan dengan baterai yang masih baik pun berpotensi dihargai lebih rendah dari nilai wajarnya.

Yannes menilai, dampak yang lebih besar adalah munculnya ketidakpercayaan secara menyeluruh terhadap pasar kendaraan listrik bekas.

Jika konsumen tidak memiliki alat atau standar yang dapat dipercaya untuk menilai kondisi baterai, seluruh kendaraan listrik bekas berisiko dipersepsikan memiliki risiko yang sama.

“Akibatnya, pasar dapat berubah menjadi pasar yang menghukum semua unit EV karena pembeli tidak mampu membedakan unit baik dan buruk,” tuturnya.

Dalam kondisi seperti itu, harga kendaraan listrik bekas berpotensi mengalami tekanan lebih besar dibanding kendaraan konvensional.

Padahal di negara-negara dengan pasar EV yang lebih matang, sejumlah produsen dan lembaga independen mulai mengembangkan sertifikasi kesehatan baterai untuk memberikan gambaran yang lebih akurat kepada calon pembeli.

Adopsi EV Baru Bisa Melambat

Akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) itu mengingatkan bahwa persoalan ini tidak hanya berdampak pada pasar kendaraan bekas, tetapi juga dapat memengaruhi penjualan kendaraan listrik baru.

Menurut dia, kekhawatiran terhadap nilai jual kembali merupakan salah satu pertimbangan utama konsumen saat memutuskan membeli kendaraan.

“Risiko ini dapat memperlambat adopsi EV baru karena konsumen kita masih takut depresiasi terlalu dalam pada resale value kendaraannya saat mereka akan mebeli kendaraan baru,” ujarnya.

Kondisi tersebut dapat menjadi tantangan tambahan bagi industri kendaraan listrik nasional yang saat ini sedang berupaya memperluas pasar.

Jika konsumen tidak yakin terhadap nilai jual kembali kendaraan listrik, mereka berpotensi menunda pembelian atau tetap memilih kendaraan konvensional yang memiliki pasar bekas lebih matang.

Karena itu, transparansi kondisi baterai dinilai akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan pengembangan pasar kendaraan listrik di Indonesia.

Tanpa standar pengukuran yang dapat dipercaya, pertumbuhan pasar mobil listrik bekas berisiko tertahan dan pada akhirnya menghambat percepatan adopsi kendaraan listrik secara keseluruhan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
CI
Ass. Redaktur

Citra Dara Vresti Trisna

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait