KABARBURSA.COM – Pelemahan pasar otomotif China mulai memakan korban di Eropa. Penurunan daya beli di China memaksa BMW memangkas proyeksi kinerja tahun 2026. Sebelumnya, pabrikan otomotif asal Jerman ini harus menelan pil pahit lantaran pasar di Eropa dan Amerika Serikat (AS) juga sedang lesu.
Produsen mobil premium juga memangkas target margin bisnis otomotifnya dan memicu reaksi negatif pasar. Akibat penurunan margin ini membuat saham BMW sempat anjlok sekitar 8 persen pada perdagangan awal di Frankfurt, Rabu, 17 Juni 2026.
Peringatan laba yang diumumkan BMW pada Selasa malam, 16 Juni 2026, menjadi sinyal bahwa tantangan yang dihadapi industri otomotif global tidak lagi terbatas pada perlambatan ekonomi atau transisi kendaraan listrik.
Persaingan yang semakin ketat di China kini mulai menggerus keuntungan produsen mobil premium yang selama bertahun-tahun menjadikan negara tersebut sebagai mesin pertumbuhan.
Sekadar informasi, selama lebih dari dua dekade, China menjadi salah satu pasar paling penting bagi BMW. Pertumbuhan kelas menengah dan tingginya minat terhadap kendaraan premium menjadikan negara itu sumber kontribusi besar bagi penjualan dan profitabilitas perusahaan.
Namun, kondisi tersebut mulai berubah. Perang harga yang berlangsung di pasar otomotif China, ditambah meningkatnya daya saing produsen lokal, membuat tekanan terhadap produsen asing semakin besar.
Melansir dari Reuters, Rabu, 17 Juni 2026, Analis Deutsche Bank menilai revisi proyeksi yang dilakukan BMW mengejutkan pasar karena selama ini perusahaan dikenal sebagai salah satu produsen mobil premium yang paling stabil di Eropa.
“Selama ini dikenal sebagai ‘steady Eddy’ di antara para pesaingnya,” kata analis.
Penilaian tersebut sekaligus menunjukkan reputasi BMW sebagai produsen yang relatif konsisten menjaga profitabilitas dibanding sejumlah rivalnya. Karena itu, pemangkasan proyeksi laba kali ini dipandang sebagai sinyal bahwa tekanan di pasar China telah mencapai tingkat yang lebih serius.
Merek China Mengubah Peta Persaingan
Tekanan terhadap BMW juga datang dari kuatnya posisi produsen lokal China di segmen kendaraan premium dan elektrifikasi. Jika sebelumnya pasar premium didominasi merek asing seperti BMW, Mercedes-Benz, dan Audi, kini konsumen China memiliki lebih banyak pilihan dari merek domestik yang menawarkan teknologi kendaraan listrik dengan harga yang lebih kompetitif.
Analis otomotif Matthias Schmidt melihat perubahan tersebut tidak hanya berdampak di pasar China, tetapi juga berpotensi memengaruhi persaingan di pasar internasional.
"Kita bisa melihat pabrikan China semakin agresif ke Eropa," kata Schmidt dalam komentar yang dikutip Reuters pada Rabu, 17 Juni 2026.
Menurut Schmidt, pelemahan pasar domestik dapat mendorong produsen China mempercepat ekspansi ke luar negeri. Kondisi itu berpotensi menambah tekanan bagi produsen mobil Eropa yang selama ini mengandalkan pasar regional sebagai benteng utama bisnis mereka.
BMW Mulai Pertimbangkan Restrukturisasi
Di tengah tekanan tersebut, BMW mulai mempertimbangkan berbagai langkah untuk menjaga profitabilitas. Seorang juru bicara BMW mengatakan perusahaan masih mengevaluasi berbagai opsi yang tersedia untuk menghadapi perubahan kondisi pasar.
"Terlalu dini untuk mengomentari langkah ke depan, tetapi pengurangan kapasitas sedang dipertimbangkan," ujar juru bicara BMW dalam pernyataan yang dikutip Reuters pada Rabu, 17 Juni 2026.
Pernyataan tersebut memperkuat pandangan sejumlah analis bahwa BMW kemungkinan perlu melakukan penyesuaian kapasitas produksi guna menyesuaikan diri dengan kondisi pasar yang berubah.
Analis JP Morgan bahkan memperkirakan BMW dapat memangkas kapasitas produksi sekitar 10 hingga 15 persen. Langkah tersebut diperkirakan berpotensi menjadi bagian dari strategi jangka menengah yang akan dibahas perusahaan pada agenda Capital Markets Day mendatang.
Masalah yang dihadapi BMW juga dinilai mencerminkan tantangan yang lebih luas bagi industri otomotif Jerman. Produsen kendaraan Eropa saat ini menghadapi kombinasi tekanan dari perlambatan pasar China, persaingan teknologi kendaraan listrik, serta perubahan pola perdagangan global yang selama ini menjadi fondasi model bisnis mereka.
"Model ekspor tradisional yang selama bertahun-tahun menopang industri otomotif Jerman sudah tidak lagi bekerja," kata Blume Chief Executive Officer Volkswagen dalam pernyataan yang dikutip Reuters pada 17 Juni 2026.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa tekanan yang dihadapi BMW bukanlah kasus yang berdiri sendiri. Industri otomotif Jerman secara keseluruhan tengah menghadapi kebutuhan untuk menyesuaikan strategi bisnis di tengah perubahan lanskap persaingan global.
Kondisi yang kini dialami BMW menjadi salah satu contoh paling nyata dari pergeseran tersebut. Jika selama bertahun-tahun China menjadi sumber pertumbuhan bagi produsen mobil premium Eropa, kini pasar yang sama justru berubah menjadi medan persaingan yang menekan margin keuntungan dan memaksa perusahaan meninjau ulang strategi bisnisnya.(*)