Otomotif 10 May 2026 Penulis: Citra Dara Vresti Trisna Editor: Moh. Alpin Pulungan

Tensi Perang Dagang AS-China Meninggi, Rantai Pasok EV Terancam

Ketegangan dagang terbaru antara AS dan China mulai mengguncang rantai pasok kendaraan listrik, teknologi, dan mineral strategis dunia.

Perang dagang AS-China kembali memanas usai Trump perluas tarif dan sanksi, memicu ancaman pada industri EV dan rantai pasok global.

Ilustrasi perang dagang antara AS dan China berdampak ke sektor otomotif. Foto: dok KabarBursa.com
Ilustrasi perang dagang antara AS dan China berdampak ke sektor otomotif. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump memperluas kebijakan tarif dan sanksi terhadap Beijing.

Ketegangan terbaru itu mulai mengguncang rantai pasok global, terutama di sektor kendaraan listrik, teknologi, dan mineral strategis.

Mengutip Reuters, Selasa, 6 Mei 2026, konflik dagang terbaru antara Washington dan Beijing kini tidak lagi hanya berkutat pada tarif barang konsumsi seperti periode pertama Trump, tetapi telah meluas ke sektor energi, rare earth, kendaraan listrik, semikonduktor, dan teknologi strategis lainnya.

Reuters melaporkan, pemerintahan Trump mulai menjatuhkan sanksi terhadap kilang-kilang China yang membeli minyak Iran. Langkah tersebut memicu respons keras dari Beijing.

Sebagai balasan, pemerintah China mulai menggunakan undang-undang anti-sanksi untuk melawan daftar hitam Amerika Serikat dan menyiapkan pembatasan ekspor teknologi panel surya. Negeri Tirai Bambu itu juga mulai memanfaatkan dominasi mereka di rantai pasok mineral kritis sebagai alat tekanan dalam konflik dagang terbaru ini.

“China memiliki posisi yang sangat kuat dalam rare earth dan mineral strategis,” tulis Reuters.

Mineral tersebut menjadi bahan penting dalam industri kendaraan listrik, baterai, elektronik, hingga teknologi pertahanan. Ketergantungan industri global terhadap pasokan Tiongkok membuat ketegangan dagang terbaru mulai memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas rantai pasok manufaktur dunia.

Reuters menyebut, perang dagang kali ini jauh lebih kompleks dibanding konflik dagang pada periode pertama Trump karena kini melibatkan geopolitik, energi, dan teknologi tinggi secara bersamaan.

Pemerintah AS juga terus berupaya mengurangi ketergantungan industrinya terhadap China melalui relokasi manufaktur dan pembatasan investasi.

Di sisi lain, Beijing mulai memperluas pasar ekspornya ke kawasan Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar Amerika Serikat.

Meski hubungan kedua negara kembali memanas, komunikasi tingkat tinggi antara Washington dan Beijing masih berlangsung. Reuters melaporkan Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng beberapa kali melakukan pembicaraan untuk menjaga stabilitas hubungan ekonomi kedua negara.

Namun masing-masing pihak masih saling menuduh melanggar kesepakatan dagang yang sebelumnya dicapai dalam sejumlah perundingan internasional.

Konflik di Timur Tengah juga ikut memperumit hubungan AS-China. Reuters melaporkan perang Iran membuat ketegangan geopolitik semakin tinggi dan memperbesar tekanan terhadap perdagangan global serta pasokan energi dunia.

“Trump bahkan sempat menunda rencana kunjungannya ke Beijing akibat perang Iran sebelum akhirnya dijadwalkan ulang pada Mei,” tulis Reuters.

Ketegangan dagang terbaru itu mulai mempengaruhi industri otomotif global, terutama sektor kendaraan listrik yang sangat bergantung pada rantai pasok China.

China saat ini masih mendominasi pasokan rare earth, bahan baku baterai, dan berbagai komponen penting kendaraan listrik dunia. Karena itu, konflik dagang AS-China dinilai dapat memicu kenaikan biaya produksi dan mempercepat relokasi manufaktur global ke negara-negara alternatif di Asia.

Bagi Indonesia, situasi tersebut dinilai memiliki dua sisi sekaligus. Di satu sisi, konflik dagang dapat membuka peluang masuknya investasi manufaktur dan kendaraan listrik ke Asia Tenggara. Namun di sisi lain, gangguan rantai pasok global juga berpotensi meningkatkan tekanan biaya industri domestik.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
CI
Ass. Redaktur

Citra Dara Vresti Trisna

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait