Syariah 07 Apr 2026 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

COAL Bentuk Anak Usaha saat Saham Masih Tertahan di Level Bawah

COAL dirikan entitas pelayaran dengan modal Rp2 miliar, namun pergerakan saham masih stagnan di tengah tekanan supply pada orderbook.

COAL dirikan anak usaha pelayaran BDS, kinerja keuangan mulai pulih, namun saham masih bergerak terbatas di level 56.

COAL dirikan anak usaha di tengah saham yang bergerak sempit dan kinerja keuangan yang mulai pulih. (Foto: dok COAL)
COAL dirikan anak usaha di tengah saham yang bergerak sempit dan kinerja keuangan yang mulai pulih. (Foto: dok COAL)

Daftar Isi

  1. 01 Saham Bergerak Sempit
  2. 02 Kinerja Keuangan Mulai Diperbaiki
  3. 03 Anak Usaha tidak Berdampak Material

KABARBURSA.COM – Langkah PT Black Diamond Resources Tbk (COAL) mendirikan entitas anak baru mulai membuka arah ekspansi yang bergerak keluar dari inti bisnisnya. 

Pada 29 Maret 2026, COAL resmi membentuk PT Black Diamond Shipping (BDS), dengan kepemilikan hampir penuh sebesar 99,95 persen dari total modal disetor Rp2 miliar.

Direktur Utama COAL Donny Janson Manua, dalam keterbukaan informasi, menyatakan pembentukan entitas ini ditujukan untuk memperluas lini usaha, khususnya di sektor transportasi laut dan jasa pendukung pelayaran. 

“Tidak ada dampak material terhadap kegiatan operasional, kondisi keuangan, dan kelangsungan usaha,” ujarnya, Selasa, 7 April 2026.

Struktur usaha BDS mencakup berbagai aktivitas maritim, mulai dari angkutan laut barang dalam dan luar negeri, pengelolaan kapal, jasa keagenan, hingga penyewaan alat transportasi air. 

Cakupan ini menunjukkan arah diversifikasi yang terhubung langsung dengan rantai distribusi logistik, terutama untuk kebutuhan pengangkutan komoditas.

Saham Bergerak Sempit

Sayangnya, pergerakan saham COAL pada hari yang sama belum menunjukkan respons signifikan. Harga ditutup di level 56 atau stagnan, tanpa perubahan dari posisi sebelumnya. 

Bahkan sepanjang sesi, saham bergerak dalam rentang sempit antara 54 hingga 57, dengan volume transaksi mencapai 411,64 ribu lot dan nilai Rp2,3 miliar.

Struktur orderbook juga memperlihatkan distribusi antrian yang relatif berat di sisi penawaran. Total offer tercatat sebesar 552.415 lot dengan frekuensi 889 kali, lebih besar dibandingkan total bid 463.788 lot dengan frekuensi 770 kali. 

Pada lapisan harga terdekat, tekanan jual terlihat menumpuk di level 56 hingga 61, dengan antrian terbesar berada di level 57 sebesar 60.218 lot dan 60 sebesar 61.578 lot.

Di sisi bawah, antrian beli tersebar cukup tebal di level 50 hingga 54, dengan akumulasi terbesar berada di level 50 sebesar 191.212 lot dan 54 sebesar 102.286 lot. 

Komposisi ini menunjukkan adanya keseimbangan antara minat beli dan jual, namun dengan kecenderungan supply yang masih lebih dominan di area atas harga.

Kinerja Keuangan Mulai Diperbaiki

Dari sisi kinerja keuangan, COAL mencatatkan pola yang berfluktuasi sepanjang 2024 hingga 2025. Pada kuartal III 2025, COAL mencatat pendapatan sebesar Rp78 miliar dengan laba bersih Rp14 miliar. 

Angka ini meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencatat laba bersih Rp12 miliar, namun masih berada di bawah capaian kuartal III 2024 sebesar Rp16 miliar.

Jika ditarik lebih dalam, perbaikan laba pada 2025 terjadi setelah tekanan yang cukup dalam pada akhir 2024, yaitu ketika perusahaan mencatat rugi bersih Rp10 miliar di kuartal IV. 

Pada kuartal I hingga III 2025, laba bersih masing-masing berada di Rp5 miliar, Rp12 miliar, dan Rp14 miliar. Artinya, ada pemulihan bertahap dalam kinerja operasional.

Dari sisi profitabilitas, margin juga mengalami perbaikan. Laba usaha pada kuartal III 2025 tercatat Rp12 miliar, dengan laba sebelum pajak Rp14 miliar. Sementara itu, EBITDA pada periode yang sama berada di Rp24,23 miliar, sedikit lebih tinggi dibandingkan Rp23,68 miliar pada kuartal sebelumnya.

Indikator rasio juga menunjukkan penguatan dibandingkan periode sebelumnya. Return on equity tercatat 3,57 persen pada kuartal III 2025, naik dari 3,20 persen di kuartal II. Interest coverage berada di level 3,22 kali, menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menutup beban bunga tetap terjaga.

Anak Usaha tidak Berdampak Material

Dalam konteks tersebut, pembentukan BDS muncul di tengah fase pemulihan kinerja keuangan yang belum sepenuhnya stabil. Dengan fokus pada sektor logistik maritim, entitas baru ini berada dalam jalur yang berkaitan dengan distribusi komoditas, yang selama ini menjadi bagian dari rantai nilai bisnis COAL.

Di sisi lain, tidak adanya dampak material yang disampaikan perusahaan menunjukkan bahwa kontribusi entitas ini masih berada pada tahap awal. Dengan modal disetor Rp2 miliar, skala operasional BDS masih relatif kecil dibandingkan total aset dan aktivitas bisnis COAL secara keseluruhan.

Pergerakan saham yang cenderung datar, ditambah struktur orderbook yang masih menunjukkan tekanan di sisi penawaran, memperlihatkan bahwa pasar belum merespons aksi korporasi ini secara signifikan pada perdagangan hari tersebut.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait