Syariah 19 Jan 2026 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Emiten Sandiaga Uno (SRTG) Terus Lego Saham NRCA, Ada Pesan Apa?

Divestasi dilakukan saat harga NRCA berada dalam fase koreksi, dengan struktur orderbook menunjukkan tarik-menarik antara bid yang menahan dan supply yang masih membayangi kenaikan jangka pendek.

SRTG melepas saham NRCA di tengah koreksi tajam. Harga masuk fase transisi dengan support 1.200 dan resistance 1.260–1.280, mencerminkan konsolidasi pasca reli

Aksi lego saham NRCA ini telah membuat SRTG mengumpulkan dana lebih dari Rp913,5 juta. Foto: Dok Saratoga Investama Sedaya.
Aksi lego saham NRCA ini telah membuat SRTG mengumpulkan dana lebih dari Rp913,5 juta. Foto: Dok Saratoga Investama Sedaya.

Daftar Isi

  1. 01 Aksi Ambil Untung?
  2. 02 NRCA di Fase Transisi

KABARBURSA.COM – PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) kembali memangkas kepemilikannya di PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA). Berdasarkan laporan kepemilikan saham per 19 Januari 2026, Saratoga melepas 750.000 saham NRCA pada 14 Januari 2026 dengan harga pelaksanaan Rp1.218 per saham, atau setara nilai transaksi sekitar Rp913,5 juta. 

Dengan transaksi ini, porsi kepemilikan Saratoga turun dari 6,0155 persen menjadi 5,9855 persen.

Secara nominal, nilai dan jumlah saham yang dilepas memang tidak besar. Namun, timing transaksi ini penting untuk dibaca dalam konteks pergerakan harga. Sejak awal Desember 2025, NRCA sudah memasuki fase koreksi yang cukup dalam. 

Dari level Rp1.780 pada 19 Desember 2025, harga NRCA sempat turun lebih dari 34 persen hingga menyentuh area Rp1.170 pada perdagangan 19 Januari 2026. Dalam sepekan terakhir saja, saham ini sudah melemah hampir 14 persen dari posisi Rp1.360.

Artinya, divestasi Saratoga terjadi bukan di puncak reli, melainkan di tengah fase pelemahan harga. Ini berbeda dengan pola distribusi klasik di mana pemegang saham besar biasanya melepas kepemilikan di area euforia. Dalam kasus NRCA, pelepasan dilakukan saat pasar sedang dalam mode koreksi.

Namun, konteks yang lebih besar menunjukkan bahwa ini bukan transaksi yang berdiri sendiri. Saratoga sudah mulai mengurangi eksposurnya di NRCA sejak akhir November 2025. 

Berdasarkan data KSEI, transaksi pertama dilakukan pada 21 November 2025, lalu berlanjut dengan penjualan 4,9 juta saham pada 1 Desember 2025. Secara akumulasi, Saratoga telah melepas sekitar 21,3 juta saham, sehingga membuat porsinya menyusut signifikan dibandingkan sebelumnya.

Aksi Ambil Untung?

Jika ditarik lebih jauh, aksi jual ini juga terjadi setelah NRCA mengalami lonjakan harga ekstrem sepanjang 2025. Dari sisi performa jangka panjang, saham ini sempat mencetak kenaikan lebih dari 250 persen dalam satu tahun dan bahkan menembus 300 persen dalam tiga tahun terakhir. 

Ini menunjukkan bahwa secara struktural, NRCA telah melalui fase revaluasi besar-besaran.

Namun, data price performance terbaru menunjukkan perubahan karakter. Dalam satu bulan terakhir, NRCA terkoreksi lebih dari 37 persen. Ini bukan sekadar retracement ringan, melainkan koreksi yang cukup tajam untuk ukuran saham konstruksi. 

Artinya, tekanan jual yang muncul bukan hanya dari fluktuasi harian, melainkan bagian dari proses normalisasi harga pasca reli panjang.

Jika dilihat dari perdagangan Senin, 19 Januari 2026, struktur orderbook NRCA memperlihatkan keseimbangan yang masih rapuh. Harga bergerak di kisaran Rp1.240 dengan kenaikan sekitar 4,6 persen, tetapi antrean jual masih relatif tebal di atas. 

Di sisi bid, minat beli terlihat cukup aktif di area 1.200–1.230, sementara di sisi offer, suplai mulai menumpuk di atas 1.250.

Ini menciptakan pola tarik-menarik antara pembeli yang mencoba menahan harga dan penjual yang masih memanfaatkan setiap kenaikan sebagai peluang keluar. Karakter ini konsisten dengan fase konsolidasi setelah koreksi, bukan fase akumulasi agresif.

Dari sisi psikologi pasar, aksi Saratoga dapat dibaca sebagai sinyal pengurangan eksposur, bukan keluar total. Status Saratoga bukan sebagai pengendali juga membuat transaksi ini tidak mengubah struktur kontrol, tetapi tetap relevan sebagai referensi sentimen. 

Investor besar yang mulai mengurangi porsi sering kali dibaca sebagai tanda bahwa upside jangka pendek mulai terbatas, meski bukan berarti tren jangka panjang langsung berbalik.

Dalam konteks rumor akuisisi oleh Prajogo Pangestu yang sempat beredar, koreksi harga yang terjadi justru menunjukkan bahwa pasar tidak sepenuhnya mengonfirmasi spekulasi tersebut. Jika rumor itu dianggap kredibel dan dekat realisasi, biasanya harga akan bertahan lebih stabil atau bahkan naik. 

Fakta bahwa NRCA justru terkoreksi dalam menunjukkan bahwa pasar masih skeptis dan belum mem-price-in skenario tersebut.

NRCA di Fase Transisi

Secara keseluruhan, performa NRCA saat ini sedang berada di fase transisi. Dari saham yang sebelumnya bergerak impulsif, kini masuk ke fase koreksi dan konsolidasi. Aksi jual Saratoga memperkuat narasi bahwa fase distribusi bertahap sedang berlangsung, bukan panic selling, tetapi juga bukan fase akumulasi besar.

Untuk jangka pendek, pergerakan NRCA lebih cenderung bersifat teknikal, dengan area 1.200 sebagai support psikologis dan zona 1.260–1.280 sebagai resistance awal. Selama tekanan jual dari pemegang besar belum sepenuhnya mereda, setiap kenaikan berpotensi dihadapkan pada suplai.

Dengan struktur seperti ini, NRCA saat ini lebih tepat dibaca sebagai saham yang sedang mencari keseimbangan baru setelah reli panjang, bukan saham yang langsung siap kembali ke fase impulsif.

Sedangkan SRTG, hingga sesi siang perdagangan hari ini, berada di zsona hijau dengan kenaikan harga di kisaran 1,65 persen atau 30 poin di level 1.850.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait