KABARBURSA.COM – Struktur kepemilikan saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) kembali menjadi perhatian pasar setelah perseroan melaporkan penurunan porsi saham free float pada April 2026.
Dalam laporan bulanan registrasi pemegang efek yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), free float PANI tercatat turun dari sebelumnya 11,02 persen menjadi hanya 7,96 persen pada akhir April 2026.
Penurunan tersebut terjadi ketika jumlah saham free float ikut menyusut dari sekitar 1,996 miliar saham menjadi sekitar 1,442 miliar saham. Padahal total saham tercatat perseroan masih tetap berada di level 18,117 miliar saham.
Artinya, ruang saham publik yang benar-benar dapat diperdagangkan di pasar semakin terbatas.
Di saat yang sama, pemegang saham pengendali PT Multi Artha Pratama masih menggenggam 15,234 miliar saham atau setara 84,09 persen kepemilikan di PANI. Komposisi tersebut tidak berubah dari bulan sebelumnya.
Dengan struktur seperti itu, pasar mulai melihat bahwa pergerakan saham PANI semakin dipengaruhi oleh ketatnya suplai saham publik di pasar reguler. Sebab ketika kepemilikan pengendali tetap dominan sementara porsi free float menyusut, jumlah saham yang benar-benar beredar di publik otomatis menjadi lebih terbatas.
Menariknya, penurunan free float ini terjadi bukan karena perubahan kepemilikan pengendali, melainkan akibat penyesuaian komponen saham publik yang dapat diperhitungkan sebagai free float sesuai ketentuan Bursa.
Dalam laporan tersebut, jumlah saham non-warkat milik pemegang saham kurang dari 5 persen memang masih tercatat sebesar 2,883 miliar saham. Namun tidak seluruhnya dapat dihitung sebagai free float efektif.
PANI mencatat terdapat saham yang berada dalam kategori pembatasan tertentu, termasuk saham milik perusahaan modal ventura dan private equity kurang dari 5 persen yang naik dari sekitar 886,95 juta saham menjadi sekitar 1,001 miliar saham pada April 2026.
Selain itu, terdapat pula saham lock-up sebesar 440 juta saham yang tidak diperhitungkan sebagai free float. Perseroan juga melaporkan adanya 148.200 saham yang berada dalam status sita atau blokir oleh otoritas berwenang.
Kondisi tersebut membuat free float efektif PANI turun cukup signifikan hanya dalam satu bulan.
Dalam laporan komposisi pemegang saham per 30 April 2026, saham publik dengan kepemilikan di bawah 5 persen memang masih tercatat sekitar 2,883 miliar saham atau setara 15,91 persen dari total modal ditempatkan dan disetor penuh.
Namun ketika dilakukan penyesuaian berdasarkan aturan Bursa terkait saham yang dapat dihitung sebagai free float, angka efektifnya turun ke kisaran 7,96 persen. Kondisi ini membuat struktur saham PANI menjadi semakin ketat dibanding sebelumnya.
Di tengah situasi tersebut, jumlah pemegang saham berbasis SID juga mulai turun. Data April 2026 menunjukkan jumlah investor pemegang SID PANI turun menjadi 52.316 dari sebelumnya 53.811 investor.
Bagi pasar, perubahan free float seperti ini biasanya mulai diperhatikan karena dapat mempengaruhi likuiditas perdagangan hingga sensitivitas pergerakan harga saham. Semakin kecil saham yang benar-benar beredar di publik, semakin besar pula pengaruh arus transaksi terhadap volatilitas harga di pasar reguler.
Apalagi PANI dalam beberapa waktu terakhir menjadi salah satu saham yang paling sering diperhatikan investor karena keterkaitannya dengan proyek pengembangan kawasan PIK 2 dan jaringan bisnis Agung Sedayu Group.(*)