KABARBURSA.COM – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mulai membuka jalur baru ke bisnis pusat data atau data center. Sektor ini belakangan ramai diburu grup konglomerasi hingga perusahaan teknologi global.
Ekspansi bisnis ini tidak main-main. BNBR memulai langkahnya dengan membeli sebuah lahan strategis seluas 1,67 hektare di Kalideres, Jakarta Barat. Nilai investasinya mencapai Rp500 miliar dan hal tersebut dilakukan melalui entitas afiliasinya, PT Multi Kontrol Nusantara (MKN).
Lahan itu diproyeksikan menjadi fasilitas inner city data center, model pusat data yang berada dekat pusat aktivitas perkotaan dan dinilai memiliki nilai strategis tinggi karena kebutuhan latensi rendah serta permintaan penyimpanan data yang terus meningkat.
Langkah ini menarik diperhatikan, apalagi BNBR tidak hanya masuk ke sektor baru, tetapi juga mulai mencoba masuk ke rantai bisnis digital yang pertumbuhannya masih besar di Indonesia.
Dalam catatan, masih ada lonjakan kebutuhan atas komputasi awan, kecerdasan buatan, hingga layanan digital. Ini yang membuat bisnis pusat data dipandang sebagai “lahan baru” yang potensial bagi emiten non-teknologi.
BNBR juga terlihat menyiapkan skema mitigasi risiko dalam transaksi tersebut. Perseroan memiliki klausul yang mewajibkan pihak penjual mengembalikan uang muka sebesar Rp152,4 miliar secara penuh tanpa potongan, apabila proyek gagal dilanjutkan.
Tekanan Jual Masih Ada
Meski narasi ekspansi ini cukup agresif, pergerakan saham BNBR di pasar justru masih memperlihatkan tekanan jual yang cukup besar. Pada perdagangan terakhir, BNBR terkoreksi 1,90 persen ke level 206 dan masih bergerak dalam tekanan distribusi.
Secara teknikal, MNC Sekuritas menilai posisi BNBR saat ini diperkirakan sedang berada di awal wave 3 dari wave (C), yang berarti saham ini masih berisiko melanjutkan pelemahan ke area 158 hingga 174.
MNC Sekuritas pun merekomendasikan strategi sell on strength pada area 212 hingga 216. Area tersebut dianggap sebagai titik yang rawan menjadi zona distribusi baru apabila tekanan jual kembali meningkat.
Offer Besar Menonjol di Orderbook
Tekanan tersebut juga terlihat jelas dari struktur orderbook perdagangan. Di sisi bid, antrean terbesar terlihat berada di level 200 dengan total 507.482 lot dan frekuensi 941 kali. Bid tebal lainnya muncul di level 202 sebanyak 317.827 lot.
Namun di sisi offer, tekanan jual terlihat jauh lebih besar. Antrian jual paling tebal menumpuk di level 214 dengan total 630.328 lot dan frekuensi mencapai 1.055 kali. Offer besar lainnya terlihat di level 218 sebanyak 418.980 lot, level 220 sebanyak 418.633 lot, serta level 216 sebesar 388.202 lot.
Lapisan jual juga masih terlihat padat di area 212 dengan total 348.040 lot dan level 224 sebanyak 357.087 lot. Struktur ini membuat ruang kenaikan BNBR saat ini masih cukup berat karena setiap kenaikan harga langsung berhadapan dengan supply besar di area atas.
Total antrean bid tercatat sekitar 2,07 juta lot dengan frekuensi 5.714 kali. Sementara total offer mencapai 5,45 juta lot dengan frekuensi 9.581 kali. Artinya, tekanan jual di orderbook BNBR saat ini lebih dari dua kali lipat dibanding kekuatan bid yang masuk.
Meski begitu, langkah BNBR masuk ke bisnis pusat data mulai memberi warna baru terhadap arah ekspansi perseroan. Pasar kini akan melihat apakah ekspansi tersebut mampu menjadi katalis jangka panjang atau justru membutuhkan waktu lebih panjang untuk diterjemahkan menjadi sentimen positif terhadap harga sahamnya.
Dalam jangka pendek, fokus pelaku pasar masih tertuju pada kemampuan BNBR bertahan di atas area MA20 dan menghadapi lapisan offer besar di area 212 hingga 220. Sebab selama supply masih menumpuk di area atas, pergerakan saham ini berpotensi tetap bergerak volatil.(*)